Lima puluh Delapan

8.5K 493 0
                                        

Setelah melewati ritual malam dengan panas, ternyata Kevan tak langsung tidur. Dia berbaring di tempatnya, menatap Anya yang sedang sibuk mengetik laporan di laptopnya.

Dengan posisi baring menyamping, Kevan menopang kepalanya dengan sebelah tangan. Sementara sebelahnya lagi dia pakai untuk menyisir rambut Anya yang tergerai, lalu menyelipkannya ke belakang daun telinga.

Anya menoleh dan menatap Kevan sejenak, lalu kembali fokus pada layar laptopnya.

"Biasanya kau langsung tepar," celetuk Anya. "Tidurlah. Aku membutuhkanmu besok."

Karena Kevan tak mengatakan apa pun, Anya terpaksa menoleh lagi. Ternyata Kevan masih menatapnya lekat-lekat. Tatapan yang tenang dan dalam itu, lambat-lambat membuat Anya kikuk. Siapa yang tak gugup bila ditatap seperti itu oleh mata indah Kevan?

Sontak Anya alihkan pandangannya kembali kepada layar laptop.

"Kalau kau punya waktu senggang untuk menatapku, lebih baik kau tidur," suruh Anya lagi.

"Aku tidak bisa tidur kalau tanpa guling," balas Kevan.

Anya mengedikkan dagunya ke arah guling. "Kau buta? Itu kan guling."

"Guling hidup maksudku."

Anya menggunakan bombastic side eye-nya untuk merespons Kevan sebelum kembali pada layar laptopnya.

"Perusahaan Domestic sengaja tidak melaporkan Billy karena atasan mereka juga banyak yang korupsi. Kalau Billy dilaporkan, polisi pasti juga akan mencari tau soal perusahaan mereka. Perusahaan mereka benar-benar kotor, sayangnya para karyawan biasa tidak bisa lari karena terikat kontrak. Tapi aku yakin mereka pasti akan membunuh Billy alih-alih melapor pada polisi. Karena kalau Billy lebih dulu tertangkap polisi, Billy pasti juga akan membocorkan rahasia atasannya."

Kevan mendengar Anya dengan saksama.

"Harusnya investor peka terhadap kebusukan perusahaan ini, tapi kenapa tidak ada yang melapor, ya?" bingung Anya. "Akan lebih mudah jika investor yang melapor mereka, jadi Billy pun bisa dikejar oleh polisi. Aku kan jadi tidak perlu mengotori tanganku untuk menghukumnya."

"Sepertinya mereka menyembunyikan kebusukan mereka dengan baik," kata Kevan. "Itu sebabnya belum ketahuan oleh para investor. Tapi lambat-laun pasti akan ketahuan."

"Sebenarnya aku bisa membuat para investor ketar-ketir dengan menampilkan berita palsu. Kalau sudah heboh, pimpinan mereka pun juga pasti akan panik."

"Tapi sepertinya itu bukan urusanmu. Yang perlu kau urus hanya kasus perselingkuhannya."

Anya mengangguk. "Kau benar." Dia menoleh dan tersenyum. "Aku hanya perlu membuatnya bercerai dengan sahabatku." Saat kembali menatap layar laptop, Anya langsung menghela napas. "Tapi anak Fiona masih bayi. Aku takut masalah ini memengaruhi Fiona, secara dia masih dalam fase baby blues."

"Lebih dari yang terlihat, kau ternyata terlalu memikirkan orang lain, ya."

"Itu karena dia sahabatku. Sejak kecil aku tidak punya teman, tau, selain Jasver. Baru ketika SMA, Fiona yang notabenenya populer di sekolah, sudi menjadikan aku satu-satunya teman."

"Sahabat, ya ...." Kevan membaringkan punggung dan kepalanya, menghadap langit-langit. "Aku juga punya sahabat. Yeah ... setidaknya dulu."

Anya menatap Kevan yang tengah menatap kosong langit-langit pudar.

"Edwin White ... dia kembarannya Erleen, 'kan?" tanya Anya.

"Uh-hum."

"Kenapa dia bisa diberi jabatan di perusahaanmu?"

"Ah, itu ... aku yang merekomendasikannya."

"Kukira kau membencinya. Secara kan dia saudaranya Erleen."

"Aku bukan orang yang akan mencampuradukkan hal pribadi dengan pekerjaan. Dia sangat berbakat, tau. Walaupun dia berusaha mencari celah untuk menjatuhkanku, aku sebenarnya suka caranya bekerja." Kevan mengedipkan sebelah matanya pada Anya. "Aku suka sekali orang dengan pemikiran kritis, contohnya kau."

Anya mencebikkan bibir.

"Mungkin karena aku jenius, aku jadi membutuhkan lawan yang seimbang," pamer Kevan. "Karena aku benci orang-orang bodoh. Bodoh secara intelektual, you know .... Seperti sepupu-sepupuku; mereka pintar dalam bekerja, tapi bodoh secara intelektual."

"Termasuk paman-pamanmu."

"Kau benar."

"Tapi aku puas melihat reaksi mereka saat mereka tau siapa kakekku." Anya tersenyum miring. "Sepertinya mereka memuja nepotisme?"

Kevan terkekeh. "Jangan begitu. Aku jadi CEO kan juga karena nepotisme."

"Hmm, I don't think so." Anya tampak berpikir sebelum mengedikkan bahunya sambil tersenyum. "Kau sudah bekerja keras tanpa mengandalkan statusmu. Semua orang mengakui itu. Jadi berbanggalah."

Kevan diam. Lama dia menatap Anya, sampai akhirnya dia bangkit sembari menutup laptop Anya dan bergerak menindih punggung wanita itu, mulai mencumbui Anya lagi.

"Kev, kita baru saja selesai!" protes Anya. Tapi sayangnya Kevan sudah tak dapat dihentikan, membuatnya Anya buru-buru meletakkan laptopnya ke nakas; menepikan pekerjaannya demi melayani suaminya sekali lagi.

**

Besoknya, usai sarapan, Anya dan Kevan kembali memulai penyelidikan. Anya penasaran bagaimana Kevan akan mencari Billy dan selingkuhannya di pulau kecil ini. Apakah Kevan akan mencari ke seluruh rumah penduduk, atau melacak dengan kemampuan misteriusnya, Anya harus melihatnya.

"Kurasa mereka ada di rumah tua dekat shilo."

Anya yang duduk di boncengan sepeda—yang Kevan kendarai—langsung melongok ke depan. "Hah?"

"Kurasa mereka ada di rumah kosong dekat shilo."

"Tidak, bukan begitu. Aku mendengar apa yang kaukatakan. Aku bilang hah karena aku bingung! Kenapa kau bisa langsung tau? Padahal kan kita keluar dari rumah ibumu belum sepuluh menit! Saat sarapan tadi, kau juga fokus berceloteh tanpa memegang ponsel untuk mencari data, 'kan!?"

"Kenapa kau marah-marah?"

"Cepat jawab saja pertanyaanku! Dari mana kau bisa tau mereka ada di rumah kosong!?"

"Mudah saja. Tidak ada penginapan di sini, jadi sudah pasti mereka bersembunyi di rumah yang jauh dari pemukiman."

"Kenapa kau tau letak spesifiknya?"

"Aku hanya menebak, Sayang. Yang kutahu rumah kosong di sini hanya di dekat shilo."

Anya membuang napas kasar, membuat Kevan menengok ke belakang sekilas sambil menyeringai.

"Kau tidak percaya?"

"Kau bahkan bisa tau Billy ada di sini dengan mudah!" kesal Anya.

"Kenapa kau kesal? Bukankah harusnya kau berterimakasih?"

Anya hanya melengos. Tampaknya kariernya sebagai detektif terbaik mulai di ujung tanduk. Dibanding dengan kemampuan Kevan, Anya bukanlah apa-apa.

Shilo yang dimaksud Kevan mulai tampak. Meski menuju dataran tinggi, Kevan tetap tak ragu membawa Anya menuju shilo dengan sepeda keranjangnya. Anya dapat melihat rumah tua kecil di sana, bahkan lebih kecil dari rumah ibunya Kevan.

Sampai di sana, Anya dibuat melongo. Betapa tidak? Billy yang dia pikir akan dia temui tengah bercinta dengan selingkuhannya, ternyata malah dia temui dalam keadaan yang tidak pernah terpikirkan oleh Anya sebelumnya!

"Ah, sepertinya kita sudah salah paham?" Kevan yang masih duduk di sadel sepedanya, kian tersenyum pada Anya yang tercengang. "Tampaknya targetmu tidak seburuk itu?"

Billy, pria yang tengah menyapu salju di halaman menggunakan sikat salju, kian dibuat termangu oleh kedatangan sahabat istrinya beserta CEO terkenal. Sedangkan wanita tua yang membantu Billy membersihkan salju di halaman juga tercengang-cengang.

Mengapa ada wanita tua? Di mana selingkuhan Billy?

"Apa maksudnya ini?"


Bitter Sweet PervertCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang