Lisa tidak menatap ke arah lain selain hanya terus menunduk, menatap lantai meskipun tidak ada yang menarik untuk dilihat olehnya.
Dia sebenarnya berusaha menghindar dari seseorang.
Sebagai seorang bos besar dari perusahaan besar, sudah sepatutnya seorang Lalisa Manoban itu mengangkat tatapan matanya dengan penuh percaya diri.
Namun disinilah Lisa, terus menunduk dan tidak mau menatap siapapun. Terutama pada seseorang yang sangat ingin dia hindari.
Alasannya sangat sederhana. Dia terlalu malu hingga dia tidak bisa memperlihatkan wajahnya pada orang tersebut.
“Pagi madam Manoban.”
Lisa tidak berhenti melangkah meskipun telah di sapa oleh sekretarisnya itu. Dia melangkah, bahkan mengambil langkah lebih cepat.
Dia ingin menghindar karena menghadapinya terasa memalukan bagi dirinya.
“Madam, hei! Selamat pagi. Aku bicara denganmu, loh.”
“Pagi, Jennie.” Kata Lisa menjawab singkat.
Lisa memasuki lift secepat mungkin. Namun Jennie yang adalah seorang sekretarisnya, memasuki lift yang sama.
Mendapati itu, Lisa menoleh dan mendapati Jennie tengah menatapnya dengan satu alis terangkat seolah dia menantangnya.
“Kenapa, madam? Kita kan kerja di satu lantai yang sama. Aku sekretarismu, ingat?”
Lisa pun mendengus dan tak lagi menjawab apa yang wanita itu katakan. Tanpa mengatakan apapun, dia segera menutup lift.
Berpura-pura tidak ada siapapun di dalam lift, Lisa pun mengetuk lantai lift dengan sepatu, tidak sabar menunggu hingga berada di lantai paling atas, tepat di ruangannya.
“Menunggu tidak membuat lift ini bergerak cepat. Ingat, lift di kantor ini memang agak lambat. Kau mengakuinya, kan? Kau juga bilang minggu lalu kalau itulah yang kau sukai. Itu membuatmu bisa berlama-lama menyentuhku.”
Lisa berhenti bergerak namun dia tidak berani menoleh sedikit pun pada Jennie.
“Ah, atau... sebaliknya. Lift yang lama membuat aku bisa menyentuhmu dalam waktu yang lama dan kau tidak bisa melakukan apapun selain pasrah. Benar?”
Jennie terkekeh dan Lisa sangat marah. Dia marah karena Jennie tertawa sementara dia merasa malu luar biasa.
“Hentikan itu. Kau sudah berjanji untuk tidak membahas hari itu.” Lisa menggeram. Sikapnya yang mendominasi, mulai muncul.
“Ya, aku memang berjanji karena tidak pernah berpikir kalau kau menjauhiku setelah malam itu terjadi. Padahal, kau menikmatinya di bawah sentuhanku. Kau—”
“Berhenti, Jennie!” Lisa memperingatkan.
“Aku tidak terima kau bersikap seperti ini, Lisa. Apakah aku harus melakukannya lagi agar kau mengingat apa yang kita lakukan malam itu?”
Lisa menggelengkan kepala, menolak untuk melakukannya lagi. Bagi Lisa yang terlalu gila untuk mendominasi seseorang, sungguh memalukan membiarkan dirinya malah di dominasi oleh Jennie.
Semakin memalukannya lagi malam itu, Lisa terlalu menikmatinya. Dia pasrah dan sekretarisnya itu sungguh pandai membuat Lisa terlena pada hari itu.
“Tidak perlu. Lupakan saja malam itu. Aku terlalu mabuk hingga aku tidak bisa melakukan apapun selain pasrah. Tapi lain kali, aku tidak akan membiarkan kau melakukan itu. Apa kau mengerti?”
Mendengar itu, bukannya patuh, Jennie justru mencibir.
“Entahlah... aku ragu. Karena lain kali aku melakukannya, aku ingin kembali berada di atas dirimu.” Kata Jennie dengan senyum penuh percaya diri yang membuat Lisa membencinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
JENLISA ONESHOOT (GIP)
Fanfiction(21+)INI ADALAH SEKUMPULAN ONESHOOT JENLISA YANG BISA KALIAN BACA SELENGKAPNYA DI KARYAKARSA. DI WATTPAD AKU HANYA POSTING SEBAGIAN BAB SAJA TIDAK BERUPA BAB LENGKAP. UPLOAD SEMINGGU SEKALI.
