“Terima saja uang yang di tawarkan itu.”
Jennie Kim, wanita yang berusia 23 tahun, harus menghadapi keegoisan orang tuanya saat ini.
Hanya karena uang.
Tentu saja Jennie tahu kalau karena uang, orang bisa dengan rela melakukan apa saja. Termasuk, menyingkirkan kebahagiaan anaknya sendiri.
“Apa ayah mendengar apa yang dirimu sendiri katakan? Kalau kau menerima uang itu, kau sama saja dengan menjual diriku, ayah!” Jennie menggelengkan kepalanya tak percaya.
“Ayolah, jangan seperti itu.” Kai, kakaknya berkomentar. “Maksudku, semua orang butuh uang, Jennie. Dan wanita itu menawarkan banyak sekali kenyamanan dan uang. Yang kau lakukan hanyalah menikah dan menjadi istri yang berbakti. Bukankah itu memang takdir seorang wanita? Mau cepat atau lambat, takdirmu memang sudah seperti itu.”
Jennie hanya bisa menunduk. Tidak percaya kalau ibu, ayah bahkan kakaknya sendiri menyuruh dirinya untuk menerima uang demi sebuah pernikahan dari wanita yang bahkan tidak dia kenal sama sekali.
“Aku masih muda! Aku belum mau menikah! Kalau pun suatu saat aku menikah, aku akan menikah dengan pria atau wanita yang aku cintai.” Tegas Jennie.
“Cinta? Untuk apa sebenarnya cinta itu? Cinta tidak bisa membuatmu hidup nyaman, Jennie.” Gerutu ibunya. “Kau butuh uang untuk hidup nyaman.”
“Tapi bu—”
“Jangan bantah, Jennie. Kita bahkan sudah menerima deposit sebanyak 50 persen sebelum aku memberikannya padamu. Kau hanya perlu datang ke rumahnya dan kita akan mendapatkan uang sepenuhnya. Hanya itu, oke?”
Hanya? Hanya ibunya bilang?
Pernikahan tidak sesederhana itu. Pernikahan yang Jennie bayangkan tidak pernah seperti ini. Tidak bersama orang asing.
Ya Tuhan!
“Besok.” Kai berkata. “Datangi saja rumah wanita kaya itu besok. Kau tahu? Orang seperti itu rela mengeluarkan banyak uang demi seorang wanita. Yang perlu kau lakukan menuruti saja perintahnya. Lalu, dia akan mengeluarkan banyak uang untukmu.”
“Dan tentu saja, itu akan membuat keadaan keluarga kita berubah.” Tambah ayahnya.
Ketiga orang di hadapannya itu hanya tertawa terbahak-bahak. Mereka membayangkan untuk memegang uang sebanyak yang wanita itu tawarkan.
Tak peduli kalau ada seorang gadis yang tengah menangis di hadapan mereka.
Jennie berlari ke kamarnya, menutup pintu dan menguncinya. Lalu, Jennie mengeluarkan laptop murah miliknya, mencari tahu siapa Lalisa Manoban itu.
Seorang pengusaha yang usianya 30 tahun. Tidak terlalu tua, tapi tetap saja cukup tua di bandingkan dirinya.
Memiliki beberapa usaha besar yang sangat sukses. Itu menjelaskan kenapa wanita itu rela mengeluarkan banyak uang untuk menikah dengannya.
Jennie mencari tahu seperti apa wanita yang sebenarnya ingin menikah dengannya itu. Kenapa dirinya? Siapa wanita itu sebenarnya?
Akan tetapi, Jennie tidak dapat menemukan satu foto pun. Hah, apakah wanita itu jelek? Mungkin itu alasannya dia memakai uang untuk mau menikah.
Karena secara fisik, wanita itu mungkin tidak bisa disukai oleh siapapun, pikir Jennie.
“Hah, sial. Dengan pikiran itu, seolah aku dapat menerima menikah dengan seseorang yang berwajah jelek hanya karena uang.” Gerutu Jennie, kesal pada dirinya sendiri.
Jennie menatap pintu yang tertutup.
Ya, baiklah. Saat ini memang Jennie belum berkencan dengan siapapun. Dia pernah menemukan cinta pertamanya saat SMA.
KAMU SEDANG MEMBACA
JENLISA ONESHOOT (GIP)
Fanfiction(21+)INI ADALAH SEKUMPULAN ONESHOOT JENLISA YANG BISA KALIAN BACA SELENGKAPNYA DI KARYAKARSA. DI WATTPAD AKU HANYA POSTING SEBAGIAN BAB SAJA TIDAK BERUPA BAB LENGKAP. UPLOAD SEMINGGU SEKALI.
