Tiga Puluh Tiga

11.3K 582 8
                                        

Resepsi yang melelahkan akhirnya selesai pukul sembilan malam. Anya sungguh ingin cepat-cepat pulang, tapi mengingat dia akan tinggal dengan Kevan mulai malam ini, Anya jadi berharap dirinya mengambang di langit saja.

"Apa kado-kado ini mau kaubawa langsung ke apartemenmu, Kev?" tanya Joseph sambil menunjuk meja panjang di mana kado-kado bertumpuk dari para tamu menjulang di sana.

Melihat itu, Kevan mengesah. "Peduli apa dengan kado? Itu hanya akan jadi sampah di rumahku."

Anya langsung mendongak dengan ekspresi julid. Lalu dia tatap Joseph sambil tersenyum. "Aku ingin kado-kado itu tetap dibawa ke apartemen, Kek. Bagaimanapun, pemberian dari orang sekecil apa pun itu, harus dihargai."

Kevan membalas, "Apa tidak ada barang yang mampu kaubeli sampai harus menimbun sampah?"

Sambil kembali menatap Kevan, Anya menyahut, "Ini bukan soal mampu tidak mampu. Ini hanya soal menghargai. Kulihat karyawan-karyawan bangunan yang kausebut rakyat jelata itu juga ikut memberikan kado. Padahal mereka tau kau pasti tidak butuh barang murah, tapi mereka mengusahakannya. Kalau aku jadi kau, aku pasti sudah menangis haru."

Kevan hanya bisa mendesah sinis mendengar perkataan Anya. Joseph yang melihat itu kian terkekeh.

"Anya benar-benar baik hati, ya. Aku lega Kev menikah dengan wanita sepertimu. Karenamu, cucuku bisa mengimbangi keangkuhannya." Joseph mengusap lembut ubun-ubun Anya. "Tapi, kuharap kau tidak terlalu membenci Kev. Orang yang dibesarkan dengan sendok emas memang kadang-kadang sulit berempati. Mereka memang tinggal di bumi yang sama, tapi dunia mereka sungguh berbeda. Aku harap kau bisa mengerti."

Setelah berpisah dengan keluarga, Kevan dan Anya akhirnya bisa pulang. Sebenarnya waktu lalu Joseph sempat mengusulkan pada Kevan agar mereka bermalam di hotel saja, jadi Joseph bisa menyuruh bawahan untuk mendekorasi kamar pengantin seindah mungkin.

Banyak yang bermimpi bisa bermalam di hotel termahal itu, namun sayangnya Kevan tidak setuju.

Dibanding satu kamar hotel, unit apartemen Kevan jauh lebih mewah. Tapi sebenarnya alasannya bukan ini. Kevan hanya merasa lebih nyaman jika dia membawa Anya langsung ke apartemennya.

Apartemen Kevan sendiri dihuni oleh orang-orang kelas atas. Sementara Kevan menghuni unit di lantai teratas sendirian—satu lantai itu hanya dia yang menghuni, atau singkatnya, Kevan yang menghuni penthouse di salah satu apartemen milik perusahaan konstruksi dan properti Heisenberg; yang tak lain adalah apartemen miliknya sendiri.

"Apa kau masih belum memikirkan soal rumahmu?" tanya Kevan ketika mobil mereka sudah melaju cukup jauh dari hotel tempat mereka menikah. "Kau bisa menjualnya padaku. Kubeli dengan harga mahal."

"Tidak. Rumah itu tempat pelarianku. Aku masih butuh." Anya menoleh. "Lagian, apa untungnya kau membeli rumah sekecil itu?"

"Daripada tidak dihuni. Lebih baik kaujual."

"Kalau kujual dan rumah itu sudah jadi milikmu, mau kauapakan?"

"Kuperkosa."

Ekspresi Anya langsung berubah. Karena cahaya di dalam mobil begitu lemah, Kevan tak dapat melihat ekspresi Anya saat dia melirik. Yang jelas, pria itu yakin bahwa Anya pasti sangat kesal sekarang.

Anya ini selalu banyak tanya. Kevan yang kadang mood-mood-an juga malas menjelaskan. Jadi Kevan selalu melontarkan jawaban asal yang terlintas dalam otaknya untuk membuat Anya diam—sekaligus kesal.

Sesampainya di apartemen, Kevan lekas turun lebih dulu. Tapi dia kalah cepat dengan Anya yang turun dari mobil tanpa membiarkan Kevan membukakan pintu untuknya.

Bitter Sweet PervertCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang