Mia menguap lebar.
Menunggu selama lima belas menit di ruangan yang hanya ada dirinya dan Hyungwon membuat ia kebosanan. Belum lagi semalam kurang tidur. Ternyata rasa lelahnya setelah menonton konser kalah oleh ego yang tak ingin memimpikan Kyungsoo.
Alhasil matanya berair sekarang, terus-terusan menguap.
“Ayolah~ kapan kita mulai?” rengek Mia memutar kursinya sambil memejamkan mata.”Tidak bisakah aku digantikan seseorang?”
“Kau ini penulisnya, mana bisa digantikan. Dasar bodoh,” omel Hyungwon sewot sambil mendelik tajam. Mia langsung mengerucutkan bibirnya sambil melemparkan pulpen ke sang empu, kesal. “daripada kau merengek begini, mending bantu idolamu memenangkan penghargaan. Voting-nya sudah dibuka.”
“Eh, jinjja?” tanya Mia berbinar sambil mengambil ponselnya. Dengan semangat ia mencari informasi dengan tak lupa memberitahu teman-teman sesama fangirl untuk membantu melakukan vote.
Biasanya begitu, Kpopers rusuh sendiri membagi-bagi link dan meminta bantuan agar sang idola menang lewat voting dalam acara penghargaan.
Sekitar sepuluh menit berlalu, asisten Hyungwon datang dengan membawa beberapa orang yang akan rapat dengannya. Dengan sigap ia menyenggol Mia untuk berhenti memainkan ponsel dan fokus menyapa.
“Mia!” bisik Hyungwon bangkit diikuti gerakkan Mia yang terburu-buru mengikutinya.
GLEK!
“Eh…?”
Mia langsung membatu, tatapannya terkunci di sorotan serius milik seseorang yang baru datang ke ruang rapat. Mereka masih bertatapan bahkan ketika Hyungwon dengan ramah mempersilakan untuk duduk.
Napas Mia sedikit memburu, ia menelan ludahnya berkali-kali sambil mengikuti ujaran Hyungwon. Tiba-tiba saja rasanya ingin menunduk atau mengabaikan presensinya yang tak juga lepas menatap Mia. Sialnya mereka malah duduk berhadapan.
“Ayo, perkenalkan dirimu dulu.” Hyungwon berujar pelan sambil mempertahankan senyum ramahnya, meskipun ia tahu bagaimana keadaan Mia sekarang. Ia merutuki dirinya sendiri yang terlalu sibuk memperhatikan perusahaannya yang lain sampai tak tahu bahwa tamu yang rapat dengannya adalah orang yang selama ini Mia hindari.
Do Kyungsoo.
“Anyyeong—haseyo,” sapa Mia sedikit terbata. Pertama kalinya dalam hidup seorang Mia Melody, ia memperkenalkan diri dengan begitu buruknya. “Mia Melody, penulis yang bernaung di perusahaan Hyungwon-nim.”
“Ah, anyyeonghaseyo. Saya Park Min Joo, mewakili perusahaan *** Production. Sedangkan dia adalah Do Kyungsoo, sutradara film,” jelas orang di sebelah Kyungsoo sambil tersenyum memperkenalkan dirinya. Kyungsoo sendiri hanya mengangguk sopan dengan masih mempertahankan wajah datarnya karena hanya Mia yang ia tatap.
Sekali-kali ia tersenyum, untuk supaya terlihat lebih sopan dan peduli pada jalannya rapat.
Senyum paksa.
Mia sendiri fokusnya langsung berceceran entah kemana, telinganya seakan tertutup rapat pada apa yang sedang Min Joo dan Hyungwon bahas. Ia sangat yakin bahwa Kyungsoo masih tetap memperhatikannya walau fokus lelaki itu terbagi demi mengikuti rapat.
'Kenapa?'
'Apa yang terjadi?'
'Tidak bisakah dia berhenti menatapku?'
'Tuhan, skenario macam apa ini?'
Jujur, Mia sangat tak nyaman dengan keadaannya. Melihat Kyungsoo setelah tiga tahun berlalu membuatnya sejenak terpana. Dia tampak lebih cool dan tegas, wajahnya tampak dewasa serta tak lupa sorot matanya yang mampu menghisap kesadaran Mia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Paper Wall
FanfikceKetika si pengendali mimpi bertemu dengan Author Fanfiction yang mengandalkan mimpi untuk tulisannya. Ada yang tahu jika mimpi sebenarnya bisa dikendalikan? Jika tidak, ayo berkenalan dengan Mia Melody. Gadis pengangguran yang punya pekerjaan sampin...
