Jennie Kim memiliki masalah dalam mengendalikan emosinya sendiri.
Jennie Kim kacau. Terlalu kacau. Saat SMA, Jennie pernah mematahkan tangan seorang pria yang meledeknya. Dia juga pernah membuat hidung seorang wanita patah dan bibir yang robek karena ucapan yang menyebalkan.
Jennie memang tidak bisa mengendalikan emosi, terutama pada orang yang memancing emosinya.
Setelah dewasa, Jennie tidak banyak berubah. Dia tidak pernah bertahan dalam pekerjaannya karena dirinya sering bertengkar dengan orang yang menyebalkan.
Ketika pada akhirnya Jennie ditahan oleh seorang polisi karena berhasil membuat seorang perawat memiliki wajah yang hancur, Jennie tetap diam. Jennie tidak menyesal sudah melakukan itu.
"Aku benci disentuh sembarangan dan aku sudah memperingatkan dia untuk tidak melakukan itu." Jennie menggeram pada seorang polisi. "Wanita itu tidak mempedulikan peringatanku dan lebih baik untuk menghajarnya sampai mati daripada membiarkan dia menyentuhku."
Seorang pria tua itu hanya memijat pangkal hidungnya. Tampak sangat lelah menghadapi Jennie.
Jennie tidak peduli. Jika dia akan berakhir di penjara tanpa masa depan, Jennie tak peduli. Begitulah kehidupannya. Jennie hidup karena dia memang masih hidup. Bukan karena dia ingin bertahan hidup.
"Kau tidak harus memukul wanita. Ini bukan pertama kalinya kau melakukan hal seperti ini. Apa catatan ini menunjukkan fakta?" Tanya pria itu.
"Ya. Ini bukan pertama kalinya dan aku akan terus melakukannya pada siapapun yang berani menyentuhku dengan sembarangan."
Pintu diketuk dan seorang wanita muda muncul di hadapan Jennie. Jennie tidak tertarik pada siapapun dan hanya menunjukkan wajah bosan.
"Halo, perkenalkan namaku Jisoo dan aku adalah pengacaramu." Kata wanita bernama Jisoo itu, lalu duduk di samping Jennie.
Jennie menatap wanita itu. Wanita bodoh mana yang mau membela dirinya yang sudah jelas bersalah?
"Bagus. Apa pembelaanmu, Nona Kim?" Tanya polisi itu, kelelahan.
"Perawat itu mengaku salah karena mengabaikan peringatan dari klienku dan dia mencabut tuntutannya. Dia ingin Jennie keluar dari penjara."
"Apa? Tidak mungkin. Apa kau mengancamnya?" Polisi itu jelas tidak terima.
Setelah semua kata-kata kasar yang Jennie ucapkan, tentunya tidak mungkin bagi polisi tua itu membebaskan Jennie begitu saja.
"Tentu saja, tidak. Itu hal kotor dan aku tidak pernah melakukan sesuatu yang kotor seperti itu, pak polisi." Jelas Jisoo.
Jisoo mengeluarkan surat pada polisi itu dan menunjukkan bagaimana perawat itu mengakui kesalahannya.
"Jika ini kurang bukti, aku bahkan merekam videonya yang menunjukkan kalau dia mengakui kesalahannya." Kata Jisoo, sang pengacara itu.
Wah, pikir Jennie. Sedikit kagum dengan apa yang dimiliki Jisoo. Siapa wanita ini sebenarnya? Kenapa melakukan hal ini untuk membelanya? Bagaimana pun, Jennie hanya senang karena dia sebentar lagi akan bebas.
"Baiklah." Polisi itu selesai melihat rekaman bagaimana perawat itu mengakui kesalahannya. "Kau bebas. Tapi ingat Jennie, kalau kau melakukan ini lagi, aku bersumpah kalau aku tidak akan membebaskanmu begitu saja."
Jennie hanya memutar mata. Karena dia tak peduli dengan ancaman seperti itu dan memutuskan untuk pergi begitu saja. Hah, dia tak peduli dengan masalah kecil seperti ini.
*
*
*
"Polisi itu benar, Jennie. Kau tak boleh melakukan itu lagi. Karena kau marah, bukan berarti kau bisa melakukan kekerasan pada seseorang."
KAMU SEDANG MEMBACA
JENLISA ONESHOOT (GIP)
Fanfiction(21+)INI ADALAH SEKUMPULAN ONESHOOT JENLISA YANG BISA KALIAN BACA SELENGKAPNYA DI KARYAKARSA. DI WATTPAD AKU HANYA POSTING SEBAGIAN BAB SAJA TIDAK BERUPA BAB LENGKAP. UPLOAD SEMINGGU SEKALI.
