Anya melihat Kevan yang sudah terlelap nyenyak usai mereka bergumul. Karena Kevan tidur seperti orang mati, kesempatan ini Anya gunakan untuk mulai bekerja.
Sebenarnya, Anya sudah lama menghidu ketidakberesan suami Fiona. Namun, dia tak bisa sembarang menyimpulkan karena itu masih prasangka. Asal menuduh tanpa bukti bukanlah kriteria detektif. Bahkan seorang pembunuh belum cukup divonis sebagai terdakwa hanya dengan dua bukti.
Selesai bersih-bersih di kamar mandi, Anya segera keluar dari kamarnya untuk mengambil minuman dan beberapa camilan. Meski dia sudah mendominasi pikirannya dengan masalah Fiona, entah mengapa kegilaannya yang nekat mengajak Kevan bercinta lebih dulu masih terus membuatnya ingin menjerit.
Sungguh Anya gila. Dia bahkan tak segan memakai lingerie seseksi itu di depan Kevan tanpa pikir panjang hanya untuk membuat Kevan tidak merajuk lagi.
Yah, bagaimanapun itu, Kevan sudah jadi suaminya. Anya perlahan-lahan mulai melupakan kecurigaannya pada Kevan. Toh, Anya sudah memberikan semuanya untuk Kevan, bahkan harga dirinya. Maka dari itu Anya memutuskan untuk menjalani hidupnya bersama Kevan dan belajar tidak memedulikan apa saja yang akan terjadi di masa depan.
Lagi pula, sudah lama Anya tak merasakan perasaan ini. Meski Kevan gila, selagi Anya tak diperlakukan dengan keji, Anya hanya perlu menikmati hidupnya.
Usai meletakkan camilan dan minuman di meja, Anya segera duduk berselonjor di sofa. Dia buka laptopnya, bersiap menggunakan kemampuannya untuk menyusuri jejak digital suami Fiona.
William Gray. Biasa dipanggil Billy. Dia bekerja di perusahaan retail, menjabat sebagai kepala manajer. Tampan? Hmm. Karena Kevan sudah memenuhi kepala Anya entah sejak kapan, ketampanan pria lain tidak terbayang lagi olehnya.
Saat Fiona dan Billy menikah, Anya hadir di sana sebagai maid of honor. Saat itu Anya melihat Billy adalah pria yang hangat dan baik. Tapi entah mengapa Anya merasa risi dengan Billy. Tentu saja itu tanpa alasan. Insting Anya kadang-kadang memang tak bisa diprediksi.
Ketika Anya mulai fokus mencari-cari jejak digital Billy, tiba-tiba dia mendengar suara denting kaca pecah di suatu tempat. Anya sontak terkejut. Dia langsung berdiri dan tanpa ragu mencari di mana suara itu berasal.
Sepertinya itu bunyi gelas pecah. Kemungkinan asalnya dari dapur. Mengingat keamanan apartemen ini sangat tinggi, mustahil untuk perampok bisa masuk. Maka dari itu Anya langsung menyimpulkan bahwa mungkin, Kevanlah yang sudah memecahkan kaca.
Sampai di dapur, dugaan Anya ternyata benar. Dia melihat suaminya berdiri menghadap kabinet dapur dalam keadaan telan-jang bulat!
Anya lantas berjalan cepat menghampiri Kevan dengan mulut menganga.
"Apa yang sedang kaulakukan?" seru Anya. "Aku tau ini rumahmu, tapi sopanlah sedikit pada sesuatu yang tidak tampak. Kaupikir di dunia ini hanya ada manusia?"
Anya mengernyit melihat Kevan hanya diam. Seketika dia menyadari, ada yang aneh dengan suaminya.
"Kev?"
Mata Kevan sedang terbuka, tapi dia diam seperti patung. Apa Kevan sedang sleepwalking?
Mengingat Kevan pernah mera-ba-raba Anya dalam keadaan tidur, bukan tak mungkin jika Kevan juga mengidap sleepwalking. Kadang-kadang ini bisa bahaya, tapi bisa dikondisikan. Anya hanya perlu mengembalikan Kevan kembali ke kasur tanpa membangunkannya—ingat saat ini Kevan masih dalam keadaan tidur meski matanya terbuka.
"Tidak hanya menyusahkan saat sadar, kau juga menyusahkan saat dalam keadaan tidak sadar, ya," omel Anya. Dia mengambil tangan Kevan dan menarik suaminya itu sambil bilang, "Ayo, kuantar kau kembali."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bitter Sweet Pervert
Romance"Beri aku kebebasan mutlak atas tubuhmu." Anya Snow adalah seorang detektif partikelir yang berfokus memata-matai kasus perselingkuhan. Suatu malam, Kevan sang CEO yang sedang naik daun tiba-tiba bertamu ke kantor Anya, memintanya untuk mencari seor...
