Tiga Puluh Satu

11.9K 607 2
                                        

Setelah mobil Kevan sampai di depan rumah Anya, Anya segera bergegas mengambil paperbag berisi pakaian dan tasnya, kemudian membuka pintu mobil untuk turun. Seharian ini dia benar-benar menghabiskan waktu bersama Kevan, dan itu membuatnya lelah. Anehnya, Anya juga seperti menemukan sesuatu yang baru. Dan dia masih belum tahu itu apa.

"Terima kasih," ucap Anya sambil melongok ke kaca jendela mobil begitu dia sudah keluar. "Kuharap besok kau tidak menggangguku lagi."

"Tenang saja. Aku akan menjemputmu seminggu lagi, untuk mengurus persiapan resepsi. Rencananya seminggu ini aku ingin fokus belajar dengan Murphy dulu, sekalian mengurus dokumen pernikahan kita. Tolong nanti kirimkan semua dokumenmu ke email-ku. Pokoknya ponselmu jangan sampai mati."

"Apa hanya itu?"

Diam sebentar, Kevan bertanya, "Apa tidak ada ciuman?"

"Kalau kucium pakai sepatu, mau?"

"Tidak, aku masih belum segila itu."

Anya tersenyum sinis. Lekas dia angkat punggungnya, lalu berbalik meninggalkan mobil Kevan tanpa berkata-kata lagi. Saat dia membuka pintu rumahnya, telinganya masih belum mendengar suara mesin mobil Kevan berlalu. Hingga ketika Anya masuk ke rumahnya, baru Kevan membawa mobilnya pergi.

Anya berbalik membelakangi pintu, lalu berjongkok dan bersandar. Perasaannya berat dan kacau. Sebentar lagi dia akan menikah untuk yang kedua kali, itu membuatnya terombang-ambing entah bagaimana.

Walaupun Kevan sudah melakukan apa pun untuknya, sampai serius mempelajari agama, entah mengapa Anya masih merasa berat.

Anya masih belum tahu siapa Kevan sebenarnya.

Anya masih belum tahu motif Kevan sebenarnya.

Anya juga masih belum tahu apa yang terjadi dengan dirinya dan Kevan dua tahun lalu hingga Kevan sebegitu terobsesi padanya.

Mending kalau Kevan memang betul-betul mencintai Anya. Tapi tidakkah ini semua terlalu berlebihan? Sementara Anya tahu, sesuatu yang berlebihan akan jadi bumerang sewaktu-waktu.

Skenario terburuknya, bagaimana jika Kevan memiliki motif lain, yang keburukannya tak dapat Anya takar dengan asumsinya?

Anya ingin hidup tenang, tapi dia tak bisa lepas dari masalah ini. Akan lebih baik jika dia tak ada hubungan dengan kelompok mafia besar. Akan lebih baik jika dia sejak lahir berstatus sebagai rakyat biasa. Kalaupun dia dikejar oleh Kevan hingga ke ujung dunia, tak akan ada orang seperti Thomas dan Jasver yang akan ikut campur.

Lagi-lagi, Anya tak bisa tak memikirkan orang lain. Betapa Kevan sangat egois sampai-sampai membombardir kehidupan Anya yang semula sudah mulai tenang menjadi kacau begini hanya karena obsesi pribadi.

Apa tak ada cara lain untuk lepas dari semua ini? Sebelum terlambat, mungkinkah ada cara yang bisa Anya lakukan untuk kabur?

Anya sudah mencoba lari, tapi apa yang terjadi? Pada akhirnya Kevan tetap menemukannya.

Anya menghela napas. Dia memikirkan cara untuk melarikan diri, tapi dia sendiri merasa kalau perasaannya mulai aneh. Sudut hatinya berbisik, bukankah tidak masalah jika dia mencoba membiarkan Kevan masuk ke dalam hidupnya?

Mungkin saja hidupnya yang monoton akan berubah ....

Tapi bagaimana jika Kevan menjadi orang ke sekian yang akan menghancurkannya sekali lagi?

Sejenak memejam mata, Anya lalu membuka matanya kembali. Tak ada yang bisa dia lakukan. Suka tidak suka, mau tidak mau, Anya harus menghadapi hidupnya. Terserah apa yang akan terjadi nanti. Anya akan menghadapinya dengan berani.

Bitter Sweet PervertCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang