Ada satu hal yang membuat Lalisa Manoban terguncang. Yaitu, kematian ayahnya yang terjadi di depan matanya.
Pisau menancap di jantung sang ayah, darah ada dimana-mana dan Lisa yang baru berusia 16 tahun, harus menghadapi itu.
Ibunya sudah tiada sejak Lisa berusia 4 tahun dan sejak itulah, Lisa tumbuh bersama ayahnya. Mereka hanya berdua sejak lama.
Lisa dan ayahnya memang tidak begitu dekat. Lisa di besarkan dengan cara yang sangat keras. Seperti, Lisa tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun.
Kala Lisa melakukan sedikit saja kesalahan, Lisa akan mengalami kekerasan. Jika Lisa menangis keras, ayahnya akan memukuli dirinya lebih keras lagi.
Lisa terbiasa diam. Kala sedih, dia menangis tanpa suara sedikit pun.
Tapi dibalik semua kesedihan, selalu saja ada orang baik yang mengelilingi. Setuju dengan itu, kan? Karena Lisa merasakannya.
Lisa yang begitu terguncang, di bawa ke Rumah Sakit untuk diperiksa. Seorang perawat datang menghampirinya. Yang tidak terduga adalah, perawat itu menawarkan Lisa untuk pergi ke rumahnya, menginap sampai Lisa tahu kemana Lisa harus pergi.
Lisa tidak tahu kemana dirinya harus pergi. Dia merasa tidak punya siapapun saat ini. Kedua orang tuanya tidak ada. Lisa tidak pernah dekat dengan saudaranya yang lain.
“Ini rumahku.”
Namanya Kim Jisoo. Seorang perawat muda yang usianya baru sekitar 25 tahun. Dia merangkul Lisa dengan senyum lembutnya.
“Rumahnya memang tidak besar. Aku tinggal bersama adikku. Namanya Kim Jennie. Dia baru berusia 18 tahun. Tahun ini, dia lulus sekolah SMA.”
Lisa hanya mendengar dengan seksama setiap informasi yang perawat itu katakan.
“Ayah kami sering berada diluar rumah. Dia bekerja sebagai supir pribadi dari keluarga yang sangat kaya raya.” Jisoo menjelaskan lebih jauh.
“Bagaimana dengan ibu kalian?” Tanya Lisa dengan suara pelan.
“Ibu kami pergi meninggalkan kami demi laki-laki yang lebih kaya.”
“Oh. Maafkan aku.” Lisa mengerutkan kening, membayangkan ada seorang ibu yang melakukan itu. Meskipun dia sadar diri. Ayahnya sendiri pun sering melakukan kekerasan.
Diluar sana, banyak orang tua yang memang tidak pantas disebut orang tua.
Ada sebagian orang tua yang memang tidak pantas memiliki anak. Lisa rasa, baik disakiti secara fisik maupun mental, itu sama menyakitkan.
Lisa mengusap kaos berlengan panjang itu dan melangkah lebih dalam ke rumah yang sangat sederhana itu.
Lisa tidak terbiasa masuk ke rumah yang sederhana karena rumahnya sendiri adalah rumah yang sangat besar.
Tapi apa gunanya semua kemewahan itu jika di dalamnya hanya ada rasa sakit yang tidak bisa di obati dengan apapun juga.
“Jisoo! Kau sudah pulang?”
Suara seorang wanita muncul dan Lisa menatap seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar.
“Itu Jennie.” Jisoo menunjuk seorang gadis yang keluar dari kamar itu sebagai gadis bernama Jennie.
Mata Jennie tertuju tajam pada Lisa. Dan Lisa merasa terintimidasi oleh tatapan yang baru saja Jennie perlihatkan itu.
Lisa memainkan kaos di bagian lengannya itu, tidak melangkah mendekat sama sekali sementara Jisoo segera mendekati Jennie, lalu memeluk adiknya dengan erat.
KAMU SEDANG MEMBACA
JENLISA ONESHOOT (GIP)
Fanfiction(21+)INI ADALAH SEKUMPULAN ONESHOOT JENLISA YANG BISA KALIAN BACA SELENGKAPNYA DI KARYAKARSA. DI WATTPAD AKU HANYA POSTING SEBAGIAN BAB SAJA TIDAK BERUPA BAB LENGKAP. UPLOAD SEMINGGU SEKALI.
