Anya tak memiliki ide untuk membalas apa yang baru saja Karl ceritakan. Semua orang mengakui keberadaan Karl sebagai pelindung untuk Kevan, namun di saat yang sama mereka juga menyalahkan Karl karena bukannya membuat masalah Kevan berkurang, Karl justru membuat masalah baru dan rumit.
Meski Anya sangat membenci Karl, tetap saja Anya tak bisa menampik rasa empatinya terhadap penderitaan Karl selama ini sebagai orang yang paling bertanggungjawab dalam menyimpan semua memori pahit yang Kevan alami. Meski begitu, menjadi jahat demi melampiaskan rasa sakit yang tidak akan dimengerti orang lain, tetap saja tak pernah dibenarkan.
"Duduklah." Karl menarik bangku untuk Anya. Pria yang rapi dalam kemeja dan celana panjang itu terlihat tengah melayani Anya tanpa terpaksa. "Apa wanita hamil boleh minum wine?" tanyanya saat menuangkan botol anggur ke gelas.
"Aku tidak minum alkohol," jawab Anya yang masih tetap berdiri meski kursi sudah disediakan untuknya.
"Karena kau hamil?"
Anya hanya diam.
"Kalau begitu, aku saja yang minum. Tapi aku punya susu. Apa kau mau susu?"
Anya masih diam. Saat Karl menatapnya, Anya kian menekan sorotnya lebih tajam lantaran rasa tidak habis pikirnya pada sosok Karl yang sangat tak bisa ditebak.
"Kenapa menatapku begitu?"
Anya tak menjawab. Dia lantas duduk di kursinya, mengambil air putih untuk dia minum.
Menyeringai sekilas, Karl segera ikut duduk di seberang Anya.
"Aku tidak punya bakat memasak. Tapi sepertinya masakanku tidak terlalu buruk? Apa kau suka daging rusa, Nona Snow?"
Anya masih tak bersuara. Dia mengambil piring untuk dirinya sendiri, mengambil nasi kacang merah dan melengkapinya dengan salad. Dia tak mengambil daging meski daging itu masih berasap dan tampak lezat.
"Janin malang itu tidak boleh kekurangan nutrisi dari daging," kata Karl sambil meletakkan satu potong daging besar ke piring Anya. "Walaupun kau akan lebih dulu mati sebelum janin itu lahir, setidaknya nanti kau kan bisa melihat janinmu tumbuh sehat di surga karena sebelum mati kau makan daging dulu."
Anya hanya menatap Karl dengan dingin. Karena Karl ini orang gila, Anya tak perlu membuang-buang energi untuk menanggapinya. Sebab dia pun sudah sangat lelah.
Anya lantas mencoba menyicipi makanan yang telah dimasak Karl untuknya. Rasanya tidak buruk, tidak sampai membuat Anya langsung merasa ingin meludahi makanan itu.
Lagi-lagi, di saat seperti ini, Anya tiba-tiba teringat Kevan. Suaminya itu, sangat berbakat dalam urusan makanan.
"Apa Erleen benar-benar sudah mati?" tanya Karl tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan itu, Anya yang sejak tadi diam sontak membalas dengan bengis, "Ya. Dia bunuh diri karena kau, brengsek!"
Meski dimaki berkali-kali oleh Anya, Karl entah mengapa sangat tenang kali ini. Seakan-akan dia sedang mengumpulkan energi untuk membalas Anya di waktu yang tepat.
"Hmm. Padahal aku sungguh-sungguh menyukainya." Karl mengaduk makanannya tanpa minat. "Andai aku lebih berbakat dalam urusan percintaan .... Yah, walaupun aku jadi pria yang baik, Kev tetap tidak akan memberiku kesempatan untuk hidup berdampingan dengannya, kan? Padahal, Kev bisa memilih cara damai dengan menikahi kau dan Erleen sekaligus."
Anya mendesis, "Kau gila."
"Terima kasih pujiannya."
"Kenapa tidak kau saja yang tenggelam? Alih-alih Kev, bukannya lebih patut untukmu menghilang selama-lamanya?" Anya benar-benar tak bisa menahan diri untuk tidak memaki sosok lain suaminya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bitter Sweet Pervert
Romansa"Beri aku kebebasan mutlak atas tubuhmu." Anya Snow adalah seorang detektif partikelir yang berfokus memata-matai kasus perselingkuhan. Suatu malam, Kevan sang CEO yang sedang naik daun tiba-tiba bertamu ke kantor Anya, memintanya untuk mencari seor...
