Setelah masuk Islam, Kevan diminta untuk mengikuti kajian rutin setiap Sabtu pagi—karena Kevan hanya libur di hari Sabtu dan Minggu. Untuk seminggu ini, setiap jam delapan malam, Kevan harus belajar langsung dengan Lucas mengenai bacaan ibadah wajib, supaya Kevan bisa lekas ikut bergabung berjamaah.
Kesibukannya akan bertambah. Tapi itu bukan masalah. Asal Kevan bisa memiliki Anya seutuhnya, yang begini bukan masalah.
Lagi pula, rasanya tidak buruk memiliki Tuhan. Dengan itu Kevan akan lebih mudah menikmati malam yang gelap, senja yang damai, taman sunyi dan aroma hujan, tanpa harus dibuat pusing memikirkan apakah semua itu benar-benar tidak ada yang menciptakan.
Apakah semua fenomena itu terjadi begitu saja, tanpa ada yang mengendalikan?
Kevan sangat suka mengapresiasi karya yang indah. Sudah saatnya untuk dia mengakui bahwa bintang-bintang dan angin saat musim gugur, pasti ada yang menciptakan.
Karena Anya menyebut otak Kevan luar biasa, Kevan harus berbangga dengan itu dan mencoba menggunakan otaknya untuk memecahkan hal rumit seperti, mengakui keberadaan Tuhan.
Dengan begitu, Kevan akan meminta yang terbaik untuk ibunya. Sudah lelah dia berharap pada medis. Kali ini, Kevan akan bergantung kepada kekuasaan Tuhan yang pasti lebih memahami seluk-beluk manusia.
Yeah, tidak buruk.
Merasa lemah dan tak berdaya di hadapan raja yang tepat, itu rasanya melegakan. Sebab, Kevan selama ini pantang memperlihatkan sisi lemahnya di depan siapa pun, selain di depan ibunya yang sedang koma.
Untuk apa menunjukkan kelemahan kepada manusia yang juga punya kelemahan?
Karena itulah, merasa lemah di hadapan Pencipta langit dan laut, adalah hal yang paling masuk akal.
Yap! Mulai saat ini, Kevan akan mengakui eksistensi Tuhan.
"Ada banyak buku yang harus kaubaca. Walaupun kata Mister Murphy, orang yang beragama Islam dari lahir malah justru yang paling sedikit mempelajari agama mereka, aku ingin kau tetap harus semangat," ujar Anya. "Aku punya buku-bukunya. Beberapa ada di kantorku, paling banyak di rumah. Aku akan meminjamkan buku itu padamu."
"Nanti saja, setelah kita menikah," balas Kevan. "By the way ... sebelum sibuk mengurus pernikahan kita besok, bagaimana kalau malam ini kita pergi ke suatu tempat?"
Sekarang memang sudah malam. Lucas menahan Kevan di masjid cukup lama, dan mereka membicarakan banyak hal tadinya. Makanya mereka pulang terlambat. Ditambah tadi Lucas memaksa Kevan dan Anya untuk makan malam bersama.
"Aku lelah," balas Anya. Dia sudah membayangkan air hangat bathtub, jadi dia ingin cepat-cepat pulang. "Antar aku pulang."
"Sebentar saja. Kau belum pernah bertemu ibuku, 'kan? Aku ingin kita meminta restunya."
Anya tertegun. "Ibumu ... bukannya koma?"
"Ya. Tapi entah kenapa, aku percaya kalau dia selalu mendengar."
Anya diam. Tampaknya Kevan benar-benar mencintai ibunya. Ini sungguh kontras dengan Anya yang punya pengalaman sangat buruk dengan ibu kandung sendiri.
Rasanya, Anya tidak nyaman ....
"Soal Mister Murphy," kata Kevan. "Apa dia tau tentang gangguan ledakan amarahmu?"
"Tentu saja beliau tau," jawab Anya. "Riwayat kelamku membunuh suami saja beliau juga tau. Dia kan psikolog yang membantuku pulih, tidak mungkin dia tidak tau. Sumpah psikolog terhadap klien membuatnya bisa menjaga rahasia. Lagi pula, beliau orang yang baik. Aku tidak ingin percaya pada siapa pun lagi, tapi aku tidak pernah meragukan orang itu."
Anya menoleh dan menatap Kevan.
"Karena kau lebih dulu mengenalnya, kau tidak akan menyangkal instingku terhadap beliau, 'kan?"
"Tenang saja. Dia memang orang baik, sebaik yang kaupikirkan."
Anya menghela napas lega.
"Kalau dia tau kau juga mengerikan, kenapa dia hanya mencemaskanmu, ya?" tanya Kevan, membuat Anya bingung. "Aku memang sedikit aneh, tapi bukankah kau bisa membunuh kapan saja? Kurasa seharusnya Murphy lebih mencemaskanku ...."
Anya mendengus. "Dengar, bodoh. Banyak orang yang membuatku marah selama ini, apa mereka semua mati kubunuh? Aku hanya akan marah kalau ada hal yang benar-benar tidak bisa kutoleransi."
Kevan tersenyum. "Omong-omong soal gangguanmu, kau tidak penasaran kenapa kau bisa berhenti memukuli Daren? Padahal waktu itu kau seperti akan memukuli Daren sampai mati dengan senjata kayumu. Tapi setelah kupeluk, kau langsung diam, loh ...."
Ah, benar. Anya sempat memikirkan ini sebelumnya, tapi dia mengabaikannya karena setiap memikirkan itu, dia selalu merinding entah bagaimana.
"Kau membisikkan mantra-mantra, ya?" selidik Anya.
"Mantra apa yang kaumaksud? Gendam? Sihir?" Kevan terkekeh. "Daripada kau kebingungan, lebih baik kau kuberitahu. Aku, calon suamimu yang tampan ini, sebenarnya punya kemampuan hipnosis."
Melongo sebentar, Anya sontak tertawa mengejek. "Are you joking me ...."
"Aku membuatmu merasa nyaman dan fokus, jadi sugesti yang diberikan padamu lebih mudah diterima. Itu juga bukan hal besar. Kita bahkan sering terhipnotis di kehidupan sehari-hari."
"Kurasa yang kaupakai itu bukan metode hipnosis, tapi gendam?"
Kevan tertawa. "Coba kaupikir, Snow. Kenapa kau bisa memercayai Murphy dan tidak ragu menceritakan semua masalahmu padanya?"
"Karena niatku memang ingin membagi masalah dengannya."
"Ingat apa yang dilakukan Murphy terlebih dulu padamu sebelum kau dibuat nyaman hingga kau membagi masalahmu tanpa ragu?"
Anya diam.
"Psikoanalis seperti Mister Murphy sudah familier dengan metode hipnosis. Yang kaumaksud gendam itu bukan hipnosis, tapi memang gendam. Ah ... aku kurang suka membahas hal supranatural, tapi sejauh yang kutahu, hipnosis dan gendam adalah dua hal yang berbeda."
"Aku mengerti," angguk Anya dengan pose mengapit dagu. "Aku lebih percaya lagi kalau kau mau bersumpah bahwa kau tidak menggunakan setan untuk menghipnotisku."
Kevan benar-benar dibuat terbahak-bahak oleh Anya. Karena di dalam mobil terasa sunyi, tawa Kevan membuat Anya merinding sendiri.
"Kau sudah lama tidak dipeluk. Kau mungkin merindukan sentuhan pria. Ketika ada yang menenangkanmu dengan lembut, seluruh perhatianmu jadi berpusat pada kelembutan itu. Di saat itu kau tidak peduli dengan apa pun lagi, dan kondisi seperti itu membuatmu mudah dikendalikan."
"Masuk akal. Tapi bukankah yang kaukatakan barusan adalah sugesti yang kaucoba tanamkan di pikiranku supaya aku percaya?"
"Haha." Kevan terkekeh. "Pikiran memang seluas dan serumit itu, bukan? Jangan sampai kita jadi gila karena terlalu banyak berpikir, Snow."
Tapi kenyataannya, kita berdua memang sudah gila ....
"Kau pasti tidak ingin membunuh, tapi sayangnya banyak sekali hal yang bisa membuatmu marah. Kau tidak akan tau kapan kau akan lepas kendali. Di saat itu, kuharap aku ada untuk memeluk dan menenangkanmu. Kau tidak boleh berantakan lagi. Aku tidak akan membiarkan tangan halusmu untuk membunuh. Mengingat kau pernah sangat kacau, rasanya melegakan melihat saat ini kau sudah lebih baik, Snow."
Anya diam, kembali menatap ke depan. Untuk yang ke sekian, dadanya kembali berdebar aneh.
"Yeah, walaupun saat ini kau kembali dibuat ketar-ketir karena harus menghadapi orang sepertiku. Hahaha!"
Tawa Kevan dan kalimatnya yang menyebalkan membuat debar aneh dalam dada Anya seketika hilang entah ke mana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bitter Sweet Pervert
Romantik"Beri aku kebebasan mutlak atas tubuhmu." Anya Snow adalah seorang detektif partikelir yang berfokus memata-matai kasus perselingkuhan. Suatu malam, Kevan sang CEO yang sedang naik daun tiba-tiba bertamu ke kantor Anya, memintanya untuk mencari seor...
