Anya berusaha mengarahkan arah senter ponselnya ke tempat yang dapat membuatnya melihat di mana Kevan—atau lebih tepatnya Karl—berdiri. Namun, dia tak melihat siapa pun.
Saat dilihatnya Arthur yang tak dapat diandalkan sedang tergeletak di lantai, Anya berpikir mungkin Arthur pingsan karena stun gun. Anya sangat mensyukuri itu karena dia tak dapat membayangkan apa yang terjadi jika Karl membunuh Arthur dengan senjata tajam.
Anya jera melihat orang mati.
"Aku tidak pernah membuang Kev ...." Anya berusaha menahan getar suaranya. "Kau yang membuat semuanya jadi berantakan. Waktu kau pergi ke tempat Erleen, kenapa tidak kaujelaskan kalau kau bukan Kev? Apa adil kalau kau menyalahkan aku sementara aku tidak tau apa-apa tentang kalian?"
Karl terkekeh. Saat Anya mencari sumber suara, lagi-lagi dia hanya bisa melihat bayangan. Seakan-akan Karl adalah sosok tak kasat mata.
"Memberitahumu atau tidak, itu urusanku. Lagi pula, seberapa persen kau akan memercayai kata-kataku kalau aku memberitahumu saat itu? Lebih penting dari itu, bukankah Kev sudah sempat ingin memberitahumu semuanya? Tapi kau tidak memberinya kesempatan untuk bicara, 'kan? Kau justru membiarkan dia babak-belur karena saudaramu yang sok keren itu. Kaupikir, aku akan menerimanya begitu saja, hm?"
Anya bergeming. Bagaimana Karl bisa tahu soal itu?
Apa saat Kevan disiksa oleh Jasver, Karl meminjam mata Kevan untuk ikut melihat situasi?
"Aku sudah mencoba untuk tidak menyakitimu, tapi aku juga memiliki kehidupanku sendiri. Aku tidak masalah kalau Kev menginginkan wanita sepertimu. Di samping itu Kev juga harus membiarkanku bercinta dengan wanita yang kuinginkan. Apa kau memahami itu, Nona Snow? Ah. Apa aku harus memanggilmu Nyonya Heisenberg, hm? Tapi sayangnya aku tidak terlalu suka nama itu, khehehe."
Anya terus mengarahkan senter dengan cepat ke sembarang arah. Sekilas, dia melihat seseorang. Namun ketika dia kembali mencari seseorang itu, tempat di mana seseorang itu berdiri seketika kosong.
"Apa kau kemari untuk membunuhku?" tanya Anya, mencoba tak gentar. "Aku tidak berharap belas kasihanmu, tapi kalau kau benar-benar berada di pihak Kev, sebelum kau berpikir untuk membunuhku ... setidaknya kau harus tau bahwa aku sedang hamil anak Kev!"
Karl tertawa lagi. "Janin yang malang."
Anya bergeming.
"Aku tidak bermaksud membuatmu sedih, Nona Snow ... tapi setidaknya kau juga harus tau kalau suamimu ... tidak akan pernah kembali lagi."
Anya membelalak ketika dia rasakan setrum di lehernya, membuat tangannya yang tengah memegang ponsel tiba-tiba terasa kaku dan kebas. Dalam sekejap Anya rasakan tubuhnya tumbang. Namun, sebelum dia merasakan kerasnya lantai, dia sudah lebih dulu pingsan.
**
Anya tak tahu sudah berapa lama dia tertidur. Ketika dia mencoba mengerjapkan kelopak matanya, dia serta-merta disuguhi cahaya suram sebuah kamar.
Anya dapati dinding kaca tampak ditutupi oleh bulir air yang padat. Ternyata hujan sedang turun deras di luar. Padahal sudah masuk musim semi, tapi mengapa malah turun hujan?
Apa Anya sedang berada di wilayah luar Cezar?
Sejenak menerka-nerka, Anya sontak menyadari bagaimana posisinya saat ini. Di atas ranjang besar dengan hardboard tinggi yang memiliki corak rumit, Anya ternyata tengah berbaring hanya dengan sehelai sleep dress di tubuhnya. Begitu dia bangkit duduk dari baringnya, suara rantai seketika mengagetkannya. Sekujur tubuhnya merinding saat dia melihat tangan dan kakinya dalam keadaan diborgol, dengan rantai yang terhubung pada masing-masing kaki kasur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bitter Sweet Pervert
Romance"Beri aku kebebasan mutlak atas tubuhmu." Anya Snow adalah seorang detektif partikelir yang berfokus memata-matai kasus perselingkuhan. Suatu malam, Kevan sang CEO yang sedang naik daun tiba-tiba bertamu ke kantor Anya, memintanya untuk mencari seor...
