Jennie benci pada tekanan yang harus di hadapinya setiap hari.
Di umurnya yang baru menginjak 16 tahun, dimana semua orang seumurannya selalu bermain dan nongkrong di sebuah cafe, bermain dengan teman-temannya, mungkin hanya sekedar pergi berbelanja satu barang dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk memilih satu barang, Jennie tidak merasakan semua itu.
Jennie di pacu oleh tekanan orang tuanya. Dimulai dari les matematika, piano, berenang dan sekarang di umurnya menginjak 16 tahun, Jennie di perintahkan untuk secara serius agar dia bisa menunggang seekor kuda.
Jennie tidak terlalu mencintai binatang, apalagi sampai berani menunggang kuda.
Maka, ketika ayahnya dengan tiba-tiba saja memberikan perintah itu tepat disaat Jennie sedang menikmati makan malamnya, Jennie menghentikan makannya.
“Ayah, aku tidak akan mampu menunggang seperti itu.” Jennie menatap ayahnya, nyaris menunjukkan sikap protesnya.
“Tidak mampu? Keluarga Kim mampu melakukan banyak hal, termasuk menunggang kuda. Kau lupa? Kakakmu bahkan mampu menunggang kuda saat usianya 14 tahun. Aku memberi toleransi padamu karena aku tahu rasa takutmu pada binatang. 2 tahun sudah tertunda dan menurutku, sudah saatnya kau menghilangkan perasaan takut itu, Jennie.” Ayahnya menatap Jennie dengan tatapan tajam.
“Tapi ayah—”
“Jennie,” Ibunya menyela. “Ikuti saja apa yang ayahmu inginkan, ya? Aku yakin dan sangat percaya bahwa kau sangat mampu melakukan itu, oke? Kau juga harus percaya pada dirimu sendiri.”
Jennie menghela nafas. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana tubuhnya berada di atas binatang itu. Hanya membayangkan saja, rasa takut membuat Jennie lebih tertekan.
“Aku sudah memanggil seorang instruktur.” Ayahnya menambahkan. “Seorang wanita. Jadi, jangan khawatir. Umurnya sekitar 30 tahun.”
Yang berarti, 14 tahun lebih tua dari dirinya, pikir Jennie.
“Besok, dia akan datang. Lakukan dengan baik. Kakakmu, Jisoo hanya butuh 2 minggu untuk menguasai menunggang kuda. Jadi aku harap, kau mampu melakukannya dengan lebih baik.” Kata ayahnya.
Lebih baik dari dua minggu? Untuk menghadapi rasa takut saja, Jennie merasa belum mampu.
Apalagi membiarkan dirinya menguasai menunggang kuda dalam waktu dua minggu? Atau bahkan kurang dari dua minggu?
Jennie hampir menangis membayangkan tekanan itu. Dia benci dengan fakta dirinya selalu di bandingkan dengan kakaknya yang selalu lebih baik.
“Aku yakin kau bisa melakukannya, Jennie. Ayo, lanjutkan makan malammu. Habiskan, ya?”
Jennie menatap ibunya yang berbicara dan dengan enggan, dia menganggukkan kepalanya.
Makan malam itu di penuhi dengan percakapan antara apa pencapaian Jisoo serta harapan kedua orang tuanya yang terus mengatakan bahwa mereka berharap Jennie juga mampu melakukan itu.
Diam-diam, Jennie hanya menghela nafas.
***
Panggilan dari lantai bawah membuat Jennie yang baru saja menyelesaikan berpakaian dengan pakaian yang santai, bergegas berlari menuruni anak tangga.
Kedua orang tuanya, Jisoo, serta seorang wanita yang tidak di kenalnya, tengah duduk di ruang tengah, membicarakan sesuatu.
Sampai kemudian mereka mendengar langkah kaki Jennie, dengan serempak mereka menoleh dan pada saat itu juga, Jennie menghentikan langkahnya melihat seorang wanita asing yang pernah dia lihat beberapa kali saat dia berada di pusat kota.
KAMU SEDANG MEMBACA
JENLISA ONESHOOT (GIP)
Fiksi Penggemar(21+)INI ADALAH SEKUMPULAN ONESHOOT JENLISA YANG BISA KALIAN BACA SELENGKAPNYA DI KARYAKARSA. DI WATTPAD AKU HANYA POSTING SEBAGIAN BAB SAJA TIDAK BERUPA BAB LENGKAP. UPLOAD SEMINGGU SEKALI.
