Sejenak, Anya berusaha menelaah apa yang sedang terjadi.
Pertama-tama, dirinya saat ini sedang dalam pose merangkak di atas tubuh Kevan. Kedua, dia tak dapat mengalihkan pandangannya dari wajah Kevan. Ketiga, jarak yang dekat membuatnya menyadari kalau wajah Kevan seperti tak ada pori-pori.
Bolehkah Anya bertanya di mana Kevan melakukan perawatan wajah secara rutin?
"Bagaimana? Aku tampan, 'kan?" tanya Kevan tiba-tiba, tak ayal menyentak lamunan Anya. Pria itu lantas menyeringai saat melanjutkan, "Kau bisa melihat wujudku lebih tampan lagi saat aku berada di atasmu."
Anya mendesah sinis. "Kalau itu terjadi, aku pasti akan terus menutup mataku."
Ketika Anya hendak bangkit, Kevan spontan merengkuh pinggang Anya hingga Anya mendarat di tubuh Kevan lebih intens. Anya yang melotot pun sekuat tenaga mencoba lepas, setidaknya dada mereka jangan menempel. Tapi Kevan yang sudah memasang senyum kemenangan itu, lekas menggunakan tangan yang lain untuk merengkuh punggung Anya hingga membuat Anya sepenuhnya mendarat di atas tubuh Kevan.
Tak puas dengan itu, Kevan juga menggunakan kakinya untuk mengunci kaki Anya, menjadikan Anya seolah-olah adalah guling.
Wajah Anya yang berhadapan langsung dengan wajah Kevan dengan jarak tipis seperti ini membuat Anya merasa bahwa ini adalah akhir dari hidupnya.
"Lepas," desis Anya dengan ekspresi mengancam. Tapi kapan Kevan pernah merasa terancam oleh ancaman Anya?
Sesaat, Anya menahan napasnya dari napas mentol yang menguar saat Kevan mendesah sinis. Tapi tak mungkin dia bisa menahan napasnya terus-terusan, bukan?
"Kau ... benar-benar dingin, ya?" gumam Kevan. Dilihat dari dekat, mata abu-abunya begitu indah. Dengan bulu matanya yang panjang itu, pesona iris abu-abunya jadi bertambah. Sepasang alisnya yang tebal membuat semuanya jadi sempurna.
Anya jadi tiba-tiba penasaran bagaimana kehidupan pernikahan Martin dan Priscilla saat mereka melihat anak mereka tumbuh seperti kuncup bunga yang merekah. Tidakkah mereka saling bangga dan bersyukur satu sama lain karena telah melahirkan mahakarya seperti Kevan?
"Aku penasaran seperti apa pernikahanmu dulu. Apa kau juga sedingin ini dengan suami pertamamu?"
Anya mengetepikan ketakjubannya dan tersenyum miring. "Tentu saja tidak. Aku lebih romantis dari siapa pun."
"Kenapa denganku kau tidak bisa begitu?"
"Entahlah? Mungkin karena kau sinting?" Tiba-tiba Anya memasang ekspresi dingin usai sebelumnya tersenyum miring. "Karena kau sinting, tolong lepaskan aku sekarang juga."
Sambil tetap merengkuh pinggang Anya erat, Kevan menggunakan tangannya yang lain untuk menyelipkan helai rambut Anya ke belakang daun telinga wanita itu. Tingkahnya yang tak dapat dimengerti itu, tak ayal membuat Anya terpegun.
"Kalau mau kulepas, cium aku dulu." Pria ini benar-benar banyak maunya. "Sejak menikah, kita belum pernah ciuman, 'kan?"
"Ciumanku berpotensi membuat orang alergi."
"Alergi apa pun itu, asal bisa berciuman denganmu, aku akan menghadapinya dengan senang hati."
Anya berdesis. "Sinting ...."
"Cepat lakukan, sebelum aku kepikiran ide lain." Kevan memejam matanya sambil tersenyum. Tampaknya dia benar-benar mengharapkan ini. "Karena kau janda, kau pasti sudah paham tekniknya."
Anya lihat wajah Kevan dengan saksama. Demi bisa lepas dari jerat berbahaya ini, Anya merasa harus menuruti Kevan kali ini. Pelan-pelan, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hampir-hampir hidung mereka bersentuhan kalau saja Anya tidak mendaratkan bibirnya di tempat yang salah.
Cup.
Alih-alih mencium bibir, Anya malah justru mengecup dagu Kevan. Spontan saja mata Kevan terbuka. Senyum senangnya tadi seketika luntur, dan dia mulai menatap Anya dengan tatapan tak habis pikir.
"Menempatkan bibir ke dagu, itu sama saja seperti kau menempatkan vaginamu ke lututku. Sama sekali tidak berguna," ujar Kevan tidak suka. Membuat Anya ikut memasang ekspresi yang sama.
"Bagaimana bisa pria dengan otak terbalik sepertimu duduk memimpin perusahaan besar? Apa kau mengandalkan boneka jenius untuk menutupi betapa bodoh kau sebenarnya? Lagi pula kau kan tidak bilang harus mencium apa! Kau hanya minta aku untuk menciummu! Mencium dagu kan juga termasuk mencium! Apa aku salah?"
"Sa ... lah." Kevan membuat jeda di tengah-tengah jawabannya. "Lakukan dengan benar. Cium aku di bibirku. Harus intens, dan gunakan lidahmu untuk itu."
Anya berdesis kesal.
"Lagi-lagi kau berdesis. Sebentar lagi kau akan jadi ular," ledek Kevan. "Sebelum jadi ular, cepat cium aku dulu. Kau juga tidak mau kan, berlama-lama dalam posisi seperti ini? Bagaimanapun, kau masih muda. Mustahil kau tidak terangsang saat bokongmu diremas, apalagi dalam posisi seperti ini."
"Teruslah mengoceh. Aku akan menjadi wanita yang baik; yang tidak akan mencium bibirmu demi melindungimu dari alergi."
"Alergi apa pun itu, aku akan menikmatinya. Cepatlah. Sebelum kesabaranku habis."
Lama menunggu Anya yang tak kunjung bergerak, tatapan Kevan kian kosong. Di saat yang sama sorotnya memaksa masuk ke kornea Anya dan mengobrak-abrik hati Anya hingga Anya merasa aneh.
"Apa yang membuatmu masih begitu enggan?" tanya Kevan, tepat menancap sudut hati Anya. "Kau tidak berniat menutup hatimu rapat-rapat dari pria sampai mati, 'kan? Atau ... apa ada hal lain yang masih belum bisa kupenuhi? Kurasa aku sudah memenuhi semua keinginanmu?"
"Kau menculik dan mengancamku. Kau juga memaksa aku untuk menikah denganmu. Dan kau masih bertanya?" balas Anya tak habis pikir. "Orang waras mana yang langsung membuka hati untuk pria yang sudah mengubah paksa hidup seseorang?"
"Well, aku tau caraku ekstrem, tapi apa kau tau kenapa aku bisa seperti itu? Itu karena kau ...."
Anya mendesah sinis. "Kau hidup hanya untuk menyalahkan orang lain, ya?"
"Coba lihat mataku." Nada rendah suara Kevan mengusik Anya entah bagaimana. "Apa kau tidak bisa melihat bagaimana selama ini aku memandangmu?"
"Tidak bisa. Entah kenapa kalau sudah soal itu aku tiba-tiba buta."
"Sebentar saja, coba lihat aku dengan sudut pandang yang berbeda. Biarkan aku masuk ke dalam hatimu. Tidak akan ada pria mana pun yang mau melakukan semua hal untukmu selain aku, tapi karena kau tidak mengharapkannya, kau tidak perlu berterimakasih. Hanya saja ... apa aku tidak boleh berharap?"
Anya diam.
"Aku menyukaimu; tubuhmu, semua hal tentangmu. Aku ingin berbagi soal duniaku hanya denganmu. Aku tau pasti sulit untukmu melihatku dengan perasaan yang sama, tapi kau bisa mencoba."
"Sudah cukup bicaranya? Punggungku pegal."
"Kau benar-benar tidak mendengar, ya ...." Kevan menghela napas. "Ya sudah, terserah."
Anya lantas menggunakan kesempatan untuk bangkit begitu Kevan melepasnya. Kevan juga ikut bangkit, lalu pergi begitu saja. Sepertinya pria itu merajuk lagi, tapi Anya tak peduli. Itu justru adalah hal bagus. Setidaknya Anya bisa membiarkan jantungnya berdetak dengan normal selama beberapa hari ke depan—sampai Kevan datang kembali dengan kegilaannya.
Harusnya Anya merasa lega dan senang. Tapi aneh; kenapa dia merasa sangat bersalah?
Apakah itu tandanya, Kevan berhasil memanipulasi Anya hingga Anya bertanya-tanya soal persepsinya?
Ataukah Anya merasa bersalah karena telah membohongi perasaannya sendiri?
KAMU SEDANG MEMBACA
Bitter Sweet Pervert
Roman d'amour"Beri aku kebebasan mutlak atas tubuhmu." Anya Snow adalah seorang detektif partikelir yang berfokus memata-matai kasus perselingkuhan. Suatu malam, Kevan sang CEO yang sedang naik daun tiba-tiba bertamu ke kantor Anya, memintanya untuk mencari seor...
