EYES ON ME

697 36 0
                                        

Mengabaikan tatapan orang tertentu yang sudah menjadi makanan sehari-hari terus menatapnya dari sudut cafe tempat dimana bekerja, Jennie fokus membuat kopi dan menyiapkan pesanan lainnya untuk para pelanggan.

Ada seorang wanita berponi yang setiap hari, di pagi yang sama datang ke cafe. Dari sudut kejauhan, Jennie dapat merasakan jika orang tersebut melihat ke arahnya.

Entah apa inginnya. Jennie sering bertanya tapi orang itu hanya suka menatap, tanpa bicara. Sekalinya bicara, hanya ada satu atau dua kata yang terucap dari mulutnya.

Meski Jennie mengabaikannya, sering kali Jennie merasa terganggu dan ingin sekali menegur wanita itu.

“Kau harus menelepon polisi, tahu? Dia sangat menyeramkan dengan terus menatapmu seperti itu.” Bisik Jisoo, salah satu rekan kerjanya.

“Entahlah... dia kelihatannya tidak berbahaya. Memang, tatapannya agak menyeramkan. Tapi dia menatapku dari kejauhan. Hanya itu saja yang dia lakukan.” Jennie balas berbisik, matanya tertuju pada wanita itu.

“Dia bahkan tidak bicara apapun. Bukankah jika dia tertarik, setidaknya dia bisa mengajakmu bicara?” Tanya Jisoo dengan heran.

Jennie setuju sekali. Wanita itu, bisa dibilang sangat menarik untuk di tatap. Pakaiannya serba mahal, belum lagi Jennie melihat jika wanita itu sering bergonta ganti mobil yang artinya, dia berasal dari keluarga yang kaya raya.

Dan entah apa yang wanita itu lakukan, hanya berdiam diri di cafe setiap pagi sampai siang, seolah tidak punya kerjaan sama sekali.

“Sudahlah, biarkan saja. Bagaimana pun, dia itu pelanggan tetap kita, Jisoo.” Kata Jennie.

Mereka berdua pemilik cafe. J cafe adalah tempat populer belakangan ini. Dan Jennie dan Jisoo, memang bermula dari bertemu di sebuah cafe lain saat mereka nongkrong dan entah kenapa, tercetus sebuah ide jika mereka ingin membangun cafe bersama.

Jadi begitulah semuanya terwujud. Dari cetusan asal, mereka menjadi rekan kerja dan bahkan terkadang, Jisoo sudah seperti kakak yang menjaga Jennie.

“Aku hanya khawatir saja jika dia pada akhirnya melakukan sesuatu yang mengerikan. Dia tampak seperti penguntit.” Bisik Jisoo, bergidik takut.

“Jangan katakan begitu. Kau tidak lihat mobilnya? Dia tampak seperti wanita kaya raya.” Bisik Jennie membalas.

“Jadi kalau dia kaya raya? Ingat, penampilan itu bisa menipu.”

Jennie memang setuju tapi entah kenapa, dia percaya wanita yang terus menatap ke arahnya itu, bukanlah kaya raya bohongan.

Dari cara jalannya, cara wanita itu bergerak, entahlah... Jennie percaya jika wanita itu sungguh kaya raya.

“Kalau dia sungguh kaya raya, aku harus mendekatinya, tentu saja. Kau tahu kan impianku adalah bisa berpacaran dengan wanita atau pria yang kaya raya.”

Jennie menyeringai tanpa rasa bersalah sedikit pun. Jisoo hanya bisa menggelengkan kepala. Ucapan itu, bukan sekali atau dua kali dia dengar.

“Kau dan impianmu yang satu itu, benar-benar tidak bisa berhenti, ya?” Kata Jisoo.

Jennie hanya terkekeh dan kembali menatap wanita berponi yang sampai sekarang, masih terus menatapnya.

Kemudian, Jennie dengan berani melambaikan tangan, gerakan kecil pada wanita itu. Yang tidak di duga, wanita itu pun menyeringai dan Jennie terkejut dengan hal itu.

*
*
*

Seringai wanita itu entah bagaimana, terus teringat oleh Jennie. Rasa penasaran yang membuat Jennie nekat dan pada akhirnya, dia pun berniat untuk mendekati wanita itu hari ini.

JENLISA ONESHOOT (GIP)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang