Delapan Puluh Dua - end

23.3K 794 115
                                        

Franky Snow sudah lama tinggal di desa terpencil usai berhasil kabur dari hukuman mati. Bersama seekor Siberian Husky miliknya, dia hidup damai di rumah yang dekat dengan sungai besar yang jernih.

Hamparan rumput yang luas sudah mulai ditumbuhi bunga. Namun, gunung-gunung di sana masih ditutupi salju.

"Guk-guk!" Skipper, anjing dewasa yang diminta untuk menjaga pasien, tiba-tiba keluar dari kamar sambil berguguk. Dia berlarian menghampiri tuannya yang tengah meracik obat.

"Ada apa?" tanya Franky sambil melihat anjingnya yang berjalan panik dengan pola lingkaran. "Apa pasien kita sudah siuman?"

Tidak sabar, Skipper menggigit celana Franky dan menyeret tuannya untuk segera ikut dengannya ke kamar. Franky terpaksa meninggalkan pekerjaannya demi memenuhi permintaan anjingnya.

Sesampainya di kamar, Franky dibuat terpegun. Bagaimana tidak? Pasien yang dia pikir sudah mati otak itu, kini sedang duduk tenang sambil menatap ke luar jendela yang terbuka. Agaknya dia dibuat ternanang oleh pemandangan hamparan rumput yang luas, dengan sara arus sungai yang menenangkan.

"Damai sekali di sini." Kevan, sang pasien yang sudah tertidur sejak dua minggu lalu, tiba-tiba mengatakan sesuatu tanpa kesulitan. "Apa ini surga?"

Franky beserta anjingnya masih bergeming. Mereka lalu bertukar pandang sebelum akhirnya Franky berjalan pelan-pelan menuju pasiennya.

"Kau belum mati, jadi ini bukan surga," tukas Franky dengan wajah waspada. Dia terkesiap saat Kevan menoleh. "Kau baik-baik saja? Kupikir kau tidak akan pernah bangun lagi dan menyusahkanku seumur hidup."

Kevan diam. Dia mematut kedua tangannya yang masih utuh, juga memeriksa otot-otot di bisep dan dadanya yang masih menonjol.

"Kurasa aku baik-baik saja," kata Kevan enteng. "Lebih penting dari itu ... kenapa aku bisa di sini?"

"Apa kau mengingat namamu?"

"Tentu saja. Aku bahkan tau siapa kau."

Mata Franky melebar. Dia menunjuk wajahnya dengan hati-hati. "Kau tau namaku?"

"Franky Snow, kaki-tangan mafia yang menghilang saat eksekusi, kan?" Kevan tersenyum. "Aku yakin kau masih hidup walaupun semua orang percaya kau sudah mati. Orang gila sepertimu selalu punya cara untuk tetap hidup. Tapi aku terkejut, bisa-bisanya aku terjebak di sini bersama orang paling berbahaya yang menolak dieksekusi."

"Ah ...." Franky tersenyum tipis. "Tapi aku sudah menebus dosaku di sini dengan menjadi dokter. Jadi jangan khawatir." Dia memakai stetoskopnya untuk memeriksa detak jantung Kevan. "Tubuhmu terbawa arus sungai dan tersangkut di batu besar. Kukira aku menemukan mayat orang yang tenggelam saat mandi di sungai, tapi aku terkejut mendapatimu masih bernapas. Padahal kau sudah kehilangan banyak darah di kepalamu. Aku sampai bertanya-tanya apakah Tuhan memberikan jatah plot armor untukmu di dalam skenario-Nya?"

Kevan diam.

"Kalau kau mengenalku, kau pasti orang Cezar. Apa yang membuat orang Cezar sepertimu terdampar di desa terpencil ini? Kau dibunuh?"

Kevan menggeleng. "Aku bunuh diri. Tapi kau menghalangi kematianku."

"Oh, maaf. Kau tau aku sekarang hanya hidup untuk menebus dosa masa lalu, makanya aku harus selalu menolong orang-orang. Tapi apa enaknya bunuh diri? Hidup di alam lain itu mengerikan, tau."

"Aku sudah menyakiti anakmu," kata Kevan. "Aku juga menyerah dengan keadaanku. Karena itu aku bunuh diri."

Franky mematung sepenuhnya.

Bitter Sweet PervertCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang