Paper Wall - Dua Puluh Sembilan

479 122 31
                                        

Kyungsoo pulang setelah berbicara dengan Mia sebentar, ia ingin istirahat karena tubuhnya masih lelah akibat semalaman kemarin tak tidur efek neneknya meninggal. Hyo Jin menyambutnnya di depan pintu, tapi ia terlalu lelah untuk berbicara. Termasuk membahas hubungannya dengan Mia yang pasti masih dipertanyakan oleh ibunya.

"Kau bilang tak punya hubungan apa-apa dengannya ..." ucap Hyo Jin saat Kyungsoo mau melewatinya. " ... lalu apa itu tadi?"

"Maafkan aku."

Hyo Jin mendesis pelan sambil mengalihkan tatapannya dari Kyungsoo. Ia mengembuskan napas berat sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan gestur yang terlihat santai namun pancaran matanya menunjukkan kekecewaan.

"Kau baru saja melakukan kesalahan, Kyungsoo." Kyungsoo menoleh, meminta penjelasan lebih soal di mana letak kesalahan yang dibilang ibunya tadi. Hyo Jin membalas tatapannya dan kembali membuka mulut. "Perempuan seperti itu yang ingin kau jadikan pendamping?"

 "Perempuan seperti itu yang ingin kau jadikan pendamping?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Apa maksudnya 'itu'?" tanya Kyungsoo sedikit tak terima.

"Aku sudah tahu dari Baekhyun. Dia seorang pengangguran, pendidikannya saja sebatas sampai SMA, kerjanya diam di rumah. Kalau orang pintar, seharusnya dia berpikir untuk melanjutkan sekolahnya. Tak heran kenapa tingkahnya bisa begitu seenaknya, apa yang kau harapkan dari Mia?"

Kyungsoo tak menyahut, pada dasarnya memang itu semua sebuah kebenaran. Namun entah kenapa ia tak terima Mia direndahkan oleh ibunya sendiri. Baginya, Mia tak seburuk itu.

"Tapi dia bisa menyelamatkanku dari semua keadaan yang tak berubah sejak dua tahun ini, eomma."

"Apa kami -keluargamu- tak membantu?" tanya Hyo Jin tak terima. "Selama ini kurang apa kami untuk membantumu bangkit?"

Kyungsoo menghela napas lelah, ia mengalihkan perhatiannya lurus ke depan. Ia sungguh tak mau berdebat begini apalagi dengan ibunya sendiri. Walaupun Kyungsoo berkukuh bahwa Mia bisa menyelamatkannya, itu bukan berarti ia tak menghargai usaha keluarganya selama ini.

Hanya saja jika dengan Mia, ia bisa tertawa. Ia bisa merasakan perasaan yang begitu hangat dalam hatinya. Di keluarganya, ia nyaris sulit bernapas kalau mereka sudah menyindir soal pendamping hidup. Mungkin ini terdengar lucu, tapi sedikit-banyak Kyungsoo mendapat tekanan.

Mia bisa membantunya dengan cara yang berbeda. Begitu pikirnya.

Kyungsoo menggeleng, ia memilih masuk dan mengabaikan panggilan ibunya yang tak mendapat respons. Sungguh, Kyungsoo lelah hari ini dan ingin merebah. Berharap jika ia tidur, tak ada Yuh Jung atau Jihyun yang muncul dalam mimpinya.

Karena ia ingin memulai. Memulai untuk mengakhiri kebiasaan jeleknya demi Mia. Untuk orang yang ia cintai.














***

Hari-hari setelah pertemuan keduanya, kini Mia dan Kyungsoo mulai sibuk lagi dengan kegiatan masing-masing. Selain karena Mia yang memang sedang mempersiapkan bukunya, Kyungsoo juga menyibukkan diri supaya tak sedih terus akan kematian Yuh Jung.

Hari ini genap lima hari mereka tak bertemu, hanya saling bertukar pesan mengenai kabar masing-masing. Mia bangun dengan helaan napas berat, melirik jam dan sadar bahwa kali ini ia bangun kesiangan lagi.

Semenjak bisa mengendalikan mimpi, pola tidur Mia sedikit kacau. Selain karena terlalu asyik bisa merancang cerita dan bertemu sang idola dalam mimpi, ia juga menjadi sedikit memaksakan diri untuk menulis.

Setelah gadis ini memberi kabar bahwa salah satu cerita yang ia buat akan dijadikan sebuah buku, pembacanya naik pesat dan tak sabar untuk menantikannya. Belum lagi Mia sedang membuat cerita baru, dan respons pembaca sangatlah baik.

Namun dari semua kegiatannya ini, Mia mulai merasa tertekan. Ceritanya yang diminati banyak orang menjadikannya selalu ingin mengerahkan yang terbaik dan membuatnya terus tertidur demi mendapatkan scene sempurna yang ia dapatkan dari mimpi.

Kepalanya sekarang sedikit pusing, mungkin efek terlalu lama tidur di saat kemarin malam ia melewatkan makanannya. Wajahnya juga pucat dan berkeringat, ternyata menekuni dunia menulis bisa membuatnya seperti ini.

Shin Hye masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu, ia sudah siap untuk membangunkan anak gadisnya dengan berbagai macam ocehan. Namun kalimatnya tertahan ketika ia melihat Mia nyaris pingsan di tempat tidur.

"Mia, kau kenapa?" tanyanya panik sambil merasakan suhu tubuh anaknya. "Ya ampun, panas. Kenapa bisa sakit begini?"

Mia tak menyahut, ia hanya memperhatikan kepergian ibunya yang panik untuk mengambil obat dan makanan. Sedangkan tangannya terulur untuk memeriksa ponsel. Seperti biasa, jika ia telat mengirim pesan pada Kyungsoo, maka kekasihnya akan mengiriminya lebih dulu.

Kyungsoo bilang hari ini ia akan berangkat kerja, jadi mungkin ia takkan bisa membalas pesan Mia tepat waktu. Mia tersenyum, melihat pesan yang berarti Kyungsoo perlahan bisa menyibukkan diri. Di samping tetap mengabarinya sebagai kekasih Mia.

"Hari ini aku harus menemui Geun Hyung harabeoji," gumam Mia sambil meletakkan ponselnya. Ia sudah janji akan membawakannya kimchi yang Mia buat sendiri, sambil mencoba untuk mencuri perhatian Hyo Jin.

Biar bagaimanapun, Mia tak ingin ibu Kyungsoo ini tak menyukainya. Karena ia adalah kekasih anaknya, jadi Mia harus melakukan pendekatan supaya perlahan keberadaannya diterima dengan baik di keluarga Kyungsoo.

Sedangkan di sisi lain, Geun Hyung mulai selalu mempertanyakan pada anggota keluarganya. Barangkali Mia sudah datang ke rumah atau belum, dan itu membuat Hyo Jin tak nyaman.

"Harabeoji lebih baik istirahat, tadi kan memaksakan diri untuk menyirami halaman." Geun Hyung menolak suruhan Hyo Jin, ia tetap duduk di ruang keluarga menunggu Mia. Seseorang yang akan membawakannya kimchi -yang kata Mia rasanya pasti diusahakan mirip dengan Yuh Jung, mengingat ia pernah mendapatkannya dari mendiang istrinya-.

"Aku akan menunggu."

"Ini sudah hampir siang, harabeoji menunggunya sejak pagi. Daripada hanya duduk, mending istirahatkan tubuhmu," ujar Hyo Jin sedikit memaksa. "memangnya apa istimewanya kimchi buatan dia?"

"Tak ada." Hyo Jin menghela napas, sempat melirik Irene dan Du Ling yang posisinya tak jauh dari ruang keluarga. Mereka menatap takut pada Hyo Jin yang selalu sensitif jika Mia menjadi bahan obrolan.

"Lantas?"

"Tapi niatnya, Hyo Jin. Anak itu mau membuatkan kimchi untukku dengan rasa yang mirip dengan Yuh Jung." Hyo Jin mendengus, ia sudah tak mengerti kenapa orang-orang rumah begitu menyukai Mia yang karakternya saja sangat tidak menunjukkan perempuan pada umumnya.

Tak lama Irene mendapat pesan setelah menyaksikan obrolan antara mertua dan menantu itu. Kyungsoo yang mengirimnya, ia bertanya apakah Mia datang ke rumah atau tidak. Pasalnya Shin Hye baru saja menghubungi Kyungsoo kalau anaknya tak ada di kamar padahal pagi tadi jelas-jelas sedang meriang.

Belum sempat membalas, pintunya diketuk seseorang. Irene beranjak untuk membukanya dan ia mendapati Mia dengan wajah memerahnya karena demam sedang tersenyum lebar serta mengacungkan sebuah bingkisan.

"Jjang! Eonnie, harabeoji ada di dalam? Aku membuatkannya kimchi!"

Irene merasakan firasat buruk mengingat kakek serta Hyo Jin baru saja berdebat tentang dirinya.













Guys ...?

Paper WallTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang