MEET THE EX

1.4K 67 1
                                        

Jennie menghela nafas ketika dia meletakkan ponsel di atas meja kerjanya, sementara pundaknya terasa berat karena dia terlalu fokus pada layar laptopnya, mengerjakan pekerjaan dan email yang setiap jam sepertinya selalu muncul.

Dia mencoba untuk meninggalkan pekerjaannya untuk sementara. Sepertinya, dia tidak diizinkan untuk beristirahat meskipun sejenak. Karena Tuhan... dia baru saja berusaha untuk menenangkan dirinya namun dia sudah mendapatkan telepon yang membuat dirinya berusaha keras untuk menahan kesabarannya.

Sambil melangkah keluar, Jennie mendengar tawa cekikikan dari arah ruang TV.

Gadis kecil yang baru saja berusia 8 tahun itu berlarian. Sementara Jisoo, sahabat sekaligus orang yang mengasuh Ella, yang adalah keponakannya, tengah mengejar gadis kecil yang kini tertawa terbahak-bahak.

Terkadang, Jennie berpikir apa sih salah yang dia lakukan hingga dia di berikan beban seperti ini.

Ya, Jennie amat menyayangi keponakannya itu. Dia sering bermain dengan Ella bahkan dia sering menggendong keponakannya itu ketika Ella masih bayi.

Namun bukan berarti Jennie bersedia diberi hak asuh oleh pengadilan terhadap Ella.

Sejak kakaknya kecelakaan dan meninggal bersama suaminya di tempat, semua beban tiba-tiba saja jatuh terhadap dirinya.

Semua ini terjadi satu bulan yang lalu dan Jennie sampai sekarang belum terbiasa untuk menanggung beban ini. Meski begitu, sungguh, dia berusaha keras untuk melakukan yang terbaik.

Namun ada kalanya, Jennie merasa ingin beristirahat dari segala masalah ini dan sepertinya, istirahat tidak akan terjadi dalam waktu singkat.

"Bersenang-senang disana, Ella?" Tanya Jennie, bersandar di dinding dekat pintu.

Mendengar suara Jennie, Ella berhenti berlari. Rambutnya yang panjang, bergerak ke kanan dan kiri saat dia berlari ke arah Jennie.

"Aunty Jennie!" Seru Ella, melompat ke pelukannya. "Kau sudah selesai bekerja?"

"Belum, nak. Tapi sayang sekali, aku harus bicara denganmu tentang sesuatu karena aku harus saja mendapatkan telepon dari miss Lisa bahwa kau membuat keributan di sekolah hari ini."

"Jennie, bicara baik-baik dengannya." Kata Jisoo memperingatkan.

“Kenapa miss Lisa meneleponmu? Dia sudah janji tidak akan melakukannya.” Ella cemberut sambil melipat tangan di depan dadanya.

“Ella, kemari dan duduklah.” Perintah Jennie dengan tegas, mengabaikan peringatan Jisoo sebelumnya.

Wajah Ella langsung berubah. Matanya berkaca-kaca dan siap untuk menangis. Namun Jennie berusaha untuk tetap tegas.

Dulu saat kedua orang tua Ella masih ada, Jennie sering luluh dengan pemandangan itu. Dia selalu menunjukkan kasih sayang dan memberikan pelukan langsung pada Ella, tak peduli apapun kesalahan Ella.

Kakaknya sering menegur Jennie agar Jennie tak memanjakan Ella terus menerus. Dan sekarang, Jennie mengerti kenapa kakaknya memberi peringatan itu.

Karena setiap sesuatu terjadi, Ella memberi pandangan itu seolah dia berharap bahwa Jennie kasihan padanya.

“Ella, dengar. Aku tak suka kau mengucap janji dengan gurumu seperti itu.” Kata Jennie.

“Tapi miss Lisa baik. Dia janji tidak akan meneleponmu dan dia tahu alasan kenapa aku membuat keributan. Kenapa miss Lisa mengingkari janjinya?” Ella cemberut dengan wajah merengut kesal.

“Kau tahu aku sibuk dan karena kau membuat kesalahan di sekolah, kau membuatku di panggil oleh gurumu itu. Sadarkah kau apa yang telah kau lakukan itu adalah kesalahan besar?” Tanya Jennie, melipat tangan di depan dada dengan perasaan kesal luar biasa.

JENLISA ONESHOOT (GIP)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang