“Suasana hatimu ini benar-benar menyebalkan, Lisa. Aku tidak sanggup menghadapinya.” Jisoo melemparkan setumpuk berkas di atas meja Lisa sambil memutar matanya.
“Diamlah, Jisoo. Kau pikir, aku juga mau merasa seperti ini?”
Lisa memijat keningnya yang berdenyut. Ini karena atasannya meminta agar mereka bekerja sama dengan Jennie Kim.
Jennie Kim adalah seorang saksi, dekat dengan seorang pembunuh. Bisa dibilang, salah satu kaki tangan yang cukup di percaya oleh sang pembunuh. Namun sudah satu bulan telah berlalu, Lisa belum juga berhasil untuk menangkapnya.
Saat mereka menemukan kaki tangan minggu lalu, atasan akhirnya memutuskan untuk menunjuk Jennie agar bisa bekerja sama dengan kepolisian yang menurut Lisa adalah langkah bodoh.
Seperti... bagaimana bisa atasannya itu bisa mempercayai Jennie padahal Jennie adalah kaki tangan dari sang pembunuh?
Memang, Jennie tidak turun tangan dalam pembunuhan secara langsung. Biasanya, Jennie di tugaskan untuk menggoda sang korban dengan membawanya ke gedung tua.
Sebelum di gedung tua itu, akan ada orang lain yang melakukan pembunuhan yang berkat pertolongan Jennie, akhirnya satu orang yang melakukan pembunuhan, akhirnya berhasil tertangkap.
Tetap saja... Lisa belum bisa mempercayai Jennie sepenuhnya. Entahlah, dia memiliki banyak kecurigaan yang menyebabkan Lisa merasa kurangnya antusias dalam menjalani pekerjaan belakangan ini.
“Ayolah, kita semua tahu Jennie benar-benar bersedia mau membantu kita. Kita semua tahu alasan yang sebenarnya kenapa dia terjerumus dalam hal ini.” Kata Jisoo, menepuk pundak Lisa.
“Dan kau benar-benar percaya omong kosong itu?”
“Kita semua tahu itu benar. Kita semua menyelidiki bagaimana ibunya jatuh sakit sampai meninggal. Bagaimana ayahnya memiliki hutang karena pengobatan ibunya hingga Jennie akhirnya terjerumus dalam hal ini. Si pembunuh yang sebenarnya bahkan tahu jika Jennie tak sanggup melakukan pembunuhan dan akhirnya diberikan tugas lain.”
“Ya, menggoda banyak pria yang terbunuh. Bukankah itu sama saja?” Gerutu Lisa, menatap Jisoo dengan tajam.
“Sebenarnya, yang membuatmu terganggu adalah... Jennie yang menjadi kaki tangan si pembunuh, atau karena Jennie yang menggoda banyak pria?”
“Apa maksudmu?” Lisa menatap Jisoo dengan pandangan aneh.
Jisoo mulai membicarakan seolah dia bisa jatuh cinta pada seorang pembunuh yang membuat Lisa sungguh memutar matanya.
Seperti, bagaimana bisa Jisoo memikirkan hal itu hanya karena mereka bekerja sama dengan pembunuh?
Lisa bahkan tidak mengerti. Melihat Jennie Kim bisa akrab dengan rekan kerjanya itu. Lisa adalah satu-satunya yang tidak pernah bisa akrab bersama wanita itu.
“Karena kau benar-benar membenci gagasan Jennie menggoda wanita lain itu. Kau cemburu kan, Lisa?”
“Apa kau mabuk? Aku tahu ini sudah malam. Tapi, apakah kau sudah meminum alkohol? Karena bicaramu mulai melantur dan aku sama sekali tidak menyukainya.”
Jisoo tertawa terbahak-bahak mendengar hal itu.
“Katakan saja jika memang kau cemburu. Aku tidak akan menertawakanmu.”
“Dan sekarang kau sedang tertawa. Dasar bodoh.” Lisa menggelengkan kepalanya.
Dia mengabaikan Jisoo yang terus menggodanya sepanjang malam. Dia mencari tahu tentang si pembunuh utama yang sedang mereka cari.
Siapa dia? Kenapa dia tak pernah menunjukkan diri? Dia bisa saja meminta tolong pada Jennie untuk mungkin saja menelepon si pembunuh utama.
Tetap saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
JENLISA ONESHOOT (GIP)
Fanfiction(21+)INI ADALAH SEKUMPULAN ONESHOOT JENLISA YANG BISA KALIAN BACA SELENGKAPNYA DI KARYAKARSA. DI WATTPAD AKU HANYA POSTING SEBAGIAN BAB SAJA TIDAK BERUPA BAB LENGKAP. UPLOAD SEMINGGU SEKALI.
