Bagian 77

398 13 0
                                        

Bismillahirrahmanirrahim.

Update on : 10 Februari 2025

***

Welcome to my imagination.

Vote sebelum baca dan tinggalkan komentar.

Happy reading.

Bagian 77

^^^
Terdengar isakan kecil dari Nara, "Nara takut, ma."

Jihan melepas pelukannya, menghapus jejak lelehan air mata yang mengalir di pipi putrinya.

"Apa yang membuatmu takut?"

"Nara takut Mas Altaf benar-benar menghilang dan pergi meninggalkan kami karena Nara tetap bersikeras dengan keputusan Nara waktu itu." Sesal Nara.

Jihan tersenyum, "Nak, kalaupun benar apa yang kamu takutkan, Altaf tidak mungkin melakukan ini semua buat kamu. Dia hanya menghilang dari pandangan kamu, tapi tidak dari sini." Jihan mengetuk dada Nara.

"Dia masih menunggumu, namun dia tidak diam saja. Mama dan papa tahu, dia sedang berusaha memperbaiki diri berharap nanti jika kamu sudah bisa menerimanya kembali, dia akan kembali dengan versi terbaiknya."

"Mamamu benar, papa saksinya. Dia diam-diam sering mengajak papa bertemu di luar hanya sekadar membicarakan tentangmu," Sahut Irwan yang tiba-tiba muncul dari dalam kamarnya.

"Kamu ingat waktu tengah malam hujan deras kamu ingin sekali makan siomay yang ada di dekat kampus? Dan papa berusaha memesankannya melalui aplikasi online, ingat?"

Nara mengangguk, dia sangat ingat sekali malam itu keinginannya benar-benar tidak bisa ditahan hingga membuatnya tidak bisa tidur. Padahal di luar cuaca sedang hujan deras dan petir yang menyambar memecahkan gendang telinga.

"Sebenarnya papa mendapatkan siomay itu bukan dari aplikasi online, tapi Altaf yang membelikannya untukmu. Papa sengaja mengirim pesan padanya bahwa kamu sedang ngidam, tanpa berpikir lama dia langsung mencarikannya untukmu."

"Dia juga yang mengantarkannya kesini, mama yang terima. Melihat dia rela tengah malam dalam kondisi hujan badai menuruti keinginanmu, membuat mama tidak tega melihatnya. Mama coba mengajaknya untuk masuk dan bermalam disini, tapi dia menolak dengan alasan tidak mau membuatmu tidak nyaman karena kehadirannya."

Air matanya semakin deras saat mendengar cerita dari kedua orang tuanya perihal Altaf. Hal itu membuat Nara semakin merasa menjadi istri yang durhaka.

"Awalnya memang papa dan mama sangat kecewa dengan sikap Altaf padamu, tapi disisi lain papa melihat ada kesungguhan dari dirinya untuk memperbaiki kesalahannya padamu. Papa dan mama tidak memaksamu untuk menerimanya kembali, semua keputusan ada di tanganmu. Kami berdua hanya mendoakan yang terbaik untuk kalian." Ujar Irwan yang turut duduk di sofa ruang keluarga.

"Pikirkan baik-baik ya, nak. Mama percaya sama kamu."

Tok,, tok,, tok!

Terdengar suara ketukan pintu, Irwan bergegas untuk melihat siapa yang bertamu malam ini. Setelah pintu terbuka, terlihat sosok lelaki tampan dengan wajah yang tampak pucat pasi.

"Assalamu'alaikum, Pa." Salam Altaf.

"Wa'alaikumussalam, Altaf. Darimana?" Heran Irwan karena melihat penampilan menantunya yang tampak berbeda.

Altaf tersenyum simpul, sambil menyerahkan sesuatu yang telah ia bawa untuk Nara.

"Altaf hanya mau antar ini untuk Nara, Pa."

Kinara dan Luka (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang