Sebelum tidur, Anya membersihkan wajahnya dan berwudu. Dia berharap wudunya itu bisa menjadi tameng pendingin untuknya supaya tidak marah-marah lagi.
Kevan sangat santai, mungkin sampai seminggu ke depan. Oleh karena itu, Anya harus bisa sabar sampai Kevan kembali dibuat sibuk oleh pekerjaannya.
Setelah keluar dari kamar mandi, Anya melihat Kevan ternyata sudah berbaring di kasur besar itu sambil memeluk guling. Dia tampak sudah terlelap nyenyak—Anya sampai dibuat tercengang. Apa malam ini Anya akan beruntung? Kevan tak akan menyerang Anya, 'kan?
Segera setelah memakai serum di wajahnya, Anya pelan-pelan berjalan ke kasur. Dia dudukkan bokongnya di pinggir kasur, kemudian beringsut lebih dekat agar dia dapat melambaikan tangannya di depan wajah Kevan. Begitu memastikan Kevan benar-benar sudah tertidur, Anya langsung tersenyum semringah sambil bersiap untuk berbaring.
Usai berdoa, Anya lantas menarik selimutnya hingga ke leher. Dia sudah siap menyambut mimpi indah malam ini. Hingga akhirnya suara Kevan membombardir ketenangannya yang hanya sekejap.
"Kau sudah siap? Kenapa tidak bilang?"
Dengan mata melotot, Anya menoleh ke arah Kevan yang bangkit sambil berseru, "Kau belum tidur!?"
"Hampir. Untung aku terbangun. Kau tentu saja tidak mau kecewa karena aku melewatkan jadwal malam, 'kan?"
Anya meringis. "Sepertinya kau salah paham? Maaf menyinggungmu, tapi energi tulangku sudah tinggal lima persen. Kalau kau memaksa, aku benar-benar hanya akan jadi papan."
Kevan menyeringai. "Jangan khawatir. Kau tidak akan pernah jadi papan jika aku yang bergerilya di atasmu."
Sembari menunggu Kevan selesai di kamar mandi, Anya terus memikirkan cara bagaimana agar dia bisa lolos malam ini. Sebenarnya dia tak ada masalah dengan tulang-tulangnya yang terasa nyeri, toh dia sudah lama tak mencobanya sejak tragedi dua tahun lalu. Hanya saja, dia tak sanggup membayangkan berapa kali dirinya harus menekan harga diri setiap Kevan berhasil membawanya melayang dalam perasaan nyaman tiada dua.
Begitu Kevan sudah keluar dari kamar mandi, Anya buru-buru menarik selimut untuk berkelumun. Kevan yang melihatnya langsung menyunggingkan senyum tipis. Segera setelah melepas sweaternya, Kevan menyingkap selimut sambil menjamah kasurnya, memeluk Anya dalam sekejap.
"Ah, kau memang guling terbaik," bisik Kevan sambil menempelkan pipinya di pipi Anya dengan rapat. "Ke mana aku harus mencari guling hidup senyaman ini?"
"Terserah kau mau bicara apa saja, tapi jangan buat aku sesak."
Anya mencoba mendorong tubuh Kevan agar menyingkir darinya. Dia pikir dirinya berhasil saat Kevan benar-benar menyingkir. Tapi kenapa Kevan malah duduk?
"Kalau begitu, malam ini kau saja yang memimpin," kata Kevan sambil menarik kedua tangan Anya. Begitu berhasil membuat Anya ikut duduk, Kevan juga sekaligus menarik kedua kaki Anya hingga wanita itu duduk rapat di depan Kevan; dengan kedua paha bertengger di kiri dan kanan pinggangnya.
Anya membelalak. Kedua tangannya secara refleks mendarat di dada bidang Kevan, dengan itu masih tersisa jarak. Tapi pinggangnya sudah tak tertolong. Kevan merengkuh pinggangnya hingga Anya sudah langsung dibuat terpaku lantaran setrum dari pusat menjalar hingga ke ujung kuku.
Melihat itu, Kevan tak ayal menyeringai. "Responsmu cepat, ya? Well, kau pasti bisa memimpin, 'kan? Karena kau sudah hidup selama tujuh puluh tahun, aku yakin kau sudah berpengalaman."
Anya menyorot datar wajah Kevan yang dekat. "Sudah kubilang energi tulang-tulangku hanya tinggal lima persen. Kalau aku yang memompa malam ini, pinggangku benar-benar akan rontok!"
"Ya sudah, kalau begitu ... besok kita libur. Aku akan membiarkanmu beristirahat seharian."
"Semakin ke sini, kau semakin sering membual, ya?" balas Anya menyipitkan mata. "Mana mungkin kau akan rela membiarkanku tenang seharian? Kau kan hidup di atas penderitaan orang lain!"
Kevan mengambil seluruh rambut Anya, lalu menggenggamnya di belakang kepala Anya. Tujuannya agar dia dapat mengendus dan menitip bekas kissmark yang baru.
"Tapi kau menikmatinya, 'kan? Kau tidak akan bisa mengelak dari kenyataan bahwa, aku adalah penderitaan yang paling kaunikmati."
Kevan tertawa pelan, terdengar jauh lebih dingin dan suram. Usai membuat Anya merasa lelah sebelum perang sebenarnya, Kevan akhirnya membuat Anya berbaring sepenuhnya di permukaan ranjang.
Kevan mencengkeram kedua tangan Anya dengan posisi tubuh merangkak di atas wanita itu. Saling tatap yang intens membuat aura di antara mereka semakin terasa aneh namun, tanpa sadar mereka malah menikmati itu.
"Kau indah, Ann." Pujian Kevan tak ayal membuat Anya terpegun. "Sampai sekarang aku masih belum bisa mengerti, apa yang membuat pria bodoh itu lebih menyukai ibumu daripada dirimu. Tapi di lain sisi aku senang, sebab hanya aku yang bisa melihat seindah apa kau ini sebenarnya."
"Terima kasih," jawab Anya pelan. "Tapi tubuh yang kauagung-agungkan seperti dewa ini, nanti juga akan menyusut dan keriput, Kev. Tidak ada yang berkesan selama kau melihatku hanya dari tubuhku."
"Aah, kau benar." Kevan mengangkat tangan kanannya, mengusap pipi Anya dengan punggung jemarinya. "Tapi apa kau bisa menyimpulkan bagaimana perasaanku setiap kau berusaha menutup rapat hatimu dariku? Kau takut kecewa, takut dikhianati lagi. Di saat yang sama kau sengaja membiarkan mantan suamimu menjadi orang terakhir yang kaucintai seumur hidupmu. Memikirkan itu aku kesal ... aku marah, Ann. Harusnya kau membiarkanku masuk, supaya kau bisa merasa adil. Pria itu mati setelah menjadikan ibumu sebagai wanita terakhir yang dia cintai. Kau juga harus hidup dan menjadikan aku sebagai pria terakhir yang kaucintai. Kalau tidak seperti itu, kalau kau terus menutup hati seperti ini ... kau benar-benar akan terjebak dalam cinta pertamamu sampai kau mati."
Anya diam.
"Aku tau kau akan tua. Aku juga akan begitu. Tapi seks hanya manifestasi. Perasaanku jauh lebih dalam dari sekedar mencapai orgasme bersamamu." Kevan menatap Anya lekat-lekat. "Apa bahasaku masih terlalu sulit?"
Anya mengerling, membuang muka sambil tersenyum miring. "Entahlah. Mau kau serius atau tidak, kau tetap pria mesum yang wajib diwaspadai."
Kevan menghela napas sabar. "Baiklah. Kalau begitu ...." Kevan berlutut, bergerak untuk melepas celananya. "Malam ini tameng terakhirmu. Kau benar-benar akan jatuh cinta padaku setelah ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bitter Sweet Pervert
Romansa"Beri aku kebebasan mutlak atas tubuhmu." Anya Snow adalah seorang detektif partikelir yang berfokus memata-matai kasus perselingkuhan. Suatu malam, Kevan sang CEO yang sedang naik daun tiba-tiba bertamu ke kantor Anya, memintanya untuk mencari seor...
