"Jadi, mulai sekarang, kita harus selalu mandi berdua demi menghemat air."
"APA!?"
Kevan menyeringai. "Kau tidak perlu sekaget itu. Di mana-mana suami-istri sudah seharusnya mandi berdua, 'kan?"
"Kaukira aku bodoh? Jelas-jelas ini hanya akal-akalanmu!"
"Sudahlah. Jangan banyak protes."
Kevan memojokkan Anya dengan menempelkan masing-masing tapak tangannya di dinding di hadapan Anya. Sentuhan tipis dari kulit Kevan membuat Anya melangkah lebih rapat ke dinding.
Ini sungguh gawat. Ini benar-benar tidak aman. Katakanlah Anya memang menutup hati, tapi dia ini masih wanita normal yang kalau tidak sibuk, pikiran mesum juga bisa menyerang otak jernihnya. Wanita normal mana yang sanggup menahan diri selama dua tahun selain Anya? Bahkan tak pernah terlintas di pikiran Anya untuk membeli sex toy atau menggunakan tangannya sendiri demi bisa memuaskan hasratnya!
Anya benar-benar menjaga dirinya, bahkan dari dirinya sendiri! Itu karena Anya menjauh dari hal-hal yang dapat memicu munculnya dorongan hasrat. Mana bisa hutan terbakar kalau tidak ada api? Api itulah yang selalu Anya jauhi; dengan cara mengonsumsi tontonan dan buku-buku positif, sibuk dengan pekerjaan, menghabiskan uang dengan jajan dan berjalan-jalan. Lebih penting dari itu semua, tentu saja menjauhi semua pria!
Sekarang, Anya tak mungkin akan selamat lagi. Dia akui dia senang—meski rasanya berat—Kevan juga punya harga diri yang tinggi hingga pria itu memutuskan untuk berhubungan dengan Anya hanya ketika Anya sudah sepenuh jiwa dan raga menerimanya. Namun, meski Kevan juga akan menunggu, Kevan pasti akan menggunakan trik licik untuk membuat Anya kalah lebih dulu, bukan!?
Seperti inilah contohnya! Kendatipun Anya menutup hati, kalau terus-terusan diuji dengan physical touch, setidaknya lamat-lamat Anya akan terpancing juga, bukan?
Setinggi apa pun harga diri Anya, sekuat apa pun dia menahan diri, kenyataannya Anya masih normal dan masih suka dengan pria. Singkirkan soal cinta. Ini tentang kebutuhan biologis yang sudah terkubur lama!
"Kulihat kau tidak menghabiskan makan siangmu. Kau membuat dua porsi, ya?" tanya Kevan, sengaja menempelkan bibirnya di daun telinga Anya hingga membuat Anya bergidik dan menjaga jarak.
"Aku memang tidak akan berlutut, tapi aku akan tetap melayanimu dengan baik dalam hal lain," balas Anya. "Tidak termasuk melayani mandi, jadi keluarlah sebelum aku menendangmu."
Kevan terkekeh kecil. "Kau benar-benar lucu, ya? Aku hampir tidak pernah tertawa, tapi setiap denganmu, aku selalu merasa tergelitik."
Kevan menarik sebelah tangannya dari dinding, kemudian menyentuh pinggang Anya lembut. Sekali lagi, Kevan dapat melihat pundak Anya bergidik. Reaksi manis itu membuat Kevan menyeringai.
Mungkin Anya menutup hati dari cinta. Tapi Anya tak akan mungkin bisa mengelak dari gejolak membara yang Kevan berikan secara signifikan padanya. Cepat atau lambat, Anya pasti akan kalah oleh gejolaknya sendiri.
"Apa kita benar-benar tidak akan berbulan madu?" Kevan mulai mengendus pelipis Anya dengan hidung dan bibirnya. Sementara air hangat shower masih mengguyur mereka dengan senang hati. "Setidaknya kalau tidak honeymoon, kau bisa mengajakku ke tempat yang kauinginkan."
"Aku hanya ingin tidur sepanjang waktu."
"Apa itu sibuk yang kaumaksud?"
"Tentu saja."
"Aku tidak terbiasa bermalas-malasan, jadi tolong buat aku sedikit lebih sibuk."
Anya mendesah sinis. "Sana kembali bekerja. Aku yakin pekerjaanmu pasti sudah menumpuk, 'kan?"
"Tidak bisa. Aku harus menghargai jatah cuti yang diberikan kakekku. Sebagai gantinya, aku akan memberinya cucu dari hasil cutiku itu."
Benak Anya seketika sibuk memutar rubrik. Apakah Kevan bermaksud ingin membuat Anya hamil usai cuti panjangnya?
"Bekerjasamalah denganku, Ann. Kau sendiri juga ingin punya anak, 'kan? Aku yakin kau tidak berniat memiliki anak dari pria mana pun selain dari suamimu saat ini. Kenapa tidak kautekan saja harga dirimu demi impianmu yang sudah lama terkubur itu?"
"Kapan kau mau selesai? Aku belum keramas!"
"Bayangkan, di rumah ini tidak hanya kau dan aku yang ribut. Tapi juga ada rengek bayi kita. Tidak hanya satu, tapi tujuh bayi."
"Kalau kau punya banyak waktu untuk berkhayal, lebih baik kau keluar dan selesaikan khayalanmu itu! Jangan menggangguku mandi!"
Sentuhan Kevan yang mulai intens membuat sinyal warning dalam diri Anya mulai berbunyi. Anya secara refleks menahan tangan Kevan yang merengkuh pinggangnya dengan tangannya, tapi percuma. Kevan menahan sebelah tangan Anya dengan tangannya yang lain. Jadi, kalaupun Anya mencoba menyingkirkan lengan kekar Kevan yang melingkari pinggangnya hanya dengan sebelah tangan, itu percuma.
"Le-lepaskan," pinta Anya dengan suara lemah. Membuat Kevan tertawa pelan.
"Kenapa suaramu melemah? Bukan seperti dirimu saja."
Jantung Anya salto semakin kencang saja. Geli saat hidung dan bibir Kevan mengecup lehernya ikut andil membuat detak jantungnya semakin bertalu-talu. Dia tak pernah merindukan sentuhan seperti ini, seharusnya dia bisa langsung menghindar dan pergi. Tapi sial, dia serasa terpenjara.
Perut bawah Anya mulai menghangat dengan aneh. Ini gawat, tapi mengapa dia masih tak bisa melakukan apa pun untuk kabur!?
Batin Anya mulai mencibir, apakah Anya sebenarnya juga menginginkan hal seperti ini?
Karena Kevan hanya berniat memancing Anya, dia menggoda Anya hanya setengah-setengah. Padahal sudah sampai tangan besarnya itu di sebelah buah dada Anya yang sintal, tapi dia tak melakukan apa pun. Kenapa dia membuat Anya merasa bodoh karena menunggu pria itu melakukan sesuatu!?
Tangan Kevan lalu meraba ke tempat lain tanpa memenuhi harapan Anya. Tapak tangan yang terasa kasar di kulit Anya yang basah hampir sampai ke perut bawah wanita itu, namun lagi-lagi Kevan menjeda geraknya. Padahal Anya sudah menahan napasnya demi menunggu tangan itu sampai!
"Khehehe."
Kekeh suram Kevan tak ayal menyentak kesadaran Anya.
"Menyedihkan. Padahal kau bersikeras menolakku, tapi kau menunggu sentuhanku. Harga diri yang setengah-setengah itu harusnya kaubuang saja, Ann."
Dada Anya memanas seketika, begitu juga dengan wajahnya. Uap air hangat yang memenuhi kubus kaca membuat Anya semakin panas saja. Dengan perasaan marah yang tak dia mengerti, Anya menggunakan segenap kekuatannya untuk melepaskan diri.
Saat Anya berhasil lepas, dia pikir itu karena kekuatannya. Rupanya itu hanya taktik Kevan untuk memojokkan Anya lebih intens lagi. Begitu Anya berbalik, Kevan langsung membuat punggung Anya bersandar di dinding. Karena Anya pasti akan memberontak, Kevan sekaligus mengunci kedua tangan Anya dengan mencengkeramnya di dinding.
"Lepas, brengsek," desis Anya dengan mata nyalang. Sejak awal, harga dirinya sudah terluka karena pria ini. Harusnya Anya sadar soal itu. Meski dia sempat dibuat terbuai, kali ini dia tak akan lengah lagi. "Lepas atau kubunuh kau."
"Jangan sembarangan mengancam orang. Lagi pula, kau tidak akan bisa membunuhku. Lebih penting dari itu ... kenapa kau masih keras kepala?" Kevan menatap tak habis pikir. Dia benar-benar merasa diuji sekarang. "Kau juga menginginkanku, Anya. Terima kenyataan itu dan berlututlah sekarang!"
Anya tersenyum sinis. "Kelihatannya yang lebih tersiksa itu kau. Kenapa tidak kau saja yang berlutut dan memerkosaku sekarang?"
Sejenak, mereka saling menatap dingin satu sama lain. Sampai akhirnya Kevan mundur dan melepas Anya, kemudian berkata, "Malam ini. Kupastikan kau akan membuang harga dirimu malam ini."
Anya terdiam. Dia melihat Kevan menyeringai dengan tatapan dingin.
"Bersiaplah, Ann. Aku tidak akan menunggu lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bitter Sweet Pervert
Romance"Beri aku kebebasan mutlak atas tubuhmu." Anya Snow adalah seorang detektif partikelir yang berfokus memata-matai kasus perselingkuhan. Suatu malam, Kevan sang CEO yang sedang naik daun tiba-tiba bertamu ke kantor Anya, memintanya untuk mencari seor...
