Pada akhirnya, Anya menghabiskan malam pertamanya dengan tidur di sofa. Masih di dalam kamar Kevan karena pintu kamar itu dikunci hingga Anya tak bisa membukanya, membuatnya tak bisa bermalam di kamar yang lain.
Ketika Anya bangun di waktu subuh, tiba-tiba saja sudah ada selimut yang membungkusnya. Padahal tadi malam Anya berbaring di sofa tanpa mengandalkan selimut, kebetulan penghangat ruangan di kamar ini tak akan membuat Anya mati kedinginan meski musim dingin masih berlangsung. Begitu alarm biologis Anya membangunkan dirinya, dia mendapati dirinya sudah di dalam kelumun selimut saja.
Kevankah yang menyelimutinya?
Anya lalu melihat kamar sudah kosong. Jerapah jadi-jadian itu sudah tak ada di kasurnya. Apa dia sedang mandi? Melihat jam saat ini menunjukkan pukul 4.30 pagi, Anya berpikir mungkin saja Kevan sudah berangkat ke masjid.
Segera Anya melesat ke kamar mandi untuk mengecek kebenaran dari dugaannya. Begitu mendapati kamar mandi itu kosong, keyakinan Anya menjadi kuat.
Sesuai dugaannya sejak awal, Kevan memang seorang pria yang disiplin. Di luar kegilaannya, dia benar-benar sosok yang bertekad kuat. Dia juga totalitas terhadap sesuatu yang berada dalam tanggung jawabnya. Padahal pria itu mau mualaf agar bisa menikah dengan Anya. Tapi alasan itu tak membuatnya lengah terhadap tanggung jawabnya.
Tak heran mengapa Kevan bisa memimpin banyak proyek besar di umur yang masih tergolong muda. Privilege dari Heisenberg hanya bonus. Disiplin dan tekad bajanyalah yang membuatnya bisa menjadi nomor satu dan tak terkalahkan.
Akan lebih baik jika Kevan menyadari bahwa semua kelebihannya itu adalah anugerah dari Tuhan. Tapi tampaknya Kevan sudah mulai menyadari semua itu? Buktinya dia benar-benar totalitas mengemban tugas-tugas wajibnya sebagai seseorang yang beragama.
Di depan cermin wastafel kamar mandi, Anya mulai merenung. Dia menatap pantulan dirinya di cermin saat sedang sikat gigi. Jika Kevan bisa totalitas begitu, bagaimana dengan Anya?
Apa tidak mengapa, dia menolak Kevan dan membuat pria itu menahan hasratnya?
Tatapan Anya berubah tajam. Tentu saja tidak mengapa! Siapa suruh menikahi wanita yang tak ingin dinikahi secara paksa?
Bagaimanapun, Kevan harus merasakan sebab-akibat yang dia ciptakan sendiri.
**
Tepat setelah Anya menyelesaikan zikir paginya, Kevan akhirnya pulang. Anya seperti tersedak entah apa begitu mendapati Kevan ternyata mengenakan jubah putih khas Timur-Tengah. Tak hanya itu, Kevan melengkapi busana Timur-Tengahnya dengan memakai sorban sekaligus.
Kalau saja Kevan berjambang dan berjenggot lebat, Anya pasti tidak dapat mengenali Kevan.
"Pfft." Anya menahan tawanya. Dia semakin merasa geli begitu melihat ekspresi Kevan tampak tidak terima kalau Anya menertawakannya.
"Apa yang kautertawakan?"
"Kau ... benar-benar totalitas, ya?"
Sejenak berpikir, Kevan akhirnya menyadari bahwa Anya ternyata sedang menertawakan pakaiannya. Langsung saja Kevan amati dirinya sendiri, lalu menatap Anya dengan wajah datar. "Apa yang salah dengan ini?"
"Nothing bad, but ...." Anya terkekeh. "Kau tidak malu?"
"Sejauh ini aku belum pernah merasa malu."
"Kau tidak peka karena kau tidak pernah peduli pandangan orang lain. Tapi itu bagus. Lagi pula, tidak ada yang salah dengan pakaianmu. Itu pakaian Nabi. Hanya saja ... kau tidak harus memakai itu. Karena kau publik figur, apa pun yang kaukenakan, itu akan memengaruhi image-mu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bitter Sweet Pervert
Romance"Beri aku kebebasan mutlak atas tubuhmu." Anya Snow adalah seorang detektif partikelir yang berfokus memata-matai kasus perselingkuhan. Suatu malam, Kevan sang CEO yang sedang naik daun tiba-tiba bertamu ke kantor Anya, memintanya untuk mencari seor...
