Anthony 17 tahun. Reza 14 tahun. Fani 4 tahun.
Rian menatap sekitarnya dengan kesal. Matanya menyiratkan emosi yang berusaha ditahan.
"Bunda kenapa?" Tanya Anthony.
"Gapapa." Senyum Rian. Ia kembali melanjutkan jalannya dengan Fani.
"Bunda mau beli boneka," Ujar Fani.
"Kan kemarin abis beli mainan,"
"Tapi mau boneka pikachu," Fani merengut lucu.
"Iya boleh. Beli sama Bunda ya? Ayah sama Aa' sama Abang mau lihat sepatu dulu." Sela Fajar.
Rian melirik Fajar. "Manjain aja terus anaknya,"
"Kamu juga manjain Onik sama Ejak terus waktu kecil." Fajar membuka dompetnya. "Nih, pakai aja." Kemudian mengulurkan unlimited black card nya.
"Gitu dong." Rian tersenyum. "Beli jam baru ya."
"Terserah. Ayo A', Dek." Fajar melangkah pergi dengan Anthony dan Reza.
Rian menuju kidz station dengan Fani. Mencari boneka pikachu.
"Bunda mau ini!" Fani mengambil boneka berwarna kuning yang kecil.
"Ini aja? Ga yang besar?"
"Nda mau. Mau yang kecil,"
"Yaudah yuk. Bunda abis ini mau beli jam dulu sebelum nyusul Ayah."
Setelah Rian dan Fani membeli jam, mereka menyusul Fajar dan Anthony serta Reza di sport station.
Tapi pemandangan yang ada membuat Rian kesal. Fajar sedang memilih sepatu sendiri tapi ada beberapa perempuan yang sepertinya sengaja di sekitarnya.
"Fani, datengin Ayah duluan sana. Minta gendong." Bisik Rian.
"Kenapa?"
"Udah sana. Nanti Bunda beliin Yupi."
Fani berjalan mengikuti perintah Rian. Setelah sampai di dekat Fajar, Fani menarik celana jins hitam yang dikenakan Fajar.
"Ayah,"
"Loh Fani udah disini? Bunda mana?"
"Nda tau, Ayah gendong," Fani mengulurkan tangannya.
Yang disekitar Fajar berbisik, "Udah punya anak ternyata,"
"Anaknya masih kecil, masih muda kayaknya,"
"Pepet bisa ga nih?"
Dan bisikan-bisikan lain yang membuat Rian semakin geram.
Ia segera melangkah, melingkarkan tangannya di lengan Fajar yang sedang memegang sepatu. Membuat perempuan disekitarnya menjauh.
"Anak-anak kemana?"
"Gatau, lagi lihat sepatu juga mungkin," Fajar mengambil sepatu adidas berwarna biru. "Bagus ga?"
