“Apakah aku boleh melihat lukamu?”
Itu adalah pertanyaan dari seorang terapis yang terdengar amat sopan.
Lalisa Manoban namanya. Seorang terapis yang berusaha sebisa mungkin menyembuhkan luka setiap pasiennya.
Tak terkecuali pada seorang pasien wanita yang telah menjadi pasiennya selama kurang lebih 1 tahun lamanya.
Sangat lama, memang. Tapi Lisa mengerti kenapa prosesnya sangat lambat.
Karena Jennie Kim, itulah nama pasiennya, memiliki ketakutan dan trauma yang begitu serius.
Ayahnya, sepupunya, beberapa yang Jennie anggap sebagai teman kampusnya, telah melecehkannya, menyakitinya.
Tidak secara bersamaan. Mereka menyakiti di waktu yang berbeda tapi tetap saja. Semua itu menimbulkan trauma berat yang pada akhirnya, membuat Jennie merasa keberatan dengan beban yang sedang di tanggung olehnya itu.
“A-aku tidak tahu.” Jawab Jennie, menunduk. Jennie malu dengan lukanya, Lisa bisa mengerti.
Tapi sebagai terapis, Lisa harus memberitahu pasiennya untuk lebih percaya diri.
Terutama kalau boleh jujur, meski ini sangat tidak professional dan melanggar etika, Lisa sangat mengakui bahwa Jennie memiliki tubuh yang sangat cantik.
Tak hanya itu, tubuh Jennie seksi. Bukannya Lisa mengintipnya. Hanya saja, terkadang Jennie memakai jeans ketat dan lekuk tubuhnya secara tidak langsung, terlihat oleh Lisa.
Sebagai wanita yang normal, yang bisa menilai mana yang bagus atau tidak, itulah pendapat Lisa.
Jennie Kim, meski pemalu dan punya banyak luka, memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang seksi.
“Jennie, wanita harus percaya diri dengan tubuhnya. Itulah yang ingin aku tegaskan disini, oke? Kau itu cantik.”
“Tidak, Dr. Manoban. Tolong jangan bohong padaku.”
“Aku telah menjadi terapismu selama 1 tahun. Apa selama ini, kau pernah melihatku berbohong?” Tanya Lisa dengan tatapan tegas.
Jennie adalah gadis yang pemalu. Bahkan untuk menatap mata saja, Jennie tidak bisa melakukan itu.
Akan tetapi, Lisa tidak membiarkan hal itu terjadi. Dua bulan lalu, Jennie mulai berani untuk menatap Lisa.
Meski kadang tatapan itu tak pernah bertahan lama. Bagi Lisa itu adalah kemajuan paling bagus yang pernah Jennie lakukan.
“Jennie...” Panggil Lisa dengan suara lembutnya.
“Itu... tidak bagus. Lukaku tidak bagus sama sekali untuk dilihat, Dr. Manoban.”
“Dan apa aku peduli dengan itu? Aku hanya ingin melihat saja. Apa kau mengizinkannya atau tidak?”
Tubuh Jennie bergetar ketika Lisa terdengar mendesaknya.
Lisa tidak panik. Sangat wajar bagi pasien bergetar, menangis bahkan mengamuk ketika dirinya mulai mendesak.
Tapi, tidak apa-apa. Lisa hanya ingin melihat sejauh mana pasien mampu bertahan. Meski sulit, Lisa ingin pasien-pasiennya bersedia untuk menghadapi ini.
“Jennie...” Kata Lisa, memanggil lagi.
“Aku tidak bisa sekarang, Dr. Manoban. Maafkan aku.” Kata Jennie. Suaranya begitu pelan.
Lisa merasa sedih karena setelah setahun mereka bicara, Jennie tampaknya masih takut dengan Lisa.
“Baiklah. Tidak apa-apa. Kita bisa bicara lagi lain kali. Tapi lain kali kita bertemu, aku berharap kau memperlihatkan lukamu padaku, boleh?”
KAMU SEDANG MEMBACA
JENLISA ONESHOOT (GIP)
Fanfiction(21+)INI ADALAH SEKUMPULAN ONESHOOT JENLISA YANG BISA KALIAN BACA SELENGKAPNYA DI KARYAKARSA. DI WATTPAD AKU HANYA POSTING SEBAGIAN BAB SAJA TIDAK BERUPA BAB LENGKAP. UPLOAD SEMINGGU SEKALI.
