Sebenarnya, ini bukan pertama kali bagi Kevan mendengar seruan azan. Samar-samar, kadang dia juga pernah mendengar, tapi dia tak pernah berpikir untuk mencari tahu seruan apa itu—sebab di Cezar sudah banyak sekali sekte agama yang menyerukan agama mereka lewat selebaran.
Lantaran doktrin-doktrin yang menyapanya dirasa konyol, Kevan jadi memutuskan untuk tak sibuk mencari tahu keberadaan Tuhan karena dia percaya bahwa itu adalah sesuatu yang tak bisa dijangkau oleh akal. Namun, dia tak akan bisa menikah dengan Anya jika dia tak menyingkirkan paham agnostiknya itu.
"Ini dia, ibadah siang. Namanya salat Zuhur. Wanita sepertiku lebih baik melakukannya di rumah, tapi kau harus melakukannya di masjid."
"Apa aku akan melakukannya sekarang?"
"Tidak, tidak semudah itu. Masih belum."
Kevan melihat Anya berjalan meninggalkannya. Saat dia menyusul, Anya langsung berbalik dan menghadang Kevan dengan sebelah tangannya.
"Kau belum bisa ikut. Tunggulah di mobil. Nanti kalau sudah selesai, aku panggil."
"Katanya wanita sepertimu lebih baik melakukannya di rumah?"
"Iya, tapi bukan berarti aku tidak boleh beribadah di sini."
"Kalau begitu aku harus ikut. Aku akan menunggumu di dalam."
"Tidak boleh. Kau pasti akan berdiri di sampingku sampai ibadah selesai, 'kan?"
"Tentu saja."
Anya memijit pelipisnya. Entah sejak kapan, dia merasa dirinya sedang mengasuh seorang anak.
"Tunggulah sebentar. Kau tidak akan mati hanya karena menunggu sebentar."
Akhirnya, Kevan pasrah ditinggal sendirian oleh Anya. Begitu Anya menghilang dari pandangannya, Kevan lantas berbalik dan berjalan menghampiri mobilnya. Mungkin memang lebih baik untuknya menunggu sebentar. Apa dia merokok saja, ya?
Aduh. Dia kan, sedang belajar untuk tidak merokok lagi. Demi kesehatan jangka panjang, Morgan—sekretarisnya—melarang keras sang pimpinan agar tidak merokok dan tidak minum alkohol lagi.
Walaupun Morgan tak punya mata super yang bisa mengawasi Kevan 24 jam, Kevan tetap menghargai perhatian kecil itu dengan berusaha menahan diri untuk tidak melakukan larangan yang Morgan tegaskan.
Padahal Morgan itu selalu panas-dingin kalau sudah berhadapan dengan Kevan. Tapi kalau sudah masuk urusan kesehatan dan jadwal pekerjaan, Morgan bisa lebih menakutkan dari siapa pun.
Itu mengingatkan Kevan pada ibunya.
Dulu, Kevan selalu mengabaikan ibunya. Mana pernah dia mau menggunakan kupingnya untuk mendengar ibunya berbicara. Kevan benci orang lemah yang cerewet, dan kebetulan ibunya persis seperti itu. Percobaan bunuh diri yang dilakukan ibunya kemudian menjadi tombak yang menyadarkan Kevan secara sadis.
Setelah ibunya memilih diam dalam tidur yang panjang, Kevan baru merasa sepi. Tak ada yang lebih perhatian padanya dari siapa pun, selain ibunya. Dan Kevan sudah menyia-nyiakan hal itu sepanjang hidupnya yang tak berharga.
Karena itulah, jika ada orang yang mau memberi perhatian padanya dengan tulus, sekecil apa pun itu, Kevan akan menghargainya sepenuh hati.
Tak lama kemudian, Kevan melihat orang-orang yang tadinya berjalan masuk ke masjid, kini sudah keluar dan berpencar. Mata elang Kevan mencari sosok Anya, dan dia menemukannya. Wanita itu melangkah dengan terburu-buru, membuat Kevan ingin segera turun dari mobilnya untuk menghampiri Anya.
Saat Kevan sudah memegang knop pintu, dia malah tiba-tiba bergeming. Pria itu akhirnya mengurungkan niatnya untuk turun. Biar saja Anya yang datang menghampirinya. Dia ingin melihat wanita itu bersusah-payah untuknya sesekali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bitter Sweet Pervert
Romantik"Beri aku kebebasan mutlak atas tubuhmu." Anya Snow adalah seorang detektif partikelir yang berfokus memata-matai kasus perselingkuhan. Suatu malam, Kevan sang CEO yang sedang naik daun tiba-tiba bertamu ke kantor Anya, memintanya untuk mencari seor...
