"Kev, apa yang terjadi?"
Erleen akhirnya memberanikan diri untuk bertanya sambil meletakkan secangkir teh ke nakas. Sementara Kevan masih berada di kamarnya; duduk di tepi ranjang sambil memangku Kyo di pahanya.
Kyo terus menatap penasaran wajah ayahnya. Dia mungkin bingung karena Kevan terus mengusap kepalanya dengan lembut hingga membuatnya mengantuk.
"Aku takut para pelayan di sini berpikir yang tidak-tidak," lanjut Erleen kemudian. "Aku sudah lelah dipandang buruk. Kuharap kau mau mengerti."
"Kenapa kau tidak bilang kalau kau diperkosa?" tanya Kevan dingin. Mendengar itu, tubuh Erleen kontan mematung. "Kenapa kau malah justru berbicara omong kosong tentang perselingkuhan? Tidak salah jika semua orang menganggapmu hina. Itu karena kau sendiri yang mengada-adakan alasan untuk dianggap hina."
Erleen mengatupkan mulutnya, menahan sesak yang ditahannya sendirian selama dua tahun ini.
"Jadi ayahmu akhirnya memberitahumu?"
Kevan mendongak, menatap Erleen dengan sorot mata kosong. "Kau bahkan tidak yakin siapa sebenarnya yang telah memerkosamu, 'kan?"
Lidah Erleen mendadak kelu. Namun, dia berusaha menimpal, "Tidak ada siapa pun yang tau tentang itu, tapi ayahmu mengetahuinya. Bukankah itu berarti ayahmu pelakunya?"
Diam sebentar, Kevan lantas bertanya, "Apa kau tidak melihat wajah pelakunya?"
Erleen menggelengkan kepalanya sambil memijat jemari; seperti anak kecil yang diinterogasi. "Aku tidak ingat apa pun. Saat bangun, seluruh tubuhku rasanya sakit. Aku juga bangun dalam keadaan telanjang, padahal aku yakin aku selalu memakai pakaian lengkap sebelum tidur. Lebih parah dari itu ...."
Erleen mengusap lengannya, menunduk dengan kening berkerut. Seakan-akan dia sedang mencoba bertahan dari rasa sakit saat mengingat kembali hal yang tak menyenangkan di benaknya.
"Kurasa aku dibius total."
Kevan terpegun.
"Aku selalu menemukan bekas suntik di lenganku setiap pagi. Itu cukup masuk akal untuk dijadikan alasan kenapa aku tidak bisa mengingat apa pun yang terjadi selama aku diperkosa."
Jantung Kevan berdetak lebih cepat. Dia tak tahu harus merasa marah ataupun pilu. Dia tahu dirinya juga mengerikan dan jahat, tapi dia tak pernah berpikir untuk memerkosa seseorang dengan cara dibius terlebih dulu.
Karl benar-benar mengerikan.
Sejak kapan alternya itu terobsesi dengan Erleen? Dan kenapa Kevan tak pernah menyadari itu?
"Kenapa kau tidak jujur padaku?" tanya Kevan nanar. "Kenapa ... kau menyembunyikan semua itu dariku?"
Erleen bergeming. Meski dia sudah menahannya, sesak yang ditahannya akhirnya lepas juga. Sambil terisak, dia membalas, "Kau benar-benar tidak pernah mengenalku, ya ...."
Kevan diam. Bagaimana mungkin Kevan tak mengenal Erleen? Mereka bersahabat sejak kecil, tentu saja Kevan sangat mengenalnya.
Erleen adalah orang yang akan menyembunyikan kebenaran jika kebenaran itu pahit untuk orang yang dia cintai.
Meski begitu, bagaimana mungkin Kevan masih tetap bisa berprasangka baik jika Erleen tidak berbicara jujur?
"Dalam waktu dekat, Martin akan menceraikanmu."
Erleen terkejut. "M-maksudmu?"
Alih-alih langsung menjawab, Kevan malah justru membaringkan Kyo yang sudah terlelap tidur ke tengah kasur. Pria itu lantas beranjak dan berjalan melewati Erleen begitu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bitter Sweet Pervert
Romance"Beri aku kebebasan mutlak atas tubuhmu." Anya Snow adalah seorang detektif partikelir yang berfokus memata-matai kasus perselingkuhan. Suatu malam, Kevan sang CEO yang sedang naik daun tiba-tiba bertamu ke kantor Anya, memintanya untuk mencari seor...
