NOT JUST A DREAM

887 64 0
                                        

Apa yang dipikirkan orang tentang Lisa?

Pembuat keributan? Sering bertengkar dengan sesama murid? Pemalas? Sering bolos? Diam-diam merokok di sekolah?

Atau, bahkan seorang pembunuh?

Agaknya, beberapa hal dari yang disebutkan melekat pada diri Lisa. Dan, apakah Lisa peduli dengan apa yang mereka katakan? Tentu saja tidak.

Atau, apakah dia harus marah pada apa yang di katakan orang-orang? Tentu saja tidak juga. Kenapa harus marah jika semua itu fakta adanya?

Yah, dia memang tidak pernah peduli dengan apa yang orang-orang katakan tentangnya.

Setidaknya pada mulanya, dia tidak terlalu peduli. Namun... tidak. Segalanya berubah sekarang.

Tepatnya, sejak Lisa merasakan ketertarikan pada seorang gadis yang baru beberapa lama ini dia perhatikan sejak dulu.

Seorang gadis yang sangat anggun, kebanggaan sekolah, pintar, rajin dan segala yang dimiliki berbanding terbalik dengan Lisa.

Lisa tidak peduli pada apa yang orang-orang katakan tentangnya. Tapi dia sangat peduli pada apa yang gadis itu katakan tentang dirinya.

Jennie Kim.

Mereka tanpa sengaja bertemu di lorong sekolah. Pertemuannya sangat klasik. Dia tanpa sengaja membuat Jennie terjatuh, dia menolong Jennie bangun dan Jennie mengucapkan terima kasih.

Tapi astaga, suara itulah yang pertama kali Lisa dengar, yang membuat Lisa tertarik padanya.

Beberapa kali, Lisa merasa Jennie juga menatapnya namun dia percaya, itu hanya angan-angan saja karena bagaimana seorang gadis anggun, cerdas dan cantik seperti itu mau memperhatikan dirinya yang berantakan?

“Terkadang, daripada melihatnya dari kejauhan, kau harus mulai memberanikan diri untuk mendekatinya, tahu?”

Entah sejak kapan, Jisoo muncul di sampingnya. Lisa hanya melirik Jisoo sekilas sebelum dia mengangkat bahu.

“Aku tidak berniat untuk mendekatinya atau memacarinya.”

“Kupikir kau suka padanya?”

“Aku lebih tahu diri dari yang kau kira, Jisoo.” Kata Lisa menggigit sepotong roti yang di pegangnya pagi itu.

“Dan apa maksudnya itu?” Tanya Jisoo, menyipitkan mata.

“Maksudnya, untuk apa aku yang berantakan ini, dekat dengan dia yang pintar, anggun, kebanggan guru dan sekolah? Itu hanyalah angan-angan orang bodoh sepertiku.”

“Menurutku tidak begitu. Jennie sepertinya naksir padamu juga.”

Kata-kata itu terdengar lelucon bagi Lisa yang saat mendengarkan hal itu, hanya dapat tertawa terbahak-bahak.

Jisoo mendengus, tampak kesal di tertawakan oleh Lisa. Tapi tolong jangan salahkan Lisa karena Jisoo sendiri yang memulai kata-kata bodoh itu.

“Aku serius. Lihat, dia sering memperhatikanmu dari jauh. Apakah mau tidak pernah menyadari hal itu?” Tanya Jisoo. “Aku heran kau tidak menyadarinya.”

“Kau benar-benar ingin membuatku semakin bodoh, bukan?” Gerutu Lisa.

Sial. Ini masih pagi. Tapi kenapa Jisoo harus memberikan harapan palsu padanya seperti ini?

“Dengar, Lisa...”

“Tidak, Jisoo. Ini masih pagi dan aku tidak mau mendengar apapun yang kau katakan, yang membuatku semakin berharap pada sesuatu yang tidak ada.” Kata Lisa dengan wajahnya yang tegas. “Aku mau ke rooftop. Kau mau ikut?”

JENLISA ONESHOOT (GIP)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang