Empat Puluh Delapan

10.5K 598 4
                                        

Saat makan malam, Anya terus melihat ke arah Lizzy yang sejak tadi duduk manis sambil menatap ke arah tuannya yang tengah makan dengan santai. Sebisa mungkin Anya menganggap Lizzy adalah anjing, tapi Anya tetap gagal dan selalu dibuat merinding setiap disadarkan bahwa sebenarnya Lizzy adalah seekor binatang buas.

"Dia melihatmu terus. Jangan-jangan dia juga ingin makan?" tanya Anya pada Kevan dengan waspada maksimal.

"Dia hanya bingung kenapa aku selalu tampan walaupun sedang makan," jawab Kevan sekenanya.

Anya menyorot datar. "Kaupikir binatang mana yang paham soal ketampanan? Kau ini seorang bos, tapi kenapa tidak ada dari mulutmu satu kalimat saja yang setidaknya berbobot?"

"Entahlah. Aku suka jadi orang bodoh di depanmu."

Anya menggeleng jengah. Saat dia kembali menyantap makan malamnya, dia mencoba melirik Lizzy sekali lagi. Seketika dia tersentak, sebab Lizzy yang sejak tadi menatap tuannya, kini tiba-tiba menatap ke arah Anya!

"He-hei, kenapa dia menatapku begitu?" bisik Anya pada Kevan dengan nada waspada lebih kental.

Melirik Lizzy sekilas, Kevan kembali pada makan malamnya sambil membalas, "Mungkin alismu ketebalan? Kau sulam alis, 'kan?"

"Aku tidak pernah sulam alis! Sulam alis mana yang masih menyisakan bulu? Tolong lebih serius! Aku sungguh mempertaruhkan hidupku untuk mati konyol di sini! Tidak hanya dibuat gila olehmu, aku benar-benar akan gila karena binatang ini!"

"Mungkin ini akan sedikit menenangkanmu. Harimau, tidak pernah suka dengan daging manusia. Kalaupun kau pernah mendengar harimau memangsa manusia, itu hanya harimau tua yang sudah putus asa karena sudah lama tidak makan."

Anya menatap Kevan seakan-akan hendak menjambak rambut pria itu. "Walaupun mereka tidak suka daging manusia, serangan mereka tetap mematikan! Bahkan serangan bayi harimau saja bisa membuatmu cacat!"

"Lizzy tidak akan menyerangmu. Kau cobalah membuka hati sedikit. Dia benar-benar hewan yang lucu kalau kau mau bersikap lembut dengannya. Kau bahkan masih belum mencoba mengusap kepalanya, 'kan?"

"Aku masih belum ingin tanganku diamputasi."

"Kalau tanganmu diamputasi, aku akan menyerahkan tanganku untukmu."

"Tidak, terima kasih. Aku tidak mungkin bisa hidup dengan tangan seberat itu." Anya bangkit usai meneguk air di gelasnya hingga tandas. "I'm done. Kalau kau malas, besok pagi saja cuci piringnya."

**

Usai Isya, Anya keluar dari kamarnya, berencana untuk menghirup udara dingin di balkon penthouse. Setelah sampai di ujung tangga, Anya melihat Lizzy ternyata sedang duduk termenung menghadap dinding kaca. Hampir-hampir Anya ingin naik kembali ke kamarnya, tapi dia merasa berat meninggalkan Lizzy yang sedang termenung di sana.

Apa Lizzy tiba-tiba rindu dengan habitatnya? Kalau begitu, tentu saja Anya harus membantu Lizzy jika Lizzy memang rindu dengan rumah aslinya. Tapi bukankah Kevan sudah menyediakan kebun khusus untuknya? Yah, walaupun dibuat seperti hutan, tetap saja hutan asli jauh lebih baik.

Anya lantas berjalan menghampiri Lizzy. Meskipun dia sudah melangkah pelan-pelan, itu tetap membuat Lizzy menyadari keberadaan Anya. Sontak Anya terkesiap saat Lizzy menengok ke belakang. Tapi karena dari awal, Anya tak cukup menarik di mata Lizzy, Lizzy dengan cepat mengabaikan.

Anya segera mengambil napas saat Lizzy kembali termenung. Dia kembali membuat langkah, lalu ikut berjongkok di samping Lizzy. Terus dia mencuri pandang ke arah Lizzy, sampai akhirnya dia merasa dirinya benar-benar merasa aman.

"Kamu rindu hutan, ya?" tanya Anya. "Sama. Aku juga rindu rumahku."

Lizzy diam. Entah dia sedang menatap pantulan samar dirinya sendiri di cermin, atau malah menatap pemandangan malam kota di ketinggian, Anya merasa yang paling benar hanya dugaan bahwa Lizzy sedang melamun.

Bitter Sweet PervertCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang