Empat Puluh Empat

10.7K 514 2
                                        

"Tunggu, apa yang kaulakukan!?"

"Apa lagi? Tentu saja bermain dengan pria dewasa."

Kevan tampak panik. Sebenarnya dia tak masalah bercinta gratis dengan wanita mabuk, hanya saja sebentar lagi akan ada rapat pelantikan CEO baru. Kevan tak mau membayangkan hal-hal yang merepotkan sebelum hari pelantikan itu datang.

Bukankah repot jika di saat pelantikan, Anya malah tiba-tiba mengaku hamil anak Kevan!?

Anya bangkit dari tubuh Kevan, lalu turun dari ranjang. Dengan tatapan lekatnya kepada Kevan, wanita itu tertawa tidak jelas. Level mabuknya benar-benar merepotkan. Seberapa persen wanita itu akan ingat dengan apa yang dia lakukan ketika sudah sadar nanti?

"Aku juga bisa menari untukmu, Paman."

Sambil mendudukkan diri dari baringnya, Kevan memasang wajah datar saat bertanya, "Aku memang lebih tua tujuh tahun darimu, tapi aku masih belum pantas kaupanggil paman."

"Sudahlah, dari tadi mulutmu lemas sekali. Pria dewasa tidak boleh cerewet."

Kevan tak melepaskan pandangannya dari Anya saat wanita itu melepas dress sedengkulnya, meninggalkan bra dan celana pendek yang mencetak pinggul dan area selangkangnya. Kevan pikir Anya akan berhenti di sana, tapi Anya malah dengan santainya melepas bra dan celana terakhirnya sambil tertawa!

"Wanita gila," desis Kevan. Kalau sudah begini, apa boleh buat. Tak mungkin dia akan menyalahi kodratnya sebagai lelaki. Walaupun dia seorang aseksual, bukan berarti dia tak akan terpancing jika ikan besar mendekati dirinya secara sukarela.

Rambut tergerai Anya yang lurus dengan ujung roll tampak cocok untuk wanita berwajah oval seperti Anya. Kulitnya lebih terang dari eksotis, namun lebih gelap dari putih oriental. Matanya cokelat terang, dengan hidung mancung dan bibir seksi merah muda. Dia berbeda dari ras kaukasoid yang biasa Kevan temui.

Di sepanjang pantai terkenal Cezar, mudah untuk mendapati wanita-wanita berjalan hanya dengan bikini. Sudah menjadi konsumsi bagi pria di sana melihat wanita-wanita seksi. Kevan pun sudah terbiasa dengan itu. Kecuali malam itu, dia seperti melihat sesuatu yang berbeda.

"Apa ini? Kau tidak berkedip sama sekali, Paman," ledek Anya usai mondar-mandir dengan high heels-nya, sementara tubuhnya sudah polos tanpa sehelai benang. "Apa baru kali ini kau melihat orang gila pakai high heels?"

"Ya," jawab Kevan, masih dengan ekspresi datar. "Baru kali ini."

Anya tertawa lagi. Dia lantas berjalan menghampiri Kevan, lalu meletakkan kedua lututnya di kiri dan kanan paha Kevan; berlutut mengurung posisi Kevan yang masih duduk di tepi ranjang. Wajah Kevan masih tak menunjukkan ekspresi berarti saat dia mendongak menatap Anya. Pembawaannya yang dingin dengan tatapan yang dalam itu, menyihir Anya dalam sekejap.

"Fuck me, please."

Sudut bibir Kevan tersungging samar. "Kuharap kau tidak menangis setelah ini."

Kevan lantas merengkuh tengkuk Anya sembari memeluk Anya erat, mencium wanita itu tepat di bibirnya. Anya dengan gairah yang sama, lantas menyambut ciuman itu sama liarnya. Perisa pahit dan sepat alkohol dari lidah masing-masing menjadi citarasa tersendiri. Mereka lantas menarik bibir masing-masing agar bisa bernapas setelah ciuman teruk berlangsung lumayan lama.

Kevan dan Anya saling menatap dengan ekspresi yang sama; sama-sama takjub akan gairah yang mereka ciptakan dari ciuman intens mereka itu. Tangan kanan Kevan yang besar dan ramping kemudian mulai meraba-raba dengan penasaran, lalu sampai di sebelah buah dada Anya.

Tatapan Kevan yang seakan meminta izin, tak ayal membuat Anya terkekeh. Dia lantas membimbing tangan Kevan agar tidak ragu meremas dadanya.

"Kau punya pacar?" tanya Anya saat Kevan mulai memusatkan perhatiannya pada bawah perut Anya.

Sambil meraba paha wanita itu, Kevan menjawab, "Waktu itu ada." Kevan mendongak saat melanjutkan, "Sekarang aku tidak butuh lagi."

Anya menatap Kevan lekat-lekat. "Kenapa tidak butuh lagi?"

"Jangan menanyakan alasan dari sebuah alasan. Tidak butuh, berarti tidak butuh."

Anya menyeringai. Dia lihat Kevan kembali menatap pusat dirinya, membuat Anya berbisik, "Apa ini pertama kalinya untukmu?"

"Kau bisa menebaknya."

Tercenung, Anya lantas berbisik, "Sentuhlah."

Kevan sempat diam. Hampir-hampir tangannya terangkat untuk menyentuh pusat bahaya itu, namun dia urung. Dia lalu mendongak dan menatap wajah bingung Anya.

"Kenapa aku harus menyentuh itu?"

Tercengang, Anya sontak tertawa keras. "Ayolah! Kau tidak serius menanyakan itu, 'kan?"

Melihat ekspresi datar Kevan, Anya kian merasa bahwa Kevan sama sekali tidak bercanda. Seiring tawa Anya mereda, dia mulai menatap Kevan dengan lembut dan dalam.

"Hei," bisik Anya pelan. "Apa aku menarik?"

Saat itu Kevan diam, sebab dia tak mengerti apa maksud Anya menanyakan itu.

"Apa menurutmu ... aku cantik? Seksi?"

Dalam sekejap, dunia menjadi sangat serius. Kevan pun tak dapat mengelak hingga situasi itu membuatnya harus menjawab dengan jujur.

"Kau menarik," jawab Kevan, membuat ekspresi Anya langsung berubah. "Kau juga cantik."

Sejenak diam, Anya kian tersenyum. Bukan senyum gila lagi. Melainkan senyum pahit, seakan-akan dia berduka dengan jawaban itu.

Seakan-akan, dia merasa sakit akan jawaban itu.

"Kalau begitu ... lalu kenapa," ucapnya tercekat, "kenapa dia lebih memilih ibuku?"

Kevan diam. Perasaan tak nyaman mulai menggerayanginya saat dia lihat air mata Anya menitik. Sedangkan wanita itu tampak kebingungan.

"Kalau di mata pria lain aku bisa terlihat menarik, kenapa suamiku tidak bisa melihat itu?"

Apa maksudnya?

Apa suami Anya, berselingkuh dengan ibu Anya sendiri?

Mungkinkah Anya bernasib sama dengan Kevan?

Anya tak dapat menahan tangisnya. Di pangkuan Kevan, dia duduk sambil terisak sendirian. Rasa-rasanya mereka memiliki patah hati yang sama, namun mengapa Kevan tak pernah bisa menangis seperti Anya menangis?

"Mungkin kau pernah terlihat menarik di matanya," kata Kevan, membuat Anya menatap padanya. "Tapi perasaan mudah berubah. Kau tidak bisa memaksa seseorang untuk tetap mencintaimu."

Anya seperti terkunci saat Kevan membantu mengusap air matanya, lalu mengapit dagunya dengan lembut.

"Alih-alih melihat kekurangan diri, lebih baik kau percaya pada dirimu sendiri. Walaupun di matanya, wanita lain lebih menarik, bukan berarti kau tidak menarik. Itu hanya cara kecil supaya kau bisa dipertemukan dengan pria yang akan mencintaimu secara jujur; yang akan tetap menganggapmu cantik walaupun kau sudah keriput."

Air mata Anya menitik lagi. Namun di saat yang sama dia malah tertawa. Tapi tatapannya pada Kevan masih terkesan hangat. Seolah-olah dia meledek dan menghargai Kevan di saat yang bersamaan.

"Apa aku boleh berharap pria itu kau, Paman?"

Kevan tersenyum samar. "Kau mau denganku?"

"Kurasa Paman tidak buruk?"

"Kalau begitu, dewasalah sedikit lagi," balas Kevan sambil menuntun Anya untuk beranjak dan berdiri. Dia pungut pakaian dalam dan dress Anya, lalu menyerahkannya pada empunya. "Kau butuh pemikiran dewasa untuk memahami diriku."

.

Bitter Sweet PervertCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang