Jihyun terperangah melihat pemandangan di depannya, setelah akhir-akhir ini hanya diam di rumah untuk mendekatkan diri dengan keluarga. Louis menyusulnya dan Mia yang sedang berdiri memadangi foto-foto di salah satu galeri pameran.
“Kau biasa datang ke tempat seperti ini bersama Kyungsoo,” ucap Mia melunturkan senyum Jihyun. Setelah menelpon Baekhyun waktu itu dan bicara dengan Mia, Jihyun yang sudah diberitahu oleh Louis ingin mencoba untuk mengingat perlahan masa lalunya.
Mia dengan senang hati menemani sambil berjaga-jaga kalau Jihyun ingat bagian kemampuannya dalam mengendalikan mimpi, padahal dia sadar bahwa itu hanya menyakiti perasaannya sendiri. Itu berarti tugas kebaikannya akan digantikan orang lain.
Bayangkan jika ada seseorang yang kau cintai tapi dia tidak punya hubungan apa-apa denganmu, lalu sekarang kau seakan-akan ingin menyatukan kembali orang yang kau cintai dengan orang yang dicintainya.
Bagaimana rasanya?
“Hhh~ padahal aku yang merelakan Kyungsoo pergi,” gerutunya menahan panas matanya. Dia harus berjalan meninggalkan Jihyun dulu untuk mengembalikan mata berkaca-kacanya sekarang. Atensinya mengedar memperhatikan potret-potret yang tak ia mengerti di mana letak indahnya, walau jelas sekali hasil gambar yang tersaji bagus bukan main.
Mungkin ini memang bukan tempatnya, Mia biasa datang ke tempat yang rame dan berantakkan. Misalnya Kpop Store yang penuh dengan poster, album, lightstick, stiker, polaroid foto idol, photocard, atau barang lainnya dari yang besar hingga kecil. Tidak seperti sekarang, yang ia lihat hanya beberapa foto terpajang rapi di dinding.
“Kalau sudah puas, beritahu aku. Kita pergi ke teater dan makan di café klasik di dekat sana,” kata Mia memasukkan ponselnya yang barusan menunjukkan layar catatan tempat-tempat yang pernah dikunjungi Jihyun bersama Kyungsoo, dari Baekhyun.
Jihyun mengangguk mendengar ucapan Mia, berbeda dengan Louis yang dengan sendu menatapnya.
"Iya."
“Kyungsoo style. Aku tak mengerti kenapa mereka (Kyungsoo dan Jihyun) menyukai tempat-tempat membosankan seperti ini,” ucap Mia pelan sambil berjalan keluar gedung. “tapi aku mengerti kenapa Kyungsoo dan aku tak bisa berlama-lama dalam menjalin hubungan. Yang kami suka saja berlawanan begini.”
“…”
“Ah, kenapa sih denganku sekarang? Untuk apa aku memikirkan hal yang tak penting begitu?”
“Kau pikir kenapa?” tanya Louis sudah berdiri di sampingnya. Mia tak menyahut seakan sudah tahu bahwa Louis akan menemuinya. Dia hanya menunduk. “Mia, kenapa masih kau sembunyikan perasaan itu? Jihyun bisa membantumu tanpa harus menekankan pada diri sendiri bahwa kau tak bisa bersamanya (Kyungsoo).”
“Aku—"
“Saat Kyungsoo sadar tidak berarti mereka bisa kembali berhubungan seperti dulu.”
“Aku tahu!” seru Mia sedikit meninggi. “Aku tahu. Berhenti bicara, aku tahu itu semua. Aku tidak menekankan diri karena memang aku tak akan bersamanya setelah dia bangun. Apa perlu alasan untukku mengambil keputusan seperti itu?!”
Mia meninggalkan Louis begitu saja, emosinya baru saja terpancing. Akhir-akhir ini dia menjadi lebih sensitif apalagi kalau topiknya membawa-bawa soal perasannya sendiri. Louis hanya mengacak rambutnya sambil mendecak pelan, tak berniat menyusulnya.
“Kalau begitu kenapa harus membantu Kyungsoo bangun? Kenapa harus khawatir sampai melakukan semua ini? Itu namanya kau masih mencintainya, dasar bodoh.”
Louis bukannya tak tahu apa yang menjadi pikiran Mia. Sudah jelas sekali bukan kalau perempuan itu begitu mencintai Kyungsoo? Hanya saja keputusannya seakan membulat untuk tak menunjukkan rasa cinta itu.
Mia enggan berurusan lagi dengan Hyo Jin, ibu Kyungsoo. Orang yang selama ini selalu menyudutkannya tanpa ampun. Bagi Mia, mengulangi kebodohan yang sama adalah tindakan yang konyol. Hyo Jin benar, Mia memang tak lebih baik dari Jihyun. Dia sudah bertekad tak ingin berurusan lagi dengan mereka.
Memangnya apa yang dia harapkan dari dirinya sendiri?
Yang Mia lakukan sekarang adalah membantu Kyungsoo untuk bangun … lalu pergi dari kehidupannya.
***
Kyungsoo perlahan mulai merasa ada yang aneh pada dirinya. Beberapa hal menjadi tak masuk akal.
Mulanya memang hanya karena uang yang ia dapat di saat Kyungsoo tak bekerja. Lalu semakin lama Kyungsoo sadar ada yang tak beres. Kehidupannya seperti sebuah anugerah, apapun yang diinginkannya bisa ia dapatkan dengan mudah.
Bagaimana bisa?
Hal itu menjadi misteri, belum bisa ia pecahkan sampai misteri lain muncul dari suara Mia. Suara itu akhir-akhir ini selalu menyebut nama Jihyun dalam obrolan mereka. Kyungsoo pernah memastikan berkali-kali pada Jihyun apakah mungkin perempuan itu mendengar yang didengarnya juga. Dan jawabannya Jihyun tidak mendengar apa-apa.
Padahal Kyungsoo pikir Jihyun mengenal suara tersebut hanya karena namanya sering disebut.
Mungkinkah dia gila?
Tidak, bukan itu jawabannya. Kyungsoo bahkan pernah sengaja memeriksakan diri ke dokter dan kondisinya baik-baik saja. Ketika Kyungsoo bertanya suara yang didengarnya pada dokter pun, dokter tersebut malah menjawab judul yang didengarnya.
Kyungsoo lupa, selain suara Mia pun ada sebuah lagu yang menemani ocehannya. Dan jawaban sang dokter seakan-akan lagu yang diputar memang sengaja diperdengarkan oleh pihak rumah sakit.
Kalau dipikir, sejak kapan rumah sakit bisa seperti pusat perbelanjaan yang memutar lagu di gedungnya?
Aneh!
“Sepertinya aku harus istirahat,” ucap Kyungsoo sambil berjalan menuju rumahnya. Baru saja ia duduk-duduk di kursi taman untuk menjernihkan pikirnannya, tadinya sekalian menunggu suara Mia untuk kembali menyapa pendengarannya. Soalnya ia bisa mendengar lantunan lagu entah darimana, ia masih belum tahu asalnya.
BRUK!
“Aduh!”
“Maaf!” Kyungsoo berbalik ketika seorang perempuan menubruk bahunya. Keduanya sama-sama tak sengaja.
“Eh …?”
Kyungsoo mengerutkan keningnya ketika perempuan itu segera berbalik dan meninggalkan taman. Perlahan tangannya mengucek mata sambil bertanya, “Apa karena sinar matahari di belakangnya, aku jadi kesulitan melihat wajah perempuan tadi?”
***
“Kau sudah bangun?” Baekhyun masuk ke kamar Kyungsoo dengan membawa air minum baru untuk Mia. Sebelumnya ia mendapati perempuan itu tertidur di kursi sambil memegang tangan Kyungsoo erat, Baekhyun tak tega membangunkannya.
“…”
“Mia, apa kau lelah? Mau pulang saja? Aku antar, ya?”
Baekhyun menyimpan nampan minuman di meja nakas sambil memeriksa infus Kyungsoo, matanya tertuju lagi pada Mia sebagai permintaan jawaban. Sedangkan sang empu malah menatap kosong ke depannya dengan tangan yang perlahan terlepas dari Kyungsoo.
“Baekhyun …”
“Hm?”
“… ap—apa baru saja aku bertemu Kyungsoo di dalam mimpi?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Paper Wall
Fiksi PenggemarKetika si pengendali mimpi bertemu dengan Author Fanfiction yang mengandalkan mimpi untuk tulisannya. Ada yang tahu jika mimpi sebenarnya bisa dikendalikan? Jika tidak, ayo berkenalan dengan Mia Melody. Gadis pengangguran yang punya pekerjaan sampin...
