Jennie cukup pandai dalam ujian. Ketika semua orang kesulitan belajar terutama di pelajaran matematika, Jennie dengan bangga mengangkat tangan paling pertama saat menyelesaikan ujian.
Sayangnya, itu tidak berlaku pada ujian prakteknya. Di tahun terakhir dia bersekolah SMA, dia harus di hadapkan dengan ujian praktek olahraga.
Sayangnya, ujian praktek yang di nilai oleh sang guru adalah berenang. Dimana, berenang bukanlah sesuatu yang bisa dia banggakan. Tentu saja, Jennie stress.
Jennie adalah orang berada dimana orang tuanya bisa memberikan segalanya. Kendati dia memiliki kolam renang sendiri, dia tidak pernah mengenakannya.
Itu karena, dia memiliki trauma. Saat masih berumur lima tahun, dia pernah berjalan di sisi kolam renang dan tenggelam. Saat itu juga, Jennie tidak pernah ingin menyentuh kolam renang.
Sayangnya, ujian praktek menyuruh Jennie untuk menyentuh kolam renang lagi. Brengsek.
“Ma, Pa, bisakah kalian membayar guru saja untuk ujianku bulan depan?” Tanya Jennie saat makan malam keluarga.
Tentu saja, kedua orang tuanya terkejut. Keluarganya adalah keluarga terpandang dan jujur. Kendati mereka memiliki banyak uang, mereka tidak pernah menggunakan uang itu untuk membayar sesuatu pada hal yang tidak seharusnya.
“Mengapa, sayang? Sesuatu terjadi di sekolah? Kau tidak pernah mengalami kesulitan sepanjang ujian sebelumnya, bukan?” Tanya mama Kim tampak bingung.
“Aku ada ujian, Ma. Sayangnya, aku di haruskan berenang untuk penilaian ujian akhir. Aku tidak bisa melakukannya.” Rengek Jennie sambil cemberut.
“Oh, sayang…” Desah Mama Kim tampak mengasihani anaknya.
“Jadi, bisakah kita membayar guruku saja? Aku yakin dia akan menerimanya. Lagipula, kau kan pemilik sekolahnya!” Ujar Jennie putus asa.
“Jennie, ingat mengapa kau menyembunyikan identitasmu di sekolah, bukan?” Ujar ayah Kim memperingatkan.
Ya, tentu saja Jennie ingat. Dulu, dia memohon pada orang tuanya agar mereka menyembunyikan identitas keluarganya karena tidak ingin di pandang rendah oleh sekolah.
Itu terjadi karena ketika dia menginjakkan kaki sekolah masa SMP, Jennie mengalami hal tidak menyenangkan.
Semua orang tahu Jennie pintar dalam hal akademis. Tapi, begitu semua orang tahu siapa keluarganya, mereka langsung berpikir bahwa Jennie mendapatkan nilai bagus bukan karena usaha belajarnya, namun karena koneksi orang tuanya.
Itu membuat Jennie sedih selama berbulan-bulan hingga ketika dia memasuki sekolah SMA, akhirnya Jennie meminta keluarganya untuk menyembunyikan identitasnya.
“Aku tahu, ayah. Tapi aku frustasi. Mengapa juga Pak Taeyang ingin penilaian berenang padahal ada banyak olahraga yang bisa kita lakukan.” Desah Jennie kesal.
“Sayang, bukankah ini saatnya untuk mengubahmu?” Tanya Papa Kim sembari tersenyum.
Jennie dan Mama Kim menatap Papa Kim bingung.
“Apa maksudmu, sayang?” Tanya Mama Kim pada suaminya.
“Maksudku, sudah bertahun-tahun Jennie mengalami ketakutan itu. Trauma harus di hadapi. Karena jika tidak, sampai kapan dia akan tumbuh menjadi gadis pemberani?”
Mama Kim tahu, suaminya memang memiliki pemikiran yang masuk akal. Tapi, sebagai ibu tentu saja dia khawatir sesuatu terjadi pada putrinya.
“Bagaimana jika dia belum siap? Atau, sesuatu terjadi padanya ketika dia mencoba latihan?” Tanya sang Mama khawatir.
KAMU SEDANG MEMBACA
JENLISA ONESHOOT (GIP)
Fanfiction(21+)INI ADALAH SEKUMPULAN ONESHOOT JENLISA YANG BISA KALIAN BACA SELENGKAPNYA DI KARYAKARSA. DI WATTPAD AKU HANYA POSTING SEBAGIAN BAB SAJA TIDAK BERUPA BAB LENGKAP. UPLOAD SEMINGGU SEKALI.
