"Aah. Sepertinya ada yang ingin adu kekuatan." Kevan mengangkat bahunya enteng. "Apa boleh buat. Aku juga ingin pamer."
Anya melongo melihat Kevan melepas jasnya, lalu menyerahkan jasnya itu kepada Anya. Dengan ekspresi bodoh, Anya pasrah menerima jas pria itu untuk dia pegangi.
Ketika Kevan mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Anya, Anya sungguh ingin muntah.
"Kau harus lihat perjuanganku untuk mendapatkanmu, Snow. Kau akan terharu sampai ingin muntah."
Dengan ekspresi datar, Anya membalas, "Maaf saja. Aku justru berharap kakekku menang."
Saat Kevan menatap Anya pura-pura kecewa, Thomas sedang berlari ke arah Kevan sembari berseru, "MATI KAU, BOCAH BRENGSEK!!"
Anya mengajak Zeus menjauh. Kevan pun langsung menoleh ke arah pria kekar dan besar yang sedang berlari ke arahnya, seakan-akan hendak meremukkannya di sini. Sudah bukan pemandangan asing bagi Kevan melihat sesepuh masih berbadan kekar meski usia sudah senja. Sebab kakek Kevan juga masih kekar dan berotot.
Hanya saja, yang namanya sudah tua, pasti sudah punya kelemahan. Tak terkecuali untuk kakek Anya.
"Apa saat muda kau sering bertarung seperti ini, Tuan Tom?" tanya Kevan sembari menghindar dari kepalan tangan Thomas yang bisa meretakkan hidung mancungnya kapan saja. "Kau sangat terlatih walaupun sudah tua."
"JANGAN MEREMEHKAN ORANG TUA, BRENGSEK!!"
Sambil terus melayangkan tinjunya, Thomas sebenarnya diam-diam merasa heran. Sepanjang rekor kemenangannya, ini kali kedua ada orang yang mampu mengelak dari tinjunya yang super cepat. Bahkan rekor menyebutkan bahwa tinjunya sudah tak dapat dilihat saking cepatnya. Belum sempat orang mengelak atau memberi serangan, kepalan tangannya sudah mendarat lebih dulu untuk melumpuhkan lawan.
Sekarang, untuk kedua kalinya, ada orang yang bisa mengimbangi kecepatan tinju Thomas dengan sangat santai! Dan orang itu masih seorang bocah—walau sebenarnya sudah kepala tiga. Yeah, siapa pun manusia yang umurnya masih di bawah 50 tahun, itu terlihat seperti bocah ingusan di mata Thomas.
Thomas tak ingin heran! Jika bocah itu adalah cucu Joseph yang Tak Terkalahkan, maka Thomas tak boleh heran!
"Oh, sekarang aku ingat!" seru Kevan semringah, sementara kepalan tangan besar Thomas masih terus mencoba menyentuh tubuhnya. "Kau kan, Legenda Tinju yang diam-diam jadi mafia!"
"KALAU KAU SUDAH TAU, LAWAN AKU, BRENGSEK! JANGAN BISANYA HANYA MENGHINDAR!"
Lama-lama kuping Kevan bisa bermasalah kalau Thomas terus berteriak seperti itu.
"AYO, KEK! PUKUL DIA! AKU MENDUKUNGMU!"
Mendengar Anya malah mendukung sang kakek, perhatian Kevan tentu saja spontan beralih. Distraksi yang sebentar namun membunuh itu, memberi celah untuk Thomas memukul wajah Kevan. Karena pukulan yang seharusnya sudah membuat orang terlempar jauh itu malah hanya membuat Kevan mundur sedikit, Thomas lantas sekali lagi mendaratkan tinjunya ke perut Kevan hingga membuat pria itu terpental ke lantai.
Anya tertegun. Nyaris saja kakinya bergerak refleks hendak berlari ke arah Kevan, namun dia tertahan sesuatu.
Bukankah ini skenario yang Anya harapkan? Jika Kevan kalah di sini, bukankah Kevan akan menyerah terhadap obsesinya dan membebaskan Anya?
Ketika harapannya sudah di depan mata, mengapa rasanya ... seperti ada yang salah ....
"Apa hanya segitu kemampuanmu, Bocah Tengik?" Thomas berkacak pinggang menatap Kevan yang terbatuk karena efek pukulan di perutnya. Sementara bibir dan hidungnya sudah mengalir darah. "Pria yang mudah terpapar distraksi tidak pantas menjadi suami cucuku! Apalagi bocah tengik keturunan buaya sepertimu! Joseph dulu sangat senang menggoda wanita, kau cucunya pasti tidak jauh berbeda! Kau pikir aku akan membiarkan cucuku menderita sekali lagi karena pria tidak setia seperti kalian!?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Bitter Sweet Pervert
Roman d'amour"Beri aku kebebasan mutlak atas tubuhmu." Anya Snow adalah seorang detektif partikelir yang berfokus memata-matai kasus perselingkuhan. Suatu malam, Kevan sang CEO yang sedang naik daun tiba-tiba bertamu ke kantor Anya, memintanya untuk mencari seor...
