Tujuh Puluh Tujuh

7.6K 551 17
                                        

Spesial dua bab untuk kamu yang sudah setia menunggu.

**

Saking merasa sakit dan marah, Anya rasa-rasanya bahkan tidak bisa menangis lagi.

Di situasi seperti ini, dia benar-benar merindukan Kevan. Meski Kevan tidak jauh-jauh darinya, kenyataannya hanya fisik saja yang dekat. Sementara jiwa pria itu entah sedang di mana.

"Kau mau makan di sini, atau makan bersamaku di dapur?" tanya Karl yang baru masuk ke kamar. Sejak pagi tadi, dia tak kembali ke kamar dan baru muncul saat hari sudah gelap untuk menyalakan lampu kamar tempat Anya diikat.

"Aku ingin buang air," kata Anya lemah. "Aku juga ingin mandi. Lalu ibadah. Tolong lepaskan aku."

"Boleh saja. Tapi kau harus membiarkanku ikut bersamamu."

Anya sontak mendongak dan menatap Karl bengis. "Kaupikir aku masih punya tenaga untuk membunuhmu? Simpan ketakutanmu dan cepat lepaskan borgol sialan ini, brengsek!"

Karl tersenyum miring. "Aku tidak takut soal itu, Nona Snow. Tidak sama sekali. Aku hanya ingin memastikan kalau kau tidak akan menggunakan kesempatan untuk bunuh diri."

Sejenak menatap Karl dengan kebencian menyala, Anya lantas membalas, "Kau benar-benar berniat membunuhku dengan tanganmu sendiri? Kalau begitu, lakukanlah sekarang!"

"Jangan buru-buru. Kalau sudah tiba waktunya, tanpa kauminta pun aku akan langsung membunuhmu."

Karl mengeluarkan tangan kanannya yang sejak tadi menyuruk di saku celana panjangnya. Dia juga sekaligus mengeluarkan sebuah kunci.

Anya tak melepaskan pandangannya dari Karl saat pria itu membuka borgol yang membelenggu kedua tangan dan kaki Anya sejak tadi. Begitu terbuka semuanya, Anya menunggu Karl beranjak dari kasur dan kembali pada posisinya semula. Baru setelah itu, Anya mengusapi masing-masing pergelangan tangannya yang terasa perih.

Anya tak tahu apa yang sedang Karl tunggu, tapi Anya tak peduli. Sejak pagi dia dibelenggu tanpa diberi kesempatan ke kamar mandi. Hampir-hampir dia tak peduli jika dia akhirnya buang air di kasur, tapi untunglah Karl masih berbaik hati membiarkan Anya menggunakan kewarasannya untuk buang air di tempat yang seharusnya.

Anya lantas beringsut turun dari kasur. Baru saja dia berdiri, tubuhnya yang terasa sangat lemas sudah langsung terhuyung. Kalau saja lengan kekar milik Kevan tak sigap menyambut tubuh Anya, Anya pasti sudah terjerembap ke lantai.

"Apa kau berniat menggodaku dengan cara seperti ini, Nona Snow?"

Anya yang tengah syok karena kondisinya yang lemah, sontak mendapatkan kekuatannya kembali begitu mendengar sindiran Karl di dekat telinganya. Dia mendorong dada Karl sekuat tenaga.

Hati Anya campur-aduk. Betapa dia ingin memanggil Kevan sekencang mungkin agar Kevan muncul dan mengambil alih. Namun, seberapa persen cara itu akan bekerja? Kevan bahkan tak menghentikan Karl saat kepribadiannya yang lain tanpa punya hati memerkosa Anya saat Anya dalam keadaan pingsan.

Sambil membawa perasaan beratnya, Anya mencoba melangkah lagi. Beberapa langkah, dia masih sanggup. Tapi akhirnya dia terhuyung lagi.

Padahal Anya sudah memejam matanya untuk menyambut lantai yang keras. Namun, sekali lagi, Karl menyambut tubuhnya dengan cepat.

"Kau benar-benar mengharapkan simpatiku, ya?" sinis Karl. Dalam sekejap, dia mengangkut tubuh Anya sebagaimana seorang ayah menggendong balitanya. Lalu membawa Anya segera ke kamar mandi.

"Apa yang kaulakukan? Lepaskan aku, brengsek!"

Karl hanya diam. Sampai di kamar mandi, dia lantas menurunkan tubuh Anya di bilik shower.

Bitter Sweet PervertCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang