Paper Wall - Dua Puluh Empat

477 117 16
                                        

“Permisi!” seru Mia sambil melirik ke sekitar. Tak lama pemilik rumah yang sedang ia datangi muncul, tersenyum ramah dan membuat simetris ketampanannya sempurna. “Chanyeol hyung, Seulgi ada di dalam?”

 “Chanyeol hyung, Seulgi ada di dalam?”

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Oh, dia baru saja pulang bekerja. Mau bertemu dengannya?” tanya Chanyeol sambil bersandar di pintu.

“Tidak, aku ingin bertemu denganmu.”

“Lantas kenapa menanyakan Seulgi?” tanya Chanyeol memutar bola matanya.

“Kalau tahu aku ingin bertemu Seulgi, kenapa bertanya?” tanya Mia balik sambil mengikuti pose Chanyeol. Lelaki itu gemas sendiri dan mengacak rambutnya dengan sedikit brutal, membuat Mia berteriak tak tahu malu.

“Ya sudah sana masuk, augh, kenapa Seulgi tidak bisa menggemaskan sepertimu?” tanyanya sambil mendorong Mia yang sibuk cengar-cengir. “Oh, iya! Kekasihku bilang kalian sudah klop? Apa kau mau menerbitkan ceritamu, thor?”

Hyung, aku bukan Thor si pahlawan di film itu.” Chanyeol mengibaskan tangannya di depan wajah Mia sebagai bentuk mengabaikan. “Aku sedang diskusi dengannya, kekasihmu hebat.”

“Tentu saja.”

Mia mengedikkan bahunya lalu melesat masuk ke kamar Seulgi yang langsung menjerit kaget karena posisinya sedang berganti baju. Dia langsung mengomel walau Mia tak mendengarnya sama sekali dan memilih merebah di kasur.

Ia membawakan pesanan Seulgi yang membeli salah satu masker wajah, kebetulan iklannya dibawakan oleh idolanya. Jadi Mia adalah orang yang tepat jika itu berkaitan dengan Kpop.

“Omong-omong, apa kau dan Jooheon sudah sedekat ini?” tanya Mia sangat tiba-tiba sambil melihat-lihat isi chat di ponsel Seulgi tanpa permisi. Segera saja gadis itu merebutnya sambil mengumpat pada Mia yang malah memasang raut tanpa dosa. “Oh, iya. Aku pernah melihat kalian bertengkar, sudah lama. Apa kau punya masalah dengan Jooheon?”

“Waktu di depan rumahnya?” tanya Seulgi memastikan dan Mia hanya mengangguk. “Jooheon menyebalkan. Kau selalu menggodaku dengan bilang bahwa dia menyukaiku, jadi aku pernah memastikannya. Karena jujur, Jooheon memang selalu baik padaku dan aku sedikit penasaran. Tapi waktu itu dia malah bilang kalau kita hanya teman, tak lebih. Jadi aku menegaskannya supaya dia tidak memberikan perhatian lebih padaku dengan sedikit marah, aku kurang suka orang seperti itu.”

“Tapi kalian tetap bertukar pesan, kan?” tanya Mia menunjuk ponsel Seulgi dengan dagunya.

“Aku hanya … ekhem— hanya sering membalas pesannya saja,” sahut Seulgi dengan suara yang diusahakan tidak terlihat gugup. Mia tahu itu. Tapi daripada meledeknya, Mia lebih ingin bertanya hal lain.

“Lantas kenapa kalian membicarakanku?”

Seulgi tak menjawab, dia lebih memilih duduk di meja rias dan membersihkan make-up di wajahnya. Mia tahu, ada sesuatu yang tak diketahuinya dan ada sesuatu yang tak beres selama ini. Selama ia sibuk dengan dunianya bersama Kyungsoo.













Paper WallTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang