Empat Puluh Tiga

10.7K 490 6
                                        

Kevan langsung melesat ke toilet begitu Anya mengotori mantelnya dengan isi perut. Sambil menahan marah, Kevan membuang mantelnya begitu saja ke tong sampah. Kemudian mencuci tangan hingga berkali-kali.

Padahal jasnya tidak kena muntah Anya, tapi Kevan juga membuang jasnya sekaligus. Tersisa di tubuh kekarnya hanya rompi rangkap kemeja. Kalau saja rompinya itu tidak wangi, Kevan pasti teringat dengan aroma muntah Anya dan membuang rompi itu sekaligus bersama mantel dan jasnya.

"Wanita sialan," umpat Kevan sembari mengeringkan tangannya. Begitu selesai dengan urusannya di toilet, dia langsung melesat keluar. Dia berniat langsung pergi dari tempat ini seusainya membayar pada bartender.

Sekembalinya di bar, Kevan melihat Anya ternyata sudah tidur saja di meja bar dengan posisi duduk. Tak ada gunanya minta ganti rugi. Bukannya mendapatkan uang, Kevan mungkin malah dimuntahi lagi.

"Maafkan wanita ini, Tuan," kata Bartender pada Kevan. "Suami dan ibu kandungnya baru saja meninggal. Karena itu dia selalu mabuk di sini."

Kevan tak menggubris. Memangnya apa urusannya? Apa bartender bermaksud membocorkan soal Anya supaya Kevan memaklumi tindakan bodoh wanita itu?

"Yang jelas aku tidak akan kemari lagi," semprot Kevan.

Selesai membayar, Kevan lantas bergegas pergi. Namun, saat pintu bar sudah dekat, Kevan malah berhenti tepat ketika dia berselisih jalan dengan tiga pria yang dikenalnya.

Jeff, Molly, dan Theo. Mereka berasal dari keluarga kaya. Khususnya Jeff, dia baru lolos dari tuntutan usai memerkosa gadis SMA.

Mereka adalah orang-orang yang buruk; yang berlindung di balik kekayaan keluarga mereka untuk menindas orang-orang lemah.

"Hei, ada wanita mabuk."

"Dia seksi. Bagaimana kalau kita angkut ke mobil?"

Telinga Kevan langsung tegak mendengar itu.

"Hahaha! Bodoh! Lakukan saja di sini kalau kaumau."

"Maaf," kata Bartender. "Jangan sentuh pelangganku."

"Hah?" Molly membusungkan dadanya, menantang bartender. "Barusan kau bilang apa?"

Merasa terintimidasi, bartender bertubuh kurus itu memilih untuk sadar diri dan diam. Molly lantas menyeringai, lalu menyentuh pundak Anya sambil menatap dua temannya.

"Kita seret ke toilet saja, Jeff," usul Molly, langsung disambut kekehan Theo.

"Lebih baik kita lakukan di mobil," balas Theo.

"Aku setuju dengan Theo," kata Jeff. "Kalau kita melakukannya di toilet, bartender bodoh ini akan merekamnya. Masa bodoh kalau dia mengonsumsi rekaman itu untuk pribadi, tapi kalau dia malah melapor ke polisi, bisa-bisa aku tidur di penjara lagi."

"Bukannya tidak masalah? Penjaramu kan nyaman, hahaha!"

"Bodoh! Tetap saja aku tidak betah, hahaha!"

Kevan tak peduli, maka dari itu dia melanjutkan langkahnya dan keluar dari bar. Sampai di dalam mobil, bukannya langsung menyalakan mesin, dia malah merenung. Walau dia adalah pria yang menjadikan masa bodoh sebagai seni, dia tidak akan setega itu membiarkan wanita yang sedang mabuk untuk disantap oleh buaya-buaya, bukan?

Sial.

Kevan bergegas turun dari mobil dan kembali melesat ke bar. Dia berharap dirinya tak terlambat. Sesampainya di bar, dia seketika terpaku begitu melihat tempat itu berubah berantakan.

Bitter Sweet PervertCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang