Bagian 78

303 11 0
                                        

Bismillahirrahmanirrahim.

Update on : 23 Februari 2025

***

Welcome to my imagination.

Vote sebelum baca dan tinggalkan komentar.

Happy reading.

Bagian 78

^^^
Nara memasuki kamarnya dengan nampan yang berisi baskom air hangat dan juga obat untuk Altaf. Matanya membola saat melihat sosok lelaki itu sedang berdiri membelakanginya yang tampak sibuk membuka setiap lembar buku yang selama ini ia jaga kerahasiaannya, hingga tak menyadari kehadiran Nara.

Setelah meletakkan nampan itu di atas nakas, Nara perlahan mendekati Altaf.

"Mas Altaf!"

Altaf tersentak, ia membalikkan badannya dan membuat buku yang ada dalam genggamannya tersungkur di atas lantai.

Dengan segera Altaf ingin mengambil kembali buku itu, namun gagal karena tangan Nara lebih dulu berhasil meraih buku bersampul birunya.

"Obat sama air hangatnya, Mas. Setelah itu istirahat, Nara permisi dulu."

Perasaan canggung kembali menyelimuti mereka berdua. Banyak sekali pertanyaan yang terlintas di kepala Altaf, ia ingin tahu hal yang belum Altaf ketahui dari Nara.

"Kita perlu bicara," Altaf mencekal pergelangan tangan Nara, mencegah agar perempuan itu tidak pergi meninggalkannya.

"Lebih tepatnya banyak hal yang mau aku tanyakan." Imbuh Altaf.

Hening beberapa saat, "Mas Altaf perlu istirahat, kita bisa bicara besok setelah kondisi mas membaik."

Alibi Nara, sejujurnya ia ingin menerima permintaan Altaf. Namun, untuk saat ini ia masih belum siap jika harus menerima pertanyaan yang selama ini belum pernah Nara persiapkan jawabannya.

Melihat Nara mengayunkan langkahnya menuju pintu keluar, Altaf kembali buka suara.

"Apa malam ini kita masih tidur terpisah?"

"Atau kamu sebanarnya belum bisa memaafkanku?" Imbuh Altaf.

"Mas perlu banyak istirahat, Nara tidak mau mengganggu istirahat Mas Altaf." Lirih Nara.

Altaf mendekat ke arah Nara, "Tidak mau mengganggu atau kamu masih mau menghindar dariku?"

"Aku tahu kamu hanya ingin menghindariku malam ini. Aku hanya ingin kita bicara, kita selesaikan semuanya malam ini. Sudah banyak sekali waktu yg terbuang hanya karena kita terus saling diam, mau sampai kapan? Bukankah kamu yang memaksaku untuk bermalam disini, lantas mengapa kamu masih menghindariku Nara?"

"Segitu tidak pantaskah aku mendapat kesempatan kedua itu darimu? Kamu tidak tahu seberapa tersiksanya aku terus-menerus dihantui rasa bersalah padamu. Bahkan Nyaliku ciut hanya untuk menemuimu, aku lebih memilih menahannya karena takut mengganggu waktumu."

"Atau sebenarnya kamu hanya kasian melihatku sehingga kamu memaafkanku?"

Nara melihat wajah pucat pasi dengan butiran peluh yang mengalir di pelipis lelaki di hadapannya itu.

"Mas, Nara-"

"Aku benar-benar mencintaimu Nara, bahkan jauh sebelum hari pernikahan itu."

Penuturan Altaf itu justru menyayat hati Nara yang jelas-jelas lukanya masih lebam membiru.

Kinara dan Luka (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang