Tiga Puluh Tujuh

10.9K 523 2
                                        

Kevan tak melepaskan pandangannya dari Anya saat istrinya itu berjalan bak kingkong mengamuk ke arahnya. Dengan kekuatan penuh, Anya merebut remote TV dari tangan Kevan, lalu menekan tombol untuk membuat layar TV menjadi hitam.

"Apa yang kaulakukan? Jangan ganggu waktu bersantaiku!" Kevan pura-pura kesal. Ketika dia hendak merebut kembali remotenya dari tangan Anya, Anya langsung mengangkat remote itu tinggi-tinggi.

Melihat itu, Kevan tersenyum miring. Apa Anya pikir dirinya tinggi? Kalau Kevan bangkit dari tempat duduknya, Anya pasti sudah selesai.

"Aku selalu percaya kalau tabiat mesum itu bukan bawaan dari lahir, melainkan dari apa yang selama ini dikonsumsi. Dan sekarang aku semakin percaya setelah aku melihat apa yang kautonton selama ini!"

"Memangnya kenapa? Bukannya itu wajar? Semua orang juga menonton film seks. Bahkan ada yang berniat menonton film seperti itu untuk meningkatkan libido mereka; untuk membuat rumah tangga mereka lebih harmonis."

Hanya saja, khusus untuk Kevan, sebanyak apa pun film biru yang dia koleksi dan dia tonton kala sendirian, itu tak pernah membangkitkan hasratnya. Itu tak pernah membuatnya berpikir untuk menyewa pelacur yang bisa memuaskan keinginannya.

Sejak pubertas, Kevan menikmati orgasme paling-paling hanya ketika dia mimpi basah. Padahal dia punya uang untuk memperkerjakan banyak pelacur mahal, tapi dia tak punya niat untuk hal seperti itu sejak dulu. Bisa dibayangkan betapa murni cintanya dulu untuk Erleen tanpa dikotori nafsu merugikan. Dia terlalu sibuk, jadi dia hanya akan melakukan seks ketika sudah waktunya.

Bisa dibilang, Kevan ini aseksual. Dia menganggap seks bukan sesuatu yang penting, tapi bukan berarti dia mengalami disfungsi seksual. Bukan berarti dirinya impoten. Hanya saja memang, rata-rata orang yang ambisius dan perfeksionis dalam bekerja seringnya mengesampingkan seks dari daftar poin-poin penting di hidup mereka.

Sejak patah hati terbesarnya membuatnya bertemu dengan Anya, barulah Kevan mendapati perubahan besar dalam hidupnya. Dia mulai menganggap bahwa seks itu penting, tapi anehnya, fantasinya hanya tertuju pada satu orang saja; pada wanita yang mengubah sebagian besar dari dirinya.

Sialnya, wanita itu sungguh keras kepala. Padahal, Kevan ingin melihat lagi bagaimana pesona Anya saat melepas pakaian dengan sukarela di depannya.

"Aku tidak peduli! Terserah kau mau melihat film bodoh itu sampai otakmu keriput! Tapi tolong kaunikmati saja itu sendiri tanpa mengganggu orang lain!" Anya menggebu-gebu. Dia menunjuk seantero ruang TV yang luas, namun dia bermaksud mengelilingi seantero apartemen dengan telunjuknya. "Dengan suara TV-mu yang besar itu, kau membuat satu apartemen ini ikut mendengar!!"

"Lalu? Kenapa kau marah?"

"KAU MENGGANGGU!!"

"Setidaknya tanyakan alasan kenapa aku menonton film itu. Aku ingin mencobanya, tapi kau tidak mau. Jadi kalau kau tidak ingin aku memutar film itu lagi, berlututlah sekarang."

"Dalam mimpimu!"

Kevan tersenyum miring. "Kalau begitu ..." Dia bangkit, lalu berdiri di depan Anya sambil membusungkan dadanya arogan. "Biarkan aku menonton film itu lagi."

Saat Kevan mengangkat tangannya untuk merebut remotenya dari tangan Anya, Anya dengan cepat menyembunyikan remote itu di belakang punggungnya. Ekspresi Anya yang tegas menantang membuat Kevan gemas sendiri, tapi dia menutupinya dengan wajah datar tanpa ekspresi.

Kevan mencoba merebut remotenya kembali dengan menjulurkan tangannya ke belakang punggung Anya, tapi Anya dengan gesit membalikkan tubuhnya hingga membuat Kevan hanya meraih udara.

Sudut bibir Kevan tersungging tipis. Anya memang paling paham soal cara bagaimana Kevan harus menikmati waktu.

"Kembalikan, Sayang," kata Kevan sambil melangkah, membuat Anya mundur dengan siaga. "Kalau kau mau, kita bisa menonton berdua."

"Kaupikir aku sudi mengotori mataku dengan film seperti itu?" desis Anya. "Melihat dua manusia bertelanjang dan melakukan hal yang seharusnya mereka rahasiakan rapat-rapat dari orang lain, bukankah itu menjijikkan?"

"Ayolah, jangan kaku begitu. It's just for fun."

"Kau tidak tau berapa banyak kerusakan yang terjadi karena film yang kauanggap hiburan itu. Kau tidak tau berapa banyak istri yang kehilangan percaya diri karena film yang seperti itu." Anya semakin masuk ke mode serius. "Alih-alih membantu keharmonisan rumah tangga, yang kaudapati justru hanya pengkhianatan. Kaupikir, pasangan yang melakukan seks setelah menonton film itu akan menikmati seks itu satu sama lain? Mereka justru melakukan itu sambil berfantasi dengan figur yang mereka tonton sebelumnya! Apa yang begitu kausebut harmonis?"

Kevan menerawangi plafon, tampak sedang berpikir. "Kalau begitu, kenapa yang terjadi padaku berbeda? Sesering apa pun aku menonton film seperti itu, aku hanya selalu membayangkan dirimu."

"Itu karena kau sinting," semprot Anya. "Berhentilah! Hal-hal porno hanya akan membuatmu merasa tidak puas dan terus mencari standar kenikmatan yang lebih dan lebih lagi. Kau sepertinya juga belum tau, jadi aku akan memberitahu—karena itu pasang baik-baik kupingmu. Yang seperti ini tidak boleh. Atas alasan apa pun itu, yang begini tidak boleh. Kepribadian seseorang terbentuk dari apa saja yang dia konsumsi. Entah itu makanan, apa yang dilihat, dan apa yang didengar. Hal-hal seperti ini, hanya akan membuatmu bodoh dan berkepribadian buruk. Lebih penting lagi, kau juga berdosa."

Sejenak menatap Anya dalam diamnya, Kevan lantas membalas, "Kalau begitu, berlututlah. Buat aku berpaling dari hal-hal seperti itu. Kau bukan orang yang hanya bisa berceramah tanpa memberi solusi, 'kan?

Anya menatap Kevan jengkel. "Kalau kau sebegitu terdesak, kenapa tidak kau saja yang berlutut!?"

Kevan tertawa sambil membalas, "Kalau kau menyentuh tujuh puluh senti milikku, aku akan berlutut sekarang juga."

"BRENGSEK!!"

Anya berbalik dan hendak membawa kabur remote TV. Tapi dia kalah cepat karena Kevan berhasil merebut remote itu dari tangan Anya. Dalam sekejap, Kevan kembali menyalakan TV-nya. Seketika mereka melihat pose seks di dalam layar sudah berganti dengan pose yang lebih tidak masuk akal.

Baik Anya maupun Kevan, mereka sama-sama berpikir bahwa film biru adalah hiburan sampah yang hanya akan dinikmati oleh orang-orang bodoh. Tapi karena Kevan ingin melihat Anya lebih jengkel lagi dari ini, dia tak memedulikan itu.

"Kembalikan!!" seru Anya sambil melompat-lompat demi menjangkau remote yang sedang Kevan angkat tinggi-tinggi. Melihat Anya melompat-lompat seperti anak kecil di depannya, Kevan benar-benar terhibur. Dia tertawa dengan sepenuh hati.

"Hahaha! Sana ambil kursi! Jangan harap kaki pendekmu itu bisa melompat lebih tinggi lagi dari ini."

"Sialan kau!"

Sementara itu, desah intens yang memenuhi seantero penthouse semakin menjadi-jadi saja ....

"KEVAN!! SETIDAKNYA KECILKAN VOLUMENYA!"

"Justru itu yang paling menarik. Kau juga bisa belajar, jadi dengarkanlah sampai kau merasa sudah bisa mendesah lebih baik dari film."

Anya berdecak. Padahal wajahnya sudah memerah, tapi dia masih bertekad tak akan menyerah. Dia memutuskan untuk bergelayut di lengan Kevan agar remote yang tengah Kevan pegang bisa Anya jangkau. Caranya itu berhasil, membuat Anya dengan cepat berlari kabur membawa remote itu usai memadamkan layar TV. Tapi Kevan kembali merebut remote itu, membuat Anya berbalik. Namun, Kevan tak mendapatkan remote itu sepenuhnya karena Anya menahan remote itu dengan sangat erat.

Untuk beberapa saat, mereka saling merebut remote itu hingga tenaga Kevan membuat Anya kewalahan. Sampai akhirnya saat Kevan terhuyung ke sofa karena tenaga yang Anya gunakan untuk menarik remote dari Kevan mendadak melemah, Anya juga ikut tumbang. Sialnya, dia tumbang di posisi yang tidak beruntung.

Anya mendarat dengan posisi merangkak di atas Kevan yang berbaring sepenuhnya di sofa.


Bitter Sweet PervertCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang