Ciuman dan sentuhan intens dari Kevan membuat Anya akhirnya dapat mengingat peristiwa yang tanpa sengaja dia hilangkan dari ingatannya. Misteri tentang pengetahuan Kevan dalam menerka-nerka ukuran tubuh Anya secara mendetail juga sudah terjawab saat itu juga.
Meski tak menyentuh pusat dirinya, Kevan benar-benar menyusuri tiap inci tubuh Anya saat mereka terlibat dalam ciuman intens. Mungkin seperti mustahil, tapi untuk pria secerdas Kevan, tentu saja itu hanya seperti keahlian kecil.
Yang lebih membuat Anya syok adalah sikapnya saat itu. Betapa mabuk alkohol seringnya membuat petaka. Untunglah malam itu Anya bertemu Kevan yang urung menyentuhnya dan membawanya pulang ke rumah Sherly. Kalau saja Anya dipertemukan dengan pria bejat, entah jadi apa Anya malam itu.
Masalahnya, pertemuan pertama dengan Kevan malah berbuntut panjang dua tahun kemudian. Anya tak tahu harus menyesal atau mensyukuri hari itu. Hanya saja, saat menikmati malam ini dengan gairah yang selama ini terkubur, Anya merasa lebih baik untuknya bersyukur saja.
Bersyukur karena saat itu Kevan adalah pria yang dia temui.
Bersyukur karena saat itu Kevan tidak menjamahnya lebih jauh—dan sentuhan lain harus Anya maafkan karena Anyalah yang memulai lebih dulu.
Jari-jari mulai berpaut. Hawa panas di sela desah membuat mereka dapat mendengar detak jantung satu sama lain. Seperti jari-jari mereka yang mengisi sela-sela satu sama lain, perasaan itu juga ikut menyatu. Sama sekali, Anya tak melihat ke mana pun selain hanya menatap wajah suaminya.
"Bisa kaulepas tanganku?" pinta Anya dalam bisiknya.
"Kenapa? Kau tidak suka yang begini?"
"Aku juga ingin berekspresi."
Kevan menyeringai samar. Lekas dia penuhi pinta Anya, memberi ruang untuk wanita itu berekspresi. Toh, ini yang Kevan tunggu dari Anya.
Sisi liar Anya.
**
Ketika terbangun, Anya melihat sisi di tempat Kevan seharusnya berbaring sudah kosong. Begitu melihat jam, ternyata sudah subuh. Kevan pasti sudah melesat ke masjid saat ini.
Lekas Anya bangkit mencari jubahnya. Usai dia pakai jubahnya itu, dia lantas pergi ke kamar mandi. Padahal ini bukan pertama kalinya dia mandi junub, tapi kenapa rasanya aneh? Ini perasaan yang sama seperti yang dia rasakan usai malam pertamanya dengan Raymond.
Di depan cermin wastafel, Anya melihat banyak tanda cinta di leher, pundak, dan dadanya. Anya lantas menyeringai. Pria itu bermain cukup gila tadi malam. Anya juga sama gilanya. Dia harus siap menghadapi sikap menjengkelkan Kevan yang nanti pasti akan memamerkan kissmark-nya dan membuat Anya kesal karena itu.
Tiba-tiba Anya teringat dengan peristiwa bodoh dua tahun lalu. Sebenarnya yang Anya ingat hanya saat-saat dirinya telanjang dan menggoda Kevan. Sebelum kejadian itu terjadi, Anya sama sekali tak bisa mengingat lagi.
Itu saja sudah membuat Anya hampir gila mengingatnya. Apalagi jika Anya mengingat secara detail dari awal sampai akhir. Bisa botak rambut Anya karena dia jambak demi bisa melupakan kejadian itu sekali lagi.
Setelah selesai ibadah, Anya lekas membuat sarapan. Kevan pasti langsung berolahraga sepulangnya dari masjid, jadi supaya tak bertemu lebih cepat, Anya langsung melesat ke dapur.
Sebenarnya dia ingin menghilang saja, tapi dia merasa lebih baik untuknya memasang muka tembok karena semuanya sudah terlambat untuk disesali.
Lagi pula, permainan Kevan boleh juga. Dia seperti sudah terlatih. Apa jangan-jangan, dia berbohong soal keperjakaannya?
Yah, mentang-mentang perjaka, bukan berarti belum terlatih. Bisa jadi karena sering menonton film biru, Kevan jadi menyerap banyak hal untuk diimplementasikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bitter Sweet Pervert
Dragoste"Beri aku kebebasan mutlak atas tubuhmu." Anya Snow adalah seorang detektif partikelir yang berfokus memata-matai kasus perselingkuhan. Suatu malam, Kevan sang CEO yang sedang naik daun tiba-tiba bertamu ke kantor Anya, memintanya untuk mencari seor...
