Lisa menatap genangan darah demi darah yang ada di hadapannya. Pistol di tangannya dan entah bagaimana dia bisa keluar dari tempat sebuah lab yang telah menguncinya selama 2 bulan belakangan.
Miyeon, pacarnya... tidak, atau lebih tepatnya mantan pacarnya melakukan ini semua. Pengkhianatan, rasa sakit, Lisa tidak percaya Miyeon melakukan ini demi siapa?
Demi seorang pria tua yang memberinya uang.
Lisa adalah seorang Manoban. Salah satu nama besar yang di takuti oleh banyak orang. Lisa tahu itu dan meskipun dia tidak ingin terjun dalam bisnis seperti ini, tampaknya Miyeon dan orang-orang sekitarnya tak peduli.
Karena Lisa keturunan Manoban dan mereka merasa perlu untuk membunuh seorang Manoban.
Lisa tidak pernah benar-benar berlatih bagaimana cara menembak. Dimana titik tubuh seorang manusia hingga dia bisa terbunuh, Lisa sama sekali tidak tahu.
Tapi dia di hadapkan dengan bahaya. Saat ada seorang penjaga yang mendekatinya, Lisa sudah muak berada di tempat ini.
Secara naluriah, Lisa berhasil menjatuhkan pria di hadapannya hanya dengan satu tendangan. Lisa bahkan terkejut dengan tubuh kurusnya saat ini, dia bisa membuat seorang pria jatuh begitu saja.
Pria itu tidak pingsan dan hampir bangun. Entah bagaimana keberuntungan ada di pihak Lisa karena saat pria itu terjatuh, sebuah pistol mendarat di kakinya.
Kekacauan pun terjadi. Dimulai dari menembak seorang penjaga, dan penjaga lain mulai berdatangan.
Lisa merasa seperti berada di sebuah film laga yang menegangkan. Dia harus menembak arah kanan dan kiri, membiarkan darah ada di mana-mana karena Lisa berhasil membunuh hampir semua orang.
Tapi, Lisa tidak menemukan Miyeon. Sial, satu-satunya yang sangat ingin Lisa bunuh saat pengkhianatan itu terjadi, dia ingin membuat Miyeon jatuh, memohon untuk hidup sebelum dia meledakkan kepalanya dengan satu peluru.
Sekarang, setelah Lisa berhasil keluar dari lab, dia kebingungan.
Kemana dia harus pergi? Chaeyoung?
Tidak, tidak. Chaeyoung adalah sahabatnya yang sangat mendukung hubungan antara dirinya dan Miyeon. Mungkin jika Miyeon datang, menangis pada Chaeyoung, wanita itu akan memberitahu dimana dirinya berada.
Lagipula, Chaeyoung selalu tidak tahan saat melihat ada seseorang yang menangis di hadapannya.
Jadi, tidak. Bukan Chaeyoung.
Lalu siapa?
Jisoo? Itu pilihan yang lebih baik, tapi tetap saja buruk.
Jisoo bisa saja bersikap dingin pada siapapun tapi tidak pada Chaeyoung. Selama mereka bersahabat, hal terlemah yang Jisoo miliki adalah saat Chaeyoung memohon padanya. Jisoo tidak pernah bisa menyembunyikan sesuatu dari Chaeyoung.
Jadi, tidak.
Lisa menghela nafas, merasakan sakit di seluruh badannya. Sebuah pisau menancap di sisi tubuhnya, membuat bajunya berdarah.
Yah, Lisa kira tusukannya tidak dalam dan tidak melukai organ tertentu tapi semakin jauh Lisa berlari dari tempat lab yang di miliki oleh Miyeon itu, semakin sakit tubuhnya saat ini.
Jennie.
Sial, tidak. Apakah dia harus datang ke... mantan pacarnya itu?
Rasanya tidak adil meminta tolong pada mantan pacar yang bahkan enggan mengakui pada dunia bahwa dia lesbian.
Lisa meringis. Jika ada orang yang pandai bersembunyi dan tidak mengatakan apapun pada dunia, itu adalah Jennie.
Lisa ingat bagaimana Jennie menolak fakta bahwa dia menyukai seorang wanita. Dia telah menjadi lesbian.
KAMU SEDANG MEMBACA
JENLISA ONESHOOT (GIP)
Fanfiction(21+)INI ADALAH SEKUMPULAN ONESHOOT JENLISA YANG BISA KALIAN BACA SELENGKAPNYA DI KARYAKARSA. DI WATTPAD AKU HANYA POSTING SEBAGIAN BAB SAJA TIDAK BERUPA BAB LENGKAP. UPLOAD SEMINGGU SEKALI.
