Berniat keluar rumah untuk membeli mi instan di minimarket, Ara malah menemukan seorang lelaki terbaring di halaman rumahnya dengan wajah babak belur dan bajunya yang penuh darah. Meski awalnya ragu untuk menolong tapi Ara akhirnya membawa lelaki ya...
Hai hai readers tercinta.... Ada yang kangen aku ga, hehe. Sesuai janji dan request Daniel 2 akhirnya keluar. Yey yey
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kalian bisa langsung cek di profil aku, dan mulai baca.
Tapi karena aku juga lagi ngerjain naskah yang lain jadi untuk update akan bergantian. Sambil nunggu, kalian bisa baca cerita aku yang lain yang gak kalah seru nya.
Daniel 2 ini fokus ke penyelesaian konflik dalam organisasi dan pergantian kepemimpinan, juga penuntasan masa lalu.
Spoiler dikit, bakal ada couple yang menikah dan punya baby. Jadi kalau penasaran, yuk langsung aja baca dan tambahin ke reading list favorit kalian, jangan lupa buat tetep dukung aku dengan vote, komen dan follow ya. Terima kasih.
***
"Siapa kau sebenarnya?"
Lelaki itu masih tetap tersenyum tipis meskipun Daniel memelototi nya dengan netra kelamnya penuh permusuhan. Dia harus mengingatnya. "Aku selalu bertanya tanya, kenapa dia memilihmu. Kenapa dia nekat tetap bersamamu sampai dia terbunuh dengan tidak adil. Kenapa, dia begitu mencintaimu."
Lelaki itu terkekeh pahit, tapi kembali bersuara. "Tapi, kenapa kau membencinya?" Daniel terkesiap melihat raut sedih nampak jelas di wajah lelaki itu. "Kenapa—kau tidak mempercayai nya? Apakah dia sehina itu di matamu Daniel? Hanya karena secarik foto?"
Daniel menelan ludahnya berat, ada rasa sesak di dada seperti di hantam batu besar tepat pada jantungnya. Kenapa ia melakukan itu kepada Yuna?!
Lelaki yang tak di ketahui namanya itu oleh Daniel, mengalihkan pandangan. Kemudian menormalkan kembali ekspresi nya menjadi lebih dingin dan melirik Farrel yang terus melempar tatapan heran. "Aku beri kalian waktu sampai matahari terbenam, setuju atau tidaknya dengan penawaran ku. Tapi kalian tidak bisa dengan mudah keluar dari sini, jika menolaknya. Jadi bijaklah."
Farrel dikejutkan dengan kehadiran belasan orang berdiri siaga seperti pagar manusia dengan pakaian lengkap dan senapan di tangan mereka masing masing. Sialan!
Berbeda dengan Farrel yang gugup karena di kepung pasukan bersenjata, Daniel lebih fokus untuk menanggapi lelaki yang sudah berdiri itu. "Siapa kau? Kenapa—kau melakukan ini?"
Dia terdiam. Daniel dan lelaki itu beradu tatap selama beberapa detik. "Dia harus membayar atas apa yang terjadi pada Yuna. Dan—aku tidak bisa melakukan nya sendiri, untuk membawa Yuna pulang."
Dahi Daniel berkerut, tidak mengerti dengan ucapan lelaki itu. Begitupun dengan Farrel yang merasa kalau lelaki itu sudah tidak waras. Membawa Yuna pulang? Bagaimana? Gadis itu sudah di makamkan dengan tenang sejak 2 tahun lalu? Apa dia akan menggali kuburannya? Tapi apa hubungannya dengan menyerang Jerome bersama kelompok? Bukankah tidak masuk akal?
"Membawa Yuna pulang? Tapi Yuna sudah—"
"Tidak!" Tukas lelaki itu. Wajah nya begitu serius seperti meyakinkan Daniel kalau ucapannya tidak main main. "Yuna belum mati."
***
Kaki jenjang nya melangkah dengan mantap. Suara derap langkah nya terdengar penuh percaya diri saat ia berjalan ke dalam bandara, matanya yang hitam gelap menatap sekeliling ruangan yang ramai dan sibuk. Jantungnya memompa dengan semangat menimbulkan hawa gugup tapi ada perasaan lega terselip di sana. Akhirnya, semua ikatan berat itu sudah terlepas dari beban nya. Ringan sekali rasanya.
Daniel tersenyum lepas. Setelah meninggalkan tanggung jawabnya sebagai pemimpin tertinggi organisasi yang sudah di gadang gadang akan jadi miliknya sejak lama, Daniel merasa lebih hidup. Meskipun ia sempat kebingungan karena tetap saja, meninggalkan organisasi sama seperti meninggalkan keluarga nya sendiri. Tapi Daniel meyakini diri sendiri bahwa meskipun ia pergi, mereka, keluarganya tetap akan bersamanya. Dimanapun itu.
Wajah cerah Daniel meluntur saat menyadari kehadiran orang lain di sekitarnya. "Ngapain kalian ikut?"
Salah seorang itu tersenyum kikuk mendapat pertanyaan dari Daniel yang terdengar malas itu. "Hehe." Kekeh Farrel seraya tersenyum.
"Yang ngurus organisasi siapa kalo Lo ikut gue?"
"Lah bukannya itu alesan Lo ngangkat Jordan sama Brian jadi pemimpin. Gue kira Lo mau gue ikut sama Lo."
"Tetep aja. Lo tuh keturunan Barack juga."
Farrel berdecik enggan. "Dahlah, lagian sejak awal gue gak tertarik sama bisnis keluarga. Jalan syukur, kaga ya udah lah. Bukan urusan gue."
Ia memandang malas pada Farrel yang semudah itu meninggalkan keluarga tanpa terbeban apapun. Tapi kemudian ia melirik ke arah seorang lagi yang masih tersenyum gembira di sana. "Lo juga! Ngapain ikut!"
Orang itu, yang tak lain adalah Terra menggigit bibirnya menahan senyum. "Ngapain gue di sana kalo gak ada Lo."
"Idih." Balas Farrel jijik.
"Alesan gue ikut organisasi ya, karena Lo Niel. Kalo Lo pergi, ya gue gak punya alesan lagi buat tetap di sana."
"Terus mereka?" Daniel melirik pada kehadiran dua gadis yang berdiri kikuk di hadapannya. Rina memasang wajah dingin dan enggan menatap Daniel, juga ada Bianca yang tersenyum hangat pada nya.
"Ya ngapain lagi, selain ngintilin pacar mereka." Sahut Kai dengan wajah datar. Lelaki itu terlihat mengenakan jaket berwarna gelap dengan celana panjang berwarna senada, dan rambut yang acak acakan. "Dah lah, kalian tuh ngehalangin jalan tau gak. Buruan, tar ketinggalan pesawat gak lucu." Ujarnya sambil mendahului kelima manusia yang saling bertanya tak tau tempat di depan pintu masuk. Seperti orang kampung.
Bianca buru buru menggandeng Terra dengan erat, dan tersenyum manis. Sedangkan Rina masih ogah ogahan untuk bertatapan dengan Daniel maupun Farrel yang ada di sampingnya. Daniel tak bisa menahan senyum melihat mereka yang ternyata selalu ada untuknya, bahkan di momen di mana ia akan meninggalkan semuanya di belakang.
Kenapa ia tidak menyadarinya, ia punya hal berharga selain kekuasaan. Meskipun tanpa cintanya, Daniel tetap tak bisa menampik kalau keluarga tidak harus mereka yang punya hubungan darah saja. Mereka yang selalu ada untuknya juga adalah keluarga.
***
Sekalian promosi, buat kalian yang suka genre mafia dan kriminal boleh banget mampir ke book aku yang judulnya "REVENGE". Tapi disclaimer, book itu aku rate 21+ karna banyak adegan dewasa, pembunuhan, kalimat kasar dan vulgar, pengguna senjata tajam, menyinggung soal obat terlarang, pelacuran, juga kejadian yang bisa menimbulkan trauma. Dan tentu aja bukan untuk ditiru, jadi buat yang masih underage di tunda dulu aja ya.Makasih.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.