3 tahun kemudian.
Senyumnya merekah, Mia dengan semangat berlari ke pelukkan Kyungsoo yang terbuka lebar untuknya di pintu rumah. Tubrukkannya cukup keras, sampai Kyungsoo nyaris terjengkang ke belakang. Sekarang dia sibuk misuh-misuh, padahal sudah senang menyambut wanita tersebut dengan cara yang romantis.
Apalah daya … Mia tak bisa diperlakukan demikian.
“Hoi! Dadaku sakit sekali!” keluh Kyungsoo ketika Mia mendongak dan tertawa bodoh di depannya. “Dasar.”
CUP!
“Kenapa menciumku?”
“Karena kau menyebalkan!” kata Kyungsoo membuahkan gelak tawa dari Mia. “Lepaskan sepatumu dulu dan kita makan malam. Aku sudah masak.”
“Arraseo, arraseo~” senandung Mia manja sambil melepaskan sepatunya. Sambil berjalan menuju ruang tamu, ia juga melepaskan jaket serta tasnya. Melemparkan dengan asal ke sofa terdekat dan berjingkrak menghampiri Kyungsoo di dapur. Lantas memeluknya dari belakang dengan gemas.
Kyungsoo terkekeh, padahal biasanya yang melakukan itu adalah lelaki. Pulang kerja disambut istri, disiapkan makan malam, tak lupa memeluknya dari belakang saat ke dapur ketika ada beberapa masakan yang belum selesai.
Ini sebenarnya yang suami siapa, sih? Benak Kyungsoo bertanya-tanya.
“Kyungsoo, aku tidak mau mandi!” ujar Mia tiba-tiba menggodanya. Kyungsoo mendecak, ia membalikkan badannya paksa sampai Mia melepaskan pelukannya. Dia berkacak pinggang melihat senyum konyol orang di depannya.
“Jangan mengujiku. Kau bau! Sudah sepantasnya mandi!” omel Kyungsoo dijawab kekehan oleh Mia. Wanita ini berjalan santai menghampiri meja makan, tangan nakalnya iseng mengambil daging goreng dan memakannya begitu saja di depan Kyungsoo. “Mia! Tanganmu kotor!”
Saat itu juga Mia berlari sambil tertawa ke kamarnya. Kyungsoo tak tinggal diam, ia segera melesat mengikuti Mia. Tak tanggung-tanggung, segera ia gendong wanita tersebut di pundaknya dan masuk ke dalam kamar mandi.
“Kau ini … harus selalu aku yang memandikan, ha?!”
“Kyaaaa~!!!! Hahahaha~!!!”
***
Mia melenguh, membuka matanya perlahan dan menatap langit-langit kamar. Ia mengerjap sesaat lalu berbalik ke samping kanannya, keningnya berkerut kemudian berdecak. Kepalanya sedikit pusing ketika ia bangkit dan menarik selimutnya sampai perut, hari ini sebenarnya suhu sedikit dingin tapi dia malah bangun dengan keadaan memakai tank top saja.
Ia menurunkan kedua kakinya, menyentuh lantai yang dingin. Tangannya tergerak mengambil kameja putih besar yang sedikit kusut sambil berjalan keluar kamar, tak lupa mengancingkannya sampai tuntas.
Setelah meneguk air putih segelas, Mia mendudukkan diri di kursi meja kerja yang sengaja ia letakkan di ruang tamu. Karena kaca di sana cukup besar, membuatnya nyaman melihat keadaan di luar sana. Entah cuacanya atau jalanannya.
Ia nyalakan laptop dan mendesah pelan, sambil menunggu ia ikat setiap helai rambutnya ke belakang dengan asal. Setelah memeriksa sampai mana tulisannya berlanjut, otaknya mulai berputar merangkai kalimat.
“Lagi … kau muncul di mimpiku …” gumamnya menggerakkan jari di atas keyboard. Menuliskan gumamannya barusan. Berikutnya ia hanya mengikuti apa yang sudah otaknya rancang. Menuangkan imajinasi dan perasaannya ke dalam tulisan dengan tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Paper Wall
Fiksi PenggemarKetika si pengendali mimpi bertemu dengan Author Fanfiction yang mengandalkan mimpi untuk tulisannya. Ada yang tahu jika mimpi sebenarnya bisa dikendalikan? Jika tidak, ayo berkenalan dengan Mia Melody. Gadis pengangguran yang punya pekerjaan sampin...
