Bagian 81

304 8 1
                                        

Bismillahirrahmanirrahim.

Update on : 26 Juli 2025

***

Welcome to my imagination.

Vote sebelum baca dan tinggalkan komentar.

Happy reading.

Bagian 81


^^^
Nara terdiam mendengar penjelasan Altaf, ia tak menyangka jika kenyataannya seperti itu. Ia mencoba mencari sorot mata kebohongan dari Altaf, namun nihil. Altaf tampak sungguh-sungguh dengan semua penjelasannya.

"Mas juga nggak nyangka kejadiannya akan serumit ini, dan mas juga nggak habis pikir kenapa Viola bisa bertindak sejauh itu ke kamu."

"Jadi Viola juga nggak mudah, mas." Celetuk Nara yang membuat Altaf tercengang.

"Maksudnya?"

Nara menarik napas berat, ia merasa kecewa dengan sikap sepupunya namun disisi lain ia juga kasian setelah mendengar cerita dari Jihan perihal keluarga Viola.

"Dia lakukan itu sama Nara karena merasa takdir tidak adil padanya, dia pernah hampir tidak bisa lahir ke dunia karena Tante Kinan pernah mencoba mengakhiri hidupnya saat kakek dan nenek tahu soal kehamilannya."

Kedua mata Altaf membola, ia merapalkan kalimat istighfar saat mendengar cerita dari istrinya. "Lalu?"

"Dan pada saat itu mama yang menolong Tante Kinan, mama juga sempat syok waktu mendengar pengakuan Tante Kinan soal kehamilannya. Akhirnya mama meminta Tante Kinan untuk pergi demi keselamatan bayinya, namun ternyata hal itu disalah artikan sama Tante Kinan, ia berpikir mama mengusir dan berniat membuang Tante Kinan dari keluarga kami. Mungkin dari kesalahpahaman itulah sampai pada Viola, hingga ia mempunyai pikiran buruk ke keluarga kita. Kehidupannya selama di luar negeri ternyata tidak baik-baik saja, keluarganya banyak mengalami konflik baik dari internal maupun eksternal. Jadi hal itu membuat Viola semakin kuat dengan niatnya untuk balas dendam ke keluarga kita."

"Astaghfirullah mas baru tahu cerita yang sebenarnya,"

"Nara selalu berharap semoga dengan masalah ini dia bisa mengambil pelajarannya ya mas, bisa menyesali atas semua perbuatannya dan berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik lagi." Harapan Nara kepada Viola.

"Aamiin, semoga saja ya." Altaf menarik tubuh Nara ke dalam pelukannya.

"Masih ada yang mau ditanyakan atau diceritakan lagi?" Tanya Altaf.

Nara melepas pelukan Altaf, "Sudah cukup,"

"Beruntung sekali mas bisa dicintai oleh wanita seperti kamu, terima kasih. Izinkan mas memenuhi mimpi mas untuk menjadikanmu tuan putri bak negeri dongeng ya?"

"Kita mulai kisah kita berdua beserta princess dan prince junior nanti," Pinta Altaf sambil kedua tangannya menangkup pipi sang istri.

Lengkungan sabit tercetak jelas di bibir Nara, pipi itu merona bagai buah plum yang sangat ranum. Tak bisa dipungkiri, kini Nara merasakan ada ribuan kupu-kupu yang terbang di dadanya. Mereka berdua hanyut dalam suasana, hingga ada sebuah panggilan dari ponsel Altaf yang membuyarkan semuanya.

Altaf menggeser panel hijau yang mengambang di layar saat mengetahui bahwa Kaffa yang meneleponnya.

"Assalamu'alaikum. ya kenapa, Kaf?"

"Bisa kita ketemu? Ada hal penting yang harus kamu tahu." Jawab Kaffa dari seberang telepon.

"Soal apa? Kenapa tidak ngomong langsung saja di telepon?" Tanya Altaf penasaran.

"Tidak bisa, kita harus ketemu. Aku tunggu di Famous Coffee jam 9."

Tanpa menunggu jawaban dari Altaf, Kaffa langsung salam dan menutup teleponnya. Sedangkan dalam kepala Altaf timbul berbagai pertanyaan perihal itu.

"Ada apa, mas?" Tanya Nara saat melihat Altaf terdiam saat panggilan berakhir.

"Kaffa ngajak ketemu, katanya ada hal yang mau dibicarakan. Tampaknya sangat penting, kamu nggak apa kan mas tinggal dulu?"

Nara tersenyum, "Mas tenang saja, lagian juga biasanya kalau mas kerja kan Nara juga sendirian."

"Iya juga sih, tapi entah mengapa rasanya berat sekali ninggalin tuan putri sekarang. Masih pengen menikmati waktu berdua," Goda Altaf.

"Nanti setelah bertemu dengan Kak Kaffa kan bisa dilanjut lagi mas, sana berangkat gih! kasian kalau Kak Kaffa nunggu."

"Baiklah, mas ganti baju dulu."

Altaf bergegas menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Tak lama kemudian ia kembali turun dengan setelan celana kain berwarna cream beserta kaos lengan panjang yang dilipat sampai siku.

Hidung Nara tampak mengendus, indra penciumannya terganggu dengan bau parfum milik suaminya.

"Mas pakai parfum apa sih, baunya menyengat!" Protes Nara sambil menutup hidungnya dengan tangan.

Altaf mengerutkan keningnya, "Pakai parfum yang biasa mas pakai kok, bukannya sayang suka ya baunya?!" Heran Altaf.

Padahal Nara sendiri yang bilang bahwa dia suka sekali dengan aroma parfum yang biasa Altaf pakai.

"Suka gimana, baunya aja nusuk hidung gini kok. Udah sana berangkat dah!" Usir Nara secara halus, karena ia sudah tidak tahan mencium aroma parfum Altaf.

"Iya sudah mas berangkat ya, jaga diri baik-baik di rumah. Kalau ada apa-apa kabari mas langsung!" Altaf mencium kepala Nara singkat sebelum benar-benar pergi.
______

"Hai, bro! Sudah lama nunggu?" Altaf menepuk pundak Kaffa yang sedang fokus dengan layar ponselnya.

"Baru sampai juga,"

Altaf duduk tepat di depan Kaffa, "Sorry, macet banget jalanan. Eh by the way, hal penting apa yang mau lo bicarain?"

Kaffa menunjukkan sesuatu yang ada di ponselnya, "Coba lihat ini!"

Altaf mengambil alih ponsel Kaffa, dengan seksama ia membaca sebuah artikel yang di posting oleh salah satu akun berita. Mata Altaf membola sempurna saat sampai pada halaman terakhir.

"Jadi-" Kalimat Altaf menggantung.

"Dia berusaha kabur dari rutan dengan dalih sedang mengalami gangguan psikis, pihak rutan membawanya ke fasilitas kesehatan yang mereka miliki. Namun dia berhasil kabur saat para petugas rutan sedang lengah, kini dia resmi masuk ke dalam DPO dan pihak kepolisian terus berusaha mencarinya."

"Gue cuma takut dia berulah lagi dengan keluarga kalian," Ujar Kaffa.

"Lo sudah coba cari informasi terbaru soal berita ini?" Tanya Altaf.

Kaffa mengangguk, "Sudah, baru saja gue klarifikasi soal kebenaran berita itu. Kita harus waspada dan bantu mereka untuk menemukan keberadaannya kembali."

"Dan aku saranin lo jangan pernah biarkan Nara kemana-mana sendirian, ini terlalu bahaya buat dia. Kita nggak tahu apa yang sedang ia rencanakan selanjutnya, tugas kita hanya perlu waspada jangan sampai lengah dan membiarkannya kembali melakukan hal yang membahayakan keselamatan Nara dan juga calon bayi kalian." Pesan Kaffa.

Seketika tubuh Altaf membeku, "Naraa!!"

Detik selanjutnya, Altaf bergegas meninggalkan Kaffa begitu saja tanpa pamit.

"Woi, taf!!! Mau kemana lo, gue belum selesai bicara," Teriak Kaffa namun diabaikan oleh Altaf yang terus berlari meninggalkan area cafe.

Kening Kaffa berkerut, "Apa yang sebenarnya ada di pikirannya?!"

***

Jangan lupa vote dan berikan komentar

Terimakasih yang sudah membaca

Yuk berteman di Instagram!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 26, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Kinara dan Luka (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang