Tujuh Puluh Dua

8.8K 601 43
                                        

Jangan lupa sentuh bintangnya dan tinggalkan komentar supaya buku ini bisa naik dan dijangkau banyak orang.

Happy reading ^_^

**

Kevan menunggu Anya siuman tanpa tertidur sama sekali. Meski kehilangan banyak darah, setidaknya bukan nadinya yang robek. Itu sangat disyukuri mengingat pendarahan masif pada nadi yang putus bisa menyebabkan kematian dengan sangat cepat.

Saat pagi hari, Kevan mendapati Anya akhirnya terbangun. Kevan yang duduk di kursi menghadap hospital bed yang ditempati Anya pun, seketika terkesiap. Dia usap lembut kepala Anya, menggenggam tangan istrinya untuk mendapatkan atensi bahwa dirinya ada di sini.

"Hei." Kevan menyapa Anya dengan suara serak. Meski dia tak tidur, dia tak berbicara apa pun selama menunggu Anya siuman hingga membuat suaranya serak.

Pelan-pelan, Anya menggerakkan kepalanya untuk bisa melihat pria yang baru saja menyapanya. Mendapati Kevan di sisinya, Anya tak bereaksi apa-apa. Namun, kernyit di keningnya yang muncul setelah itu, seakan-akan menunjukkan bahwa dia tak senang melihat Kevan berada di sisinya.

Anya bahkan membuang muka, menarik tangannya dari tangan besar Kevan.

Mendapati penolakan itu, Kevan sempat tertegun. Segera dia menyadari bahwa hal seperti ini sudah seharusnya dia dapatkan.

Kevan memaksakan bibirnya tersenyum. Dia lantas memencet bel untuk memanggil dokter. Setelah itu, dia kembali ke tempat duduknya.

"Apa kau ingin minum?"

Anya tak menjawab. Seakan-akan diamnya berbisik, jika dia menginginkan sesuatu, maka dia hanya ingin Kevan pergi dari sisinya.

Sejenak, Kevan berpikir bahwa mungkin dia harus menjelaskan semuanya saat ini. Namun, situasinya sangat tidak mendukung. Anya baru siuman, dan kemungkinan dia tak ingin mendengar apa pun dari Kevan.

Apa lebih baik Kevan tunggu saja suasana sampai membaik dulu?

"Pergilah." Dengan suara pelan namun menusuk, Anya mengusir Kevan. "Aku tidak ingin melihatmu."

Kevan termangu, namun bibirnya menyeringai sekejap kemudian. Dia segera beranjak, mengusap kepala Anya dengan lembut.

"Okay. Aku akan pulang sebentar. Nanti aku kembali lagi."

"Tidak perlu," sahut Anya cepat, masih menatap ke arah jendela di sisi kanannya, sementara Kevan berdiri di sisi kirinya. "Tidak usah kembali."

"Walaupun kau bersikeras, aku akan tetap kembali."

Kevan membungkuk untuk mencium pelipis Anya. Perasaan yang memaksa masuk dalam dada Anya terasa berat dan getir, namun Anya tak bisa apa-apa. Dia tetap menatap ke arah jendela selagi Kevan masih ada di sini. Agaknya pria itu enggan meninggalkan Anya hingga dia tak serta-merta pergi setelah mencium istrinya. Tapi pada akhirnya dia tetap pergi.

Suara pintu yang ditutup menunjukkan bahwa Kevan sudah berlalu. Anya tak dapat menahan perasaan sedihnya, tapi dia yakin dirinya sudah melakukan hal yang benar.

Setelah ini, apa pun yang akan Kevan jelaskan padanya nanti, Anya tak akan mencoba untuk percaya lagi.

Sudah cukup Kevan bermain-main atas dirinya. Anya berhak untuk segera bebas.

**

Kevan masih belum memberitahu soal Anya pada kakek dan ayahnya. Dia bertekad akan menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa campur tangan siapa pun.

Saat mengingat Erleen, perasaan Kevan semakin berkecamuk. Tapi dia masih belum bisa menemui Erleen untuk saat ini. Dia harus menjelaskan semua hal pada Anya terlebih dulu, baru dia bisa menemui Erleen tanpa harus membuat Anya terluka lagi.

Bitter Sweet PervertCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang