Anthony 20 tahun. Jonatan 19 tahun.
Guru privat.
"Gimana udah ngerti?"
Perempuan di hadapan Jonatan mengeryit, lalu menggeleng. "Aku masih ga ngerti sama yang ini," Tunjuknya di salah satu soal.
"Gini loh-" Jonatan dengan sabar mengajari adik tingkatnya. Si perempuannya juga dengan sengaja mendekat ke arah Jonatan, dengan dalih supaya bisa lihat tulisannya.
"Gimana?"
"Udah! Makasih ya Kak, di ajarin Kak Jonatan bikin gampang paham daripada dosennya langsung,"
"Gampang paham kok 2 jam," Sebuah suara menyahut. Diikuti laki-laki yang duduk di depan Jonatan.
"Eh, Kak Onik, udah selesai kelasnya?" Tanya Jonatan.
"Udah dari sejam yang lalu," Jawab Anthony ketus.
"Kak Onik, maaf ya Kak Jojo nya aku pinjam, kelamaan ya Kak?"
"Udah tau masih nanya," Anthony memutar mata malas. "Jauhan tolong, bukan di angkot ini,"
Mendengar nada sinis Kakak tingkatnya membuat perempuan di sebelah Jonatan menjauh. Buru-buru mengambil tasnya dan membereskan buku, "A-aku duluan ya Kak, makasih Kak Jojo buat bantuannya,"
Jonatan tersenyum sopan. Sedang Anthony mendengus malas.
"Kak-"
Anthony tiba-tiba berdiri, "Mau kemana Kak?"
"Pulang. Ngeliatin orang modus bikin laper!"
Jonatan buru-buru meraih tasnya dan mengejar Anthony. "Kak-" Tahannya.
"Apa?!"
"Galak ish, kenapa sih?"
"Dibilang laper!"
"Iya tapi jalannya jangan cepet-cepet dong, masa Jojonya ditinggal?"
"Bodo!" Anthony melanjutkan jalannya. Membuat Jonatan menahan tangan Anthony lagi.
"Kakak- cemburu?"
"Mana ada!"
"Kalo ga cemburu, kenapa tiba-tiba marah?"
"Aku laper!" Anthony memukul lengan Jonatan.
Jonatan meringis, "Pacarnya ini kalo laper plus cemburu galaknya kayak anak singa, nyeremin,"
"Tadi bukan siapa-siapa kok, cuma minta ajarin kalkulus aja,"
"Emang aku nanya?!" Ujar Anthony sadis.
"Ya kan Jojo mau jelasin, abis Kak Oniknya marah gitu,"
Melihat wajah kekasihnya yang melas membuat Anthony melunak. "Kan ga harus sedeket itu juga," Lirih Anthony.
"Dia yang deket-deket kok,"
"Tapi kamunya ga ngelarang!"
