Tujuh Belas

15.5K 786 3
                                        

Anya hanya bisa melongo melihat dua orang yang tadinya seperti akan saling memukul hingga mati, kini malah terlihat sangat akrab.

Di depan punggung Thomas yang sedang duduk di kursi kuasanya, Kevan sedang berdiri sembari memberi pijat gratis di punggung dan pundak Thomas yang sudah ditempeli koyo.

"Apa cecunguk itu benar-benar tidak pernah menikah lagi sejak Adelia meninggal?" tanya Thomas kepada Kevan.

"Ya. Kakek benar-benar mencintai Nenek," jawab Kevan. "Tapi tidak ada satu pun anaknya yang meniru kesetiaannya. Aku yakin, semua anaknya berselingkuh dan punya simpanan."

"Termasuk ayahmu?"

Kevan terkekeh. "Termasuk ayahku."

Thomas menyilangkan kedua tangannya di depan dada, membuat otot-otot bisepnya semakin membentuk kentara. "Begitulah kalau anak dibesarkan dengan kemewahan. Setelah dewasa jadi tidak tau diri. Asal kau tau, aku dan kakek brengsekmu itu dulunya hanya gembel. Untung kakek brengsekmu itu pintar. Dia bahkan membuatku punya modal untuk membesarkan nama di ring tinju."

"Kalau hidupmu yang kelam itu berubah karena kakekku, tolong jangan sebut dia brengsek lagi."

"Tidak bisa. Bagaimanapun, dia tetap brengsek. Berani-beraninya dia memutuskan hubungan kerja sama denganku setelah dia kaya-raya!"

"Banyak catatan kelam tentangmu. Kau bahkan memperjualbelikan manusia, bukan? Narkoba, senjata ... kau mau membuat kakekku terjerat risiko seberat itu? Biarkan kakekku tenang di hari tuanya."

"Cih. Kau pikir dia dapat modal dari mana hingga bisa mendirikan bisnis sebesar itu kalau bukan dari uang kotor yang kau sebut tadi?"

"Jangan mengotori sejarah Heisenberg, Tuan Tom. Kakekku bisa mendapatkan semua itu karena dia pintar, bukan karena uang kotormu."

"Kau ingin kupukul lagi?"

"Tidak, jangan. Kalau gigi seriku patah, nanti aku tidak tampan lagi."

Anya menatap kedua pria yang seperti tak habis topik untuk terus adu mulut itu dengan kening berkerut. Sampai akhirnya kejengkelannya yang tak terbendung membuatnya spontan berseru, "Kurasa kalian mendadak punya teman baru? Apa aku pergi saja supaya tidak mengganggu suasana?"

Thomas dan Kevan lantas menoleh. Diam sejenak, Anya pikir mereka akan langsung menghampiri Anya. Di luar dugaan, kedua pria itu ternyata malah kembali melanjutkan pembicaraan yang sempat terhenti.

Wajah Anya memerah. Berani-beraninya dua pria itu mengabaikannya! Terutama Kevan! Mengapa dia menjadi sangat akrab dengan kakeknya setelah bertengkar!?

Anya benar-benar tak mengerti dengan hubungan antarpria. Daripada emosi di sini, Anya memutuskan untuk pergi dari ruangan besar itu, diikuti oleh Zeus yang masih ingin selalu dekat dengannya.

Setelah Anya pergi, topik pembicaraan antara Thomas dan Kevan mulai berubah.

"Jadi, kau orangnya?" tanya Thomas dengan mata terpejam, menikmati pijatan jari Kevan di pundaknya yang keras dan lebar. "Lima belas tahun lalu, aku mendengar berita yang berusaha disembunyikan oleh keluarga Heisenberg dari media. Tentang cucu Joseph yang masih remaja, dia melumpuhkan tiga puluh orang seniornya hanya sendirian. Karena cucu Joseph ada beberapa, aku tidak bisa menebak salah satu. Tapi sekarang aku yakin kaulah remaja itu."

"Kenapa kalau itu benar aku?" tanya Kevan. "Kau ingin merekrutku jadi anggota mafia?"

"Ya, jadi tukang urutku."

"Sayang sekali, aku tidak pernah berniat menjadi anak buah siapa pun. Dan pijat ini, aku akan meminta bayaranku nanti."

"Kenapa kau menginginkan cucuku?" tanya Thomas, masih memejam matanya dengan pose tangan bersilang di dada. "Joseph, walaupun brengsek dan bodoh, aku tau dia orang baik. Sedangkan kau, entah kenapa aku tidak bisa merasakan auramu. Dibilang lemah, kau sama sekali tidak lemah. Dibilang bodoh, walaupun memang sedikit bodoh, tapi aku yakin kau sangat pintar. Aku ingin percaya kau orang jahat, tapi aura jahatmu sama sekali tidak terasa olehku. Kau membuat orang lain kebingungan dengan dominasi anehmu."

"Kau berlebihan, Tuan Tom. Aku hanya pria yang kebetulan suka masak."

"Apa yang kau inginkan dari Anya?" Diam sejenak, Thomas membuka matanya sebelum melanjutkan, "Kau tidak berniat ingin menguasai kerajaanku dengan cara mendekati Anya, 'kan?"

"Jangan khawatir. Aku hanya tau soal proyek, mustahil untukku bisa merebut kerajaanmu. Biar kujelaskan sedikit. Aku ingin menikah dengan cucumu sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Di antara semua anggota keluarga Heisenberg, hanya aku yang tidak terlalu berambisi dengan kekuasaan. Kau mungkin menganggapku membual, tapi mau tidak mau kau harus percaya kalau aku ingin menikah dengan Snow hanya karena aku ingin menikah dengannya; hanya karena aku ingin hidup bersamanya."

"Kenapa harus cucuku?"

"Karena ... hanya dia yang pantas?"

"Dia pernah membunuh suaminya sendiri. Kau pasti tau riwayat kelamnya itu."

"Ya, aku tau."

"Kau ingin menjadikan dia bahan percobaan apa?"

Kevan menghela napas. "Kau benar-benar tidak mau percaya, ya?"

"Tentu saja. Bagaimana bisa aku langsung memercayakan cucuku untuk diberikan pada monster sepertimu? Kau pikir aku sudah hidup berapa tahun? Aku sering bertemu manusia tanpa aura sepertimu; yang tidak jelas baik atau busuknya, yang terlihat seperti teman, tapi justru malah ancaman; atau terlihat seperti ancaman, tapi justru adalah teman. Manusia tidak jelas sepertimu, perlu diwaspadai. Apalagi ... ini menyangkut tentang cucuku ...."

Kevan diam.

"Beberapa hari ini Anya tidak bisa dihubungi. Salju menumpuk padat di depan rumahnya, dan aku menemukan jejak sepatu pria di dalam rumahnya. Kalau jejak sepatu itu dicocokkan dengan ukuran sepatumu saat ini, semuanya akan menjelaskan ke mana cucuku menghilang belakangan ini. Ditambah kejadian hari ini; dia tiba-tiba datang bersama seorang pria untuk meminta restu menikah. Kau pikir aku tidak merasa aneh? Aku yang paling tau soal Anya yang sudah bersumpah tidak akan pernah lagi menikah sampai mati. Lalu ... mengapa dia tiba-tiba ingin menikah? Mengapa dengan pria yang bahkan belum lama dia kenal?"

Kevan masih diam.

"Kalau kau berkata jujur, aku akan mempertimbangkan kejujuranmu. Asalkan kau jujur, aku akan memberikan apa yang kau mau dengan mudah."

Keadaan menjadi sangat hening sebelum Kevan berkata, "Aku hanya ingin merasa hidup."

Giliran Thomas yang diam.

"Kau tau aku bisa membunuh siapa pun, termasuk ayahku, paman-pamanku, semua sepupuku ... tapi aku memilih tidak melakukannya karena mereka semua masih keluarga kakekku. Rasanya menyebalkan ketika kau memilih hanya diam di saat kau mampu melakukan apa pun yang kau inginkan. Perasaan itu lama-lama berubah jenuh, akhirnya kau mati rasa. Tapi sialnya kau masih harus tetap hidup sebagai manusia."

Thomas masih diam.

"Aku tau ini egois, aku tau Snow tidak suka dengan caraku. Tapi aku tidak menemukan hal yang bisa membuatku merasa hidup ... selain dirinya. Mau tidak mau, dia harus bisa kumiliki, atau aku akan melepasnya setelah aku membunuh diriku sendiri."

Thomas terkekeh ringan.

"Anak muda sekarang ... kenapa begitu terobsesi dengan bunuh diri? Kau tidak iri denganku yang masih tetap tampan di umur segini?" Thomas mengesah. "Kalau begitu, kau bunuh diri saja. Anya tidak akan pernah bisa kau miliki."

"Ah ... soal itu ...." Kevan menyeringai samar. "Aku belum ingin mati sebelum aku melihat ibuku bangun dari komanya. Karena itu ... pilihan yang bisa kuambil untuk saat ini hanya satu; bagaimanapun caranya, Anya Snow harus jadi milikku."


Bitter Sweet PervertCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang