Sekedar berciuman?
Tidak. Karena bagi Lisa, itu lebih dari sekedar hanya berciuman.
Jantungnya berdebar kencang ketika dia merasakan bibir lawan mainnya. Lisa memejamkan mata, merasakan bibir lawan mainnya itu bergerak perlahan, menjilat dan menghisapnya.
Lisa menahan diri untuk tidak mengerang, dia tidak mau terlalu menunjukkan bahwa dia memang sangat menikmati ciuman itu.
“Oke, cut!”
Suara seorang pria terdengar di telinga mereka dan Lisa pun menarik diri secara perlahan. Dan perlahan juga, tangan Jennie yang sebelumnya melingkar di lehernya, terlepas begitu saja.
Mereka saling menatap satu sama lain dan Jennie tersenyum puas.
“Itu luar biasa.” Puji Lisa.
“Ya, lumayan. Kau agak canggung. Tapi, kau bisa mengimbanginya.”
Lisa menunduk, merasa malu karena Jennie menganggap ciumannya agak canggung. Tapi memang begitulah faktanya.
Bukan agak lagi, tapi memang dia merasa teramat canggung dengan ciuman itu. Astaga. Ini sangat memalukan.
“Terima kasih banyak, Jennie. Maafkan aku. Nanti aku janji akan memperbaikinya.” Lisa berkata tanpa melihat mata Jennie saat itu.
“Tidak apa-apa, Lisa. Ayo santai dulu sebentar. Nanti kita ambil adegan lagi.” Ajak Jennie sambil merangkul lengan Lisa.
Lisa hanya bisa mengangguk saja dan membiarkan Jennie meninggalkannya pergi meninggalkan set.
Lisa adalah seorang aktris pendatang baru. Dia baru 2 tahun menjadi seorang aktris. Biasanya, Lisa tidak mendapatkan peran utama. Namun setelah dua tahun bekerja, tiba-tiba saja, Lisa mendapatkan tawaran itu.
Tapi setelah menerima tawaran begitu saja dan menerima naskahnya, baru Lisa menyadari beberapa adegan yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.
Yaitu, beradegan ciuman.
Selama ini, Lisa selalu bekerja hingga dia bahkan tidak pernah berkencan, apalagi tahu cara mencium seorang wanita. Jadi begitulah ketika dia berada di set, kini Lisa pun merasa canggung.
Lisa beruntung karena Jennie Kim, lawan mainnya itu mengerti kondisi Lisa. Bahkan Jennie menawarkan beberapa latihan sebelum mengambil adegan. Itu agak membantunya kalau boleh jujur.
“Sebenarnya, ciuman yang kau lakukan tadi lebih baik dari yang pertama.” Jennie berkata saat dia masuk ke dalam ruangan, diikuti oleh Lisa.
“Benarkah?” Lisa pun duduk di sofa, Jennie duduk di sampingnya. “Kau tidak mengatakan itu karena kau merasa kasihan padaku, kan?”
“Kau konyol sekali. Tentu saja tidak, Lisa. Aku serius. Kau sudah lebih baik. Latihan itu sepertinya membuatmu cukup baik, ya?”
Lisa mengangguk. Sejujurnya, itu agak membantu. Latihan ciuman mungkin bagi sebagian orang memang aneh. Tapi begitulah seorang aktor dan aktris belajar. Dari berbagai macam latihan, termasuk ketika beradegan ciuman.
“Kalau begitu, bukankah kau harus lebih banyak latihan lagi?” Tanya Jennie.
“Apa?”
“Maksudku, apa kau sudah membaca naskah sepenuhnya? Adegannya tidak hanya berciuman, tahu?”
“Apa? Itu tidak mungkin.” Lisa menggelengkan kepala.
“Kau belum membaca sepenuhnya, bukan?”
Lisa akui, dia belum membaca naskah sepenuhnya. Karena dia adalah penghafal yang cepat. Terkadang, dia hanya membaca secara cepat. Jadi, dia tidak tahu ada beberapa adegan penting yang harusnya memiliki latihan.
KAMU SEDANG MEMBACA
JENLISA ONESHOOT (GIP)
Fanfiction(21+)INI ADALAH SEKUMPULAN ONESHOOT JENLISA YANG BISA KALIAN BACA SELENGKAPNYA DI KARYAKARSA. DI WATTPAD AKU HANYA POSTING SEBAGIAN BAB SAJA TIDAK BERUPA BAB LENGKAP. UPLOAD SEMINGGU SEKALI.
