Kevan dan Anya sudah berhasil masuk ke gedung perusahaan sebagai karyawan trainee petugas kebersihan.
"Padahal kemarin malam Manajer bilang belum ada orang yang melamar, tapi tiba-tiba sudah ada trainee?"
Supervisor cleaning service kebingungan. Karena malas berpikir di pagi hari, dia memilih untuk tak peduli.
"Ya sudahlah. Toh kami kewalahan karena kekurangan anggota. Well, kau, Brewok. Aku tidak tau masalah apa yang membuatmu tidak mau memangkas jenggotmu, tapi karena kau berpenampilan rapi, kau akan kubiarkan. Hari ini tugasmu mengepel lantai sepuluh. Anggota lama akan membimbingmu."
Kevan mengangguk singkat. "Baik, Madam."
Supervisor wanita itu memerhatikan Kevan dengan saksama. Karena tubuhnya gempal dan pendek, dia perlu mendongak agar bisa menatap wajah Kevan saat dia sudah berdiri di depan pria itu.
"Tubuhmu kekar dan tinggi. Kulihat-lihat wajahmu juga tampan. Kalau kau merapikan brewokmu ini, dan mengubah gaya rambutmu, kurasa kau akan populer."
Anya yang berdiri di samping Kevan diam-diam berusaha untuk tak tertawa.
"Terima kasih, Madam. Tapi aku tidak berniat jadi populer karena aku hanya butuh uang dan pekerjaan."
Madam dengan nametag Taylor Smith itu tersenyum simpul. "Anak baik. Kalau begitu, pergilah. Jordan, bimbing trainee ini dan buat dia bisa membantumu dengan maksimal!"
"Yes, Madam!"
Kevan bersiap pergi. Dia mencari kesempatan untuk mengedipkan sebelah matanya saat meninggalkan Anya.
"Dan kau, tugasmu mengambil sampah di lantai satu sampai lantai lima. Dorothy akan membantumu," kata Madam Taylor pada Anya.
"Yes, Madam."
Saat Anya hendak bergegas pergi bersama senior cleaning service bernama Dorothy, tiba-tiba Madam Taylor mencegat Anya.
"Kau datang bersama Dimash, ya? Apa dia temanmu?"
Dimash adalah nama samaran Kevan.
"Tidak. Aku mengenalnya baru hari ini karena kami sama-sama menjadi trainee," dusta Anya.
"Oh, begitu, ya?" Gelagat Madam Taylor mulai aneh. "Em, apa kau bisa meminta nomor ponselnya nanti untukku?"
Sudah Anya duga. Madam Taylor, dari caranya melihat pria dengan tubuh atletis seperti Kevan, sudah jelas bahwa dia adalah tante girang.
Omong-omong, Taylor ini ternyata bodoh juga. Padahal, jika dia ingin tahu nomor ponsel Kevan, harusnya dia mencari tahu dulu berkas lamaran Kevan. Tapi mungkin karena manajer cleaning service ini sulit dihubungi, Taylor jadi tak punya cara untuk mencari data. Makanya dia memilih untuk bertanya langsung pada Anya saja.
"Bisa," balas Anya pendek. "Tapi katanya istrinya pemarah."
Taylor tampak terkejut. "Jadi dia sudah punya istri?"
"Bukankah aneh kalau pria setua dia belum menikah?"
"Ah, apa pun itu, aku tetap ingin nomor ponselnya. Tolong, ya. Sebagai gantinya, kau akan kuterima langsung untuk segera menjadi karyawan resmi di sini."
Anya tersenyum. "Baik, terima kasih, Madam."
Begitu keluar dari ruangan, senyum yang Anya tunjukkan pada Taylor sebelumnya seketika lenyap. Padahal Kevan sudah berdandan sekonyol itu, tapi masih saja ada orang yang terpikat padanya. Anya merasa kesal karena ini.
Apalagi Tante Girang itu masih tetap nekat menginginkan nomor ponsel Kevan meskipun Anya memberitahu bahwa Kevan sudah menikah. Itu membuat Anya merasa ingin menjambak rambut Taylor saja rasanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bitter Sweet Pervert
Romance"Beri aku kebebasan mutlak atas tubuhmu." Anya Snow adalah seorang detektif partikelir yang berfokus memata-matai kasus perselingkuhan. Suatu malam, Kevan sang CEO yang sedang naik daun tiba-tiba bertamu ke kantor Anya, memintanya untuk mencari seor...
