DARK WORLD

727 36 0
                                        

Jennie terpaksa terbangun ketika mendengar suara hantaman yang begitu keras membangunkan dirinya dari tidur.

Mengerang, Jennie menyingkap selimut. Rumah besar yang saat ini di tempatinya, masih begitu asing.

Dia melirik dengan khawatir sekeliling, sampai kemudian mendengar ada pecahan dan hantaman dari arah bawah.

Ya Tuhan, siapa itu? Kenapa membuat keributan di tengah malam?

Rumah Manoban. Jennie bisa menyebutnya begitu. Rumah yang diidamkan oleh banyak orang, tapi tidak bagi Jennie.

Karena bagi Jennie, rumah ini tidak lebih dari neraka. Banyak kejahatan yang tercium disini dan entah bagaimana, dia yang sebelumnya bekerja sebagai kasir di supermarket harus berada disini.

Ayahnya, membunuh ayah dari keluarga Manoban.

Hanya itu yang Jennie tahu. Dua Manoban lain, mencoba menyiksanya dengan menculiknya. Tapi jujur dalam hal apa bentuk penyiksaan menurut Manoban?

Tidak ada.

Jennie tidak dikurung di bawah tanah. Sebaliknya, dia memiliki kamar sendiri. Setiap hari, ada pelayan yang memberinya makanan lezat, mandi dan berendam dengan air hangat.

Satu-satunya siksaan adalah, dia harus menghadapi keluarga Manoban setiap hari dan tidak bisa pergi kemana pun.

Jennie tak peduli.

Lagipula, tak akan ada yang mencarinya. Jennie tahu keluarganya sendiri tidak peduli. Itulah kenapa dia ditemukan oleh Manoban sebagai wanita penghibur, dan dengan mudah dia dibawa oleh dua wanita Manoban itu.

“Tidurmu terganggu, ya?”

Jennie tersentak dan menoleh pada wanita berambut pirang. Chaeyoung Manoban, kakak kembar dari Lalisa Manoban.

Kepribadian keduanya, sungguh gila sangat berbeda. Jika Chaeyoung bisa bersikap lembut dan masih memiliki rasa kasihan pada dirinya.

Tidak dengan Lisa yang pemarah.

“Aku nyaris terbiasa dengan kemarahan adik kembarmu yang meledak-ledak.” Desah Jennie.

“Aku akan memeriksanya.” Kata Chaeyoung.

Jennie mengangguk. Berharap Chaeyoung bisa meredakan kemarahan Lisa.

Dia kembali ke kamar, menanti beberapa menit. Tak kunjung reda kemarahan itu, namun justru semakin bertambah.

Jennie meringis. Dia harus turun tangan. Turun dari anak tangga, dia pergi ke dapur, tempat keributan berada.

Botol-botol alkohol, memenuhi lantai dengan pecahan yang membuat Jennie khawatir. Jarum suntik menancap di lengannya. Sudah di pastikan, Lisa dalam keadaan tak sadar.

“Jangan mendekat, Jennie.” Kata Chaeyoung, berusaha memeluk adiknya.

Jennie diam, menyadari bahwa mata Chaeyoung memerah. Dia menangis melihat keadaan adik kembarnya.

“Ini berbahaya. Kita harus menelepon seseorang, Chaeyoung.”

“Siapa? Polisi? Kau serius menelepon polisi untuk seseorang yang telah menculikmu selama satu bulan ini? Kau mau menjebloskan adikmu ke dalam penjara? Iya?” 

Jennie tersentak. Bisa dibilang baru pertama kalinya dia mendengar kata-kata kasar Lisa meski dia yakin, Chaeyoung tak bermaksud seperti itu.

“Lisa,” Jennie mencoba memanggil wanita yang biasanya selalu bersikap kasar dan pemarah, begitu penuh dendam pada dirinya itu.

“Semua masih ada di kepalaku. Semuanya. Ayah berlumuran darah di rumah, ibu berada di lemari, ketakutan. Semuanya ada disini.” Lisa memukul kepalanya.

JENLISA ONESHOOT (GIP)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang