Lima Puluh Sembilan

8K 510 1
                                        

Billy duduk dengan canggung di hadapan Anya yang melotot padanya. Sedangkan Kevan yang mendadak akrab dengan tuan rumah di rumah tua ini malah menyuguhkan minuman panas untuk mereka.

Ternyata oh tenyata, nenek yang menjadi tuan rumah di rumah tua ini adalah nenek buyutnya Billy yang berumur panjang. Dan Kevan ternyata mengenal mereka!

"Kenapa kau tidak bilang kalau kau mengenal mereka?" omel Anya sambil mencubit keras pinggang Kevan, tak ayal membuat Kevan meringis sambil mengusap pinggangnya.

"Aku hanya mengenal Nenek Miranda. Sungguh," balas Kevan. "Padahal kupikir Nenek Miranda sudah meninggal, tapi ternyata masih hidup dan sehat ...."

Nenek Miranda terkekeh. Padahal dia sudah buyut, tapi punggungnya masih tegap. Dia bahkan dapat berjalan dengan baik. Penglihatan dan pendengarannya pun tiada masalah.

"Bisa-bisanya kau menduga seperti itu, Kev. Aku masih hidup dan sehat. Bahkan aku masih mengingat dengan jelas wajahmu saat masih kecil."

Anya menoleh pada Nenek Miranda yang duduk di kursi tunggal. "Nenek akrab dengan Kevan?" tanya Anya.

"Begitulah, setidaknya saat dia kecil dulu. Sejak dia SMA, kami tidak pernah bertemu lagi. Begitu kembali, tau-tau dia sudah jadi bos besar dan punya istri yang cantik."

Anya cengengesan. Kalau dipuji cantik oleh pria buaya, dia hanya mendelik. Tapi kalau dipuji cantik oleh nenek-nenek, entah mengapa Anya jadi salah tingkah.

Sekejap kemudian, Anya kembali kepada dirinya yang biasa. Dia menatap Billy dengan intens.

"Bisa kaujelaskan ini, William Gray?" Anya menyebut nama Billy dengan lengkap sebagai penegasan atas keseriusannya. "Kau menghilang dari perusahaanmu, bahkan istrimu sendiri tidak bisa menghubungimu. Ada banyak skandal negatif tentangmu. Tapi kau malah bersembunyi di sini? Apa maksudnya!?"

Billy menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Well ... aku terlalu malu untuk mengatakan ini padamu. Tapi karena sepertinya kau berpikir negatif tentangku—"

"Siapa yang tidak akan berpikiran negatif kalau kau meninggalkan kesan buruk di tempat kau bekerja dan menghilang!?" amuk Anya. Tak ayal membuat Billy terkejut.

"Oke, aku paham. Maafkan aku," ucap Billy. "Aku akan menjelaskan semuanya padamu." Dia menarik napas panjang, mengembusnya perlahan. Lalu berkata, "Aku sama sekali tidak kabur dari perusahaan. Aku resign dengan cara baik-baik. Entah kenapa semua orang malah berpikir kalau aku dipecat secara tidak hormat. Belum lagi skandal sialan itu. Aku tidak tau apa-apa soal sekretarisku. Aku bersumpah kalau aku tidak berselingkuh dengannya. Dia justru berselingkuh dengan direktur!"

"Tapi sper-mamu berserakan di ruang kerjamu, loh," seloroh Kevan enteng.

Billy mendesis. "Kalau kau senggang, kau bisa mengambil sampel dan membuktikan milik siapa sper-ma itu sebenarnya!"

"Aku tidak akan percaya begitu saja hanya karena kau bersikeras," kata Anya. "Aku akan membuktikan milik siapa sper-ma itu sebenarnya."

Kevan menoleh. "Sepertinya mustahil. Kita tidak mengambil sampelnya kemarin."

Anya ikut menoleh dan menatap Kevan. "Tanpa sepengetahuanmu, aku sempat mengambil tisu kotor yang ada di ruangan itu. Aku yakin itu adalah tisu yang digunakan pria bodoh ini untuk mengelap sper-manya."

"Pasti sudah kering. Apa masih bisa diidentifikasi?" tanya Kevan.

"Bisa. Makanya kalau ada orang yang diperkosa, mereka diminta jangan mandi dulu. Supaya bisa diperiksa sper-ma siapa yang sudah memerkosa mereka."

Billy mengesah. "Percayalah. Aku tidak pernah berselingkuh. Kalaupun ada banyak sper-ma di ruang kerjaku, itu pasti milik direktur saat bermain dengan sekretarisku. Mereka kabur membawa banyak uang dan menjadikanku kambing hitam. Tapi atasan tidak bisa menangkapku karena mereka tau aku hanya kambing hitam. Kuyakin mereka sekarang diam-diam mencari direktur dan sekretarisku tanpa mengandalkan polisi. Kalau aku pelakunya, aku pasti sudah mati dari kemarin."

"Lalu sedang apa kau di sini?" balas Anya, masih terkesan jengkel dan marah. "Kenapa kau meninggalkan istrimu sendirian? Kenapa kau tidak menghubungi Fiona?"

Wajah Billy memerah. Dia bukan marah, melainkan malu.

"Kurasa Nenek Miranda bisa menjawab pertanyaanmu," kata Kevan. Nenek Miranda pun tersenyum.

"Cucuku datang ke sini untuk memulihkan candunya terhadap film biru. Dia datang kemari tanpa alat komunikasi apa pun. Dia di sini untuk membiasakan diri tanpa ponsel yang selalu menjeratnya kepada hal-hal buruk."

Anya mengernyit ke arah Billy yang tertunduk dengan wajah merah padam. "Omong kosong macam apa itu?"

Billy mendongak. "Kau tidak percaya?"

"Kalau kau ingin sembuh, harusnya kau menghabiskan waktu dengan istri dan bayimu! Wanita kalau habis melahirkan itu mentalnya tidak keruan! Kenapa kau malah hanya memikirkan mentalmu saja!?"

"Justru karena memikirkannya makanya aku ingin memulihkan diri di sini!"

"Makanya kenapa harus di sini? Apa menurutmu istri dan anakmu tidak cukup untuk kaujadikan obat sekaligus motivasi!?"

Billy meringis. "Jadi kau benar-benar tidak paham, ya?"

"Tenanglah, jangan bertengkar," cegah Kevan tenang. Dia mengapit dagu Anya agar istrinya itu menatap padanya. "Sayang, dengar. Billy menyibukkan diri di sini supaya pikirannya terhadap hal-hal por-no bisa teralihkan. Kalau dia kembali pada istrinya, dia tidak yakin bisa menyingkirkan ponsel untuk kembali melihat hal-hal buruk itu lagi."

Dengan wajah gondok, Anya membalas, "Masa bodoh. Berapa kali pun kalian menjelaskan dengan maksud yang sama, itu tetap tidak akan mengubah sudut pandangku."

"Aku tidak peduli kau mau mengerti atau tidak," kata Billy. "Kau tidak tau seberapa parah aku kecanduan. Memasang wajah masam di depan Fiona hanya akan menyakiti wanita itu. Apalagi saat ini tubuhnya berubah setelah melahirkan. Sebelum pikiranku pulih dari video-video wanita seksi, aku tidak akan pernah bisa menghargai Fiona. Karena itu aku butuh ruang sunyi untuk menyingkirkan bayangan-bayangan buruk itu; supaya aku tidak gelisah ingin melihat film-film itu lagi ...."

"Aku mengerti," sosor Kevan, membuat Anya mendelik. "Aku juga ada di posisimu, hanya saja beda orientasi. Kau terobsesi dengan video wanita asing, sedangkan aku malah terobsesi dengan istriku sendiri."

Kevan menunjuk wajah Anya dengan jempolnya, membuat Anya segera menepis jempol Kevan dengan jengkel.

Kevan lalu melanjutkan, "Kau tidak perlu menghilang dari istrimu jika ingin pulih. Kalau kau punya tabungan yang banyak, kauhabiskan saja waktumu dengan istrimu tanpa bekerja. Nanti kalau sudah bekerja, sebisa mungkin kau hindari pekerjaan yang membuatmu selalu mengandalkan internet. Kau juga harus mengganti ponselmu dengan feature phone. Ah, ya. Kalau pada akhirnya kau harus mengandalkan internet, aku bisa memblokir semua situs por-no untuk IP address-mu."

Anya menatap suaminya sambil berkedip. Billy pun ikut melongo.

"Kenapa kau tiba-tiba jadi baik hati begini?" tanya Anya curiga.

"Aku juga penasaran," sahut Billy. "Aku paham kita sekampung halaman, tapi kurasa kita tidak sedekat itu?"

"Jangan salah paham. Aku baik hati supaya istriku tidak perlu repot-repot mengurusmu lagi. Bulan maduku yang berharga terganggu hanya gara-gara kau," ketus Kevan dengan wajah datar. "Lagi pula aku juga ingin membalas budi Nenek Miranda. Dia satu-satunya teman yang dimiliki ibuku selama ibuku besar di sini."

"Ah, ya, dari tadi aku ingin bertanya tentang Priscil," kata Nenek semringah. "Apa kabarnya? Kenapa dia tidak pernah pulang ke sini lagi? Bukannya ibu tiri yang menjadi mimpi buruknya sudah meninggal? Harusnya dia tidak perlu khawatir lagi jika ingin pulang ...."

Kevan tersenyum tipis. Anya pikir Kevan akan memberitahu bahwa Priscilla sedang dalam keadaan koma, namun ....

"Ibuku baik-baik saja. Kalau ada waktu, aku akan mengajaknya ke sini."


Bitter Sweet PervertCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang